
Satu bulan setelah menikah dengan Arjuna, Dira kembali disibukkan dengan rutinitas di kantor. Saat ini Dira dan Juna tinggal di salah satu perumahan di pusat kota. Juna sekarang meneruskan usaha pabrik teh milik Johan. Dia dan juga Tio, adik iparnya, bahu-membahu membangkit pabrik yang sempat mati karena kasus tuan Shabab.
Meskipun berkarir Dira tidak melupakan tugasnya sebagai istri. Sebelum berangkat kerja dia memasak terlebih dahulu. Terkadang dia pulang kerja kembali menjadi ibu rumah tangga. Juna sering bolak-balik Jakarta Bandung, karena pabriknya berada di daerah Lembang.
Sore ini Dira duduk di teras rumahnya. Sambil menikmati udara senja yang terasa sejuk. Ditemani secangkir teh dan beberapa cemilan. Dira menghirup udara segar dalam-dalam. Merindukan suasana di rumahnya.
Saat ini Dira memang sedang berkunjung ke rumah mamanya. Kamar balkon Dira saat ini di tempati Vira. Sambil menunggu Juna menjemput dirinya. Dira memasuki kamarnya yang dulu.
"Tumben kamarnya Vira rapi. Ada kemajuan juga adikku ini." gumamnya dalam hati.
"Kak Dira kesini nggak ngabarin?" sahut Vira yang tiba-tiba muncul di belakangnya.
"Ngagetin aja kamu, Vira." kata Dira sambil mengelus dadanya.
"Lah, gitu aja kaget. Hati-hati salah gejala jantung. Kasihan kak Juna keburu jadi duda." ucap Vira sambil tertawa.
PLETAAAKKK!
"Senang banget doain yang jelek-jelek." omel Dira.
Vira yang awalnya meringis karena di getok kakaknya, akhirnya kembali tertawa melihat wajah masam kakak perempuannya.
"Kangen banget sama kak Dira." Vira memeluk sang kakak sebagai rasa rindunya.
"Sama, kakak kangen banget dengan kamu, dek. Bagaimana kondisi rumah? aman, kan?" tanya Dira.
"Aman, kapten!" ucap Vira sambil memberikan tanda hormat kepada Dira.
"Alhamdulillah, terimakasih sudah menjaga kamarku dengan baik." Dira mengusap kepala adiknya dengan lembut.
"Sama-sama,kak. Ternyata disini enak juga." Vira memandang berdiri menghadap balkon. Tampak kamar di depannya sudah terang benderang.
__ADS_1
"By the way busway, itu kamar mas Juna siapa yang nempati. Cowok apa cewek?"
"Cowok, tapi masih kecil. Masih sekolah." jawab Vira datar.
"Oh, cakep dong." goda Dira.
"Secakep-cakepnya cowok yang namanya masih anak-anak ya begitulah. Biasa aja." jawab Vira.
Mama Dewi terdengar suaranya melengking dari bawah. "Dira, Vira, makan dulu, nak. Mama masak special untuk pengantin baru."
Dira beranjak dari kamar balkonnya. Di susul dengan Vira yang sebelumnya ke toilet terlebih dahulu. Mama Dewi tersenyum melihat putrinya sekarang lebih berisi.
Dira duduk disamping Vira. Matanya melirik arlojinya, mengingat suaminya berjanji mau menjemput. Namun sampai saat ini, lelaki itu belum tampak batang hidungnya.
"Juna mana?" tanya Feri yang melihat adiknya sendiri tanpa suaