Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 143


__ADS_3

Udara sore ini terasa dingin. Saking dinginnya terasa ke pori-pori kulit. Dira menarik selimut. Bawaan hamil membuatnya sering mengantuk apalagi dengan udara sedingin menusuk tulang.


Udara dingin ini efek satu minggu ini Jakarta di terpa hujan yang tak kunjung berhenti. Subuh hujan, siang sampai sore pun masih hujan. Sesekali memandang ke samping, ranjang yang kosong karena hanya dia sendiri di kamar.


"Mas Juna kok belum pulang, ya?" tanya nya dalam hati.


Dira tadinya ingin menghubungi Juna yang katanya ada pertemuan dengan kliennya. Masih terhubung dengan jabatan sebagai bos pabrik teh di Lembang. Sebagai seorang istri dia hanya bisa mendukung apa yang akan di kerjakan suaminya.


Namun yang bikin Dira dongkol suaminya tidak pergi sendiri, melainkan bersama Maria, sekretarisnya. Tadi kata Arjuna, awalnya Tio yang akan menemaninya. Tapi karena Ayu tidak mau di tinggal, maka Maria lah yang menggantikan.


Dira membuka selimut, lalu turun dari tangga. Dilihatnya rumah begitu sepi. Tak ada siapapun disana. Dira membuka kamar Vira. Sejak Dira pulang, Vira kembali menempati kamar lamanya. Sementara rumah Dira dan Juna sekarang di kontrakkan.


Vira juga tak ada di tempat. Dira menebak kalau Vira belum pulang dari kampus. Diliriknya jam dinding di kamar Vira. Masih menunjukkan pukul 4 sore. Tapi kenapa sang adik tidak pulang padahal sekarang musim hujan.


ting tong...


Suara bel rumah berbunyi. Dira dengan santai berjalan menuju pintu utama. Dia juga penasaran siapa yang datang ke rumahnya sore-sore begini. Sebelum membuka pintu, Dira melihat tamunya di monitor.


"Delia?" batin Dira.


"Tumben dia kesini ada apa ya?" masih dalam membatin.


Dira langsung membuka pintu. Seramah mungkin dia menyambut tamunya. Apalagi ternyata Delia tidak sendiri. Dia bersama Rian.


"Dira..." Delia langsung memeluk sahabatnya.


"Kamu apa kabar, Del?"


"Alhamdulillah baik, bagaimana kuliah kamu,Ra. Katanya kamu ngambil S2 di kampus swasta, ya? kenapa nggak ambil negeri aja sih." Delia terus mencerocos sambil masuk ke rumah tanpa instruksi si pemilik rumah.


Dira menoleh ke arah Rian. Seakan minta penjelasan atas sikap Delia.


"Nanti aku jelaskan," bisik Rian.


"Ra, ..." Delia berdiri mematung ketika netranya terhenti pada sebuah photo besar.


"Iya,.."


"Jadi kamu dan kak Juna ..." Delia memegang dadanya. Rasanya sesak sekali melihat photo itu. Seperti belati yang menusuknya berkali-kali.


"Bukannya kamu sudah tahu?" Dira masih belum paham dengan yang terjadi pada Delia. Kenapa Delia mempertanyakan pernikahannya dengan Arjuna.

__ADS_1


"Bi, ..." panggil Dira.


"Iya, non." jawab bibi


"Tolong buatkan minum untuk mereka ya?"


"Baik, non."


"Satu lagi,Bi. tolong buatin dimsum isi kornet ya. Lagi kepengen nih?"


"Buatnya gimana,non. Bukannya non Dira yang sering bikin dimsum?"


"Bibi kan tahu, masuk dapur saja aku sudah mual. Gimana mau masaknya."


"Oalah, Lanang ini." bibi cekikikan mendengar keluhan Dira akibat ngidamnya.


"Bisa kita bicara?" Rian sedari tadi hanya jadi kambing congek antara Dira dan si bibi.


Rian dan Dira duduk di teras rumah. Sambil menunggu si bibi membawakan kudapan untuk tamunya.


"Tolong jelaskan sama aku, kenapa Delia seperti itu. Dia bersikap seolah masih single. Padahal sudah menikah. apa yang terjadi, Rian?" Dira duduk menghadap Rian.


"Sebelumnya maaf kalau kedatangan aku dan Delia mengganggu aktivitasmu. Ini karena Delia hanya ingat yang terjadi beberapa tahun silam. Dia bahkan tadi menanyakan kenapa tinggal dengan aku, bahkan menanyakan kedua orangtuanya."


