
"Ya ampun kamu kenapa kayak gini?" Dira melihat wajah Rian babak belur.
"Anu, sayang. Tadi ada Arjuna mendatangi kantor aku sambil marah-marah." Jawab Rian sambil merintih saat Dira memeriksa lukanya.
"Masa?" Dira meragukan cerita Rian.
"Saya tidak tahu ada masalah apa dia sama saya. Tapi yang pasti aku menangkap kalau Juna tidak suka sama saya. Lebih tepatnya dia cemburu sama saya."
Dira hanya mendengar cerita versi Rian. Helaan nafas berat terdengar dari rongga mulutnya. Dia juga kaget mendengar cerita versi Rian.
"Sayang, aku mau dengar dari kamu."
"Maksudnya?" Dira belum paham arah obrolan Rian.
"Kamu sama dia..."
__ADS_1
"Aku sama dia nggak ada apa-apa, Rian. Mungkin dia begitu karena dari kecil kami terbiasa sama-sama. Kamu tahu nggak, Kak Juna itu cowok yang akan tunangan sama sahabatku minggu depan. Sahabatku itu anaknya Tuan Shahab. Jadi nggak mungkin dia ada rasa sama saya. Tapi makasih, ya. Atas cemburunya." Dira tersenyum kearah Rian.
Dira kembali menempelkan obat di bagian dagu Rian. Beberapa kali Rian merintih kesakitan, membuat wanita tersenyum simpul.
"Kamu ternyata kalah juga dari Arjuna. Kata Eka kamu sabuk hitam."
"Ya, dia spontan ... aku nya kaget. Kalah deh, lagian api di lawan sama api nantinya nggak ada yang kalah. Mending aku jadi air saja yang berguna memadamkan api.
Jika kita menghadapi orang yang emosi, maka tidak jalan keluar dalam permasalahan. Jangan ikutan emosi juga, masih ada jalan lain yaitu mengalah."
"Tapi jangan juga kalah terus, Rian. Ada kalanya kekalahan menempus masa batasnya. Perlu diingat, mengalah bukan berarti kalah. Terkadang, sikap mengalah menjadi solusi untuk meredam dan mengakhiri sebuah konflik. Memang sulit untuk mengalah, apa lagi kita harus mengalahkan ego sendiri."
"Hmmmm... ada mau nya ini...Udah ah, kamu pulang. Nanti di cariin sama tante Arumi."
"Mama Arumi,sayang. Kan bentar lagi kita bakal nikah. Jadi kamu harus biasakan diri." Rian mengelus wajah Dira.
__ADS_1
Rian berdiri di depan pintu rumah kediaman dewi savitri. Sambil melambaikan tangan lelaki itu berjalan menaiki motor gedenya. Lama Dira memandang lama motor Rian. Helaan nafas berat menerpa dirinya. Tak lama tersungging bulan sabit di bibir manisnya.
Mencari yang sempurna itu susah. Sama saja mencari berlian yang terpendam di dalam pasir kerikil. Aku rasa ini saatnya melupakan perasaan sama kak Juna. Mungkin selama ini aku terlalu bawa perasaan. Ya, namanya perempuan jika dikasih harapan akhirnya kejebak juga.
"Aku mencintai kamu, Dira. Perasaan itu tumbuh seiring kebersamaan kita satu tahun ini. Aku sadar sikap akan menyakiti banyak pihak, tapi ini yang aku rasakan. Aku..."
"Kalau memang kamu tidak mencintaiku, kenapa setiap kita berbicara kamu tidak pernah mau memandangku? kenapa sejak saat aku melamarmu, kamu terus menghindari aku? Jawab Dira!"
Ucapan Juna kembali menari di pikirannya. Dira terus memukul kepalanya agar melupakan Arjuna. Bukan dia sudah punya Rian yang jauh lebih baik dari Arjuna. Jadi buat apa dia memikirkan lelaki itu. Mending dia fokus dengan Rian.
Ting tong
Dira turun dari tangga rumahnya ketika mendengar suara bel rumahnya. Saat ini dirinya sedang sendirian dirumah.
Ceklek!
__ADS_1
"Diraaaaa .... selamat ya, akhirnya kamu dan Rian lamaran juga. Gitu dong, coba dari dulu kayak gitu."
"Eka..."