"Delia mengidap...." Rian mencoba menarik nafas.


"Alzheimer." sambungnya.


Dira mengatupkan kedua tangannya. Kaget dengan yang dialami sahabatnya. Ada rasa empati yang dirasakannya. Dira memandang Delia yang asyik melihat kebun bunga milik mama Dewi.


"Tante Dewi kemana, Ra?" tanya Delia yang berbaur dengan Rian dan Dira.


"Mama pergi bersama kak Feri. Malam ini kak Feri mau melamar kak Mayka, kakaknya kak Meyra." jelas Dira.


"Loh, jadinya poligami dong. Nikah dua beradik."


"Del, Kak Meyra sudah meninggal lima tahun yang lalu."


"Iyakah, kok kamu nggak ngabarin? Eka dan Ayu juga nggak cerita. Gimana sih kalian sama aku berita seperti ini nggak di kasih tahu."


"Oh ya, Eka sudah nikah belum sama Wandi. Kamu kan tahu dulu Eka sempat di jodohkan dengan kakakku."

__ADS_1


"Mereka sudah menikah, Ra. Malah sudah punya anak." jawab Dira.


"Nah, kan mereka menikah pun nggak ada kabari aku. Kalau aku tahu kan bisa pulang dari London."


"Kamu juga, Ra. Kenapa kamu nggak bilang kalau sudah nikah sama kak Juna. Kenapa kamu tega nusuk aku dari belakang, Ra. Kamu kan tahu kalau aku..."


"Sebelum aku nikah sama kak Juna, kamu yang lebih dulu menikah dengan Rian, Del. Jadi ngapain kak Juna menunggu wanita bersuami. Sebelum kamu nikah sama Rian, kalian sudah putus." suara Dira terdengar lantang.


"Dira!" Rian tidak suka cara Dira bicara pada istrinya.


"Maaf, Rian. Aku bicara seperti ini sebagai seorang istri yang ingin melindungi rumah tangganya. Kamu tahu kan kalau Delia sangat terobsesi dengan suamiku. Jadi wajar aku mengingatkan Delia sebagai posisinya saat ini."


"Tapi Delia itu sedang sakit. Jadi mohon pengertiannya."


Dira tersenyum kecut. Apakah penyakit bisa jadi pembelaan. Dira menggeleng. Dia tidak setuju dengan pemikiran pendek Rian.


"Aku juga mohon pengertian juga dari kamu, Rian. Kalau memang Delia sakit kamu harus berusaha mengobati penyakitnya. Bukan menuruti keinginannya. Kamu itu suami, kepala rumah tangga. Harusnya kamu yang membimbing Delia. Bukan menuruti keinginannya."


"Aku tidak sakit,.Dira. Aku sehat, kenapa kalian bilang aku sakit." Delia menengahi pembicaraan panas antara Rian dan Dira.


"Sekarang saya minta kalian keluar dari rumah. Tolong saya mohon." Dira merasa kepalanya sedikit pusing.


"Rian, sepertinya Dira pucat sekali. Tolong bantu dia." kata Delia.


Dira merasa susah meneruskan jalannya. Rian langsung mengangkat tubuh Dira dan membawanya ke kamar.


"Non Dira kenapa?" Bibi kaget melihat Dira di gendong.


"Kak Dira kenapa? apa yang kalian lakukan pada kakakku." suara Vira terdengar lantang melihat dua orang yang dia benci.


"Apa yang kalian lakukan pada kakakku?" Vira kembali mengulangi ucapannya.


"Sekarang saya minta kalian pergi dari sini. Sebelum kesabaran saya habis. Bisa-bisanya kalian melakukan ini sama kakakku. Terutama anda nona Delia, masih untung kakak saya tidak menuntut kamu buat masuk penjara. Karena semua yang kakak saya alami andalah dalangnya." amuk Vira.


"Maksud kamu apa?" Delia bingung kenapa dia yang di salahkan.


"Vira... Vira ... tolong nanti akan saya jelaskan." Rian mencoba menenangkan Vira sudah terlanjur emosi.


Rian menarik Vira menjauh dari Delia. Tentu saja dia akan menjelaskan soal penyakit yang diidap istrinya.


Setelah menjelaskan pada Vira, Rian pun meminta maaf pada Vira.

__ADS_1


"Apapun penyakitnya, bukan jadi alasan kalian menyakiti orang lain. Dan maaf, saya minta tinggalkan rumah ini sekarang juga."


__ADS_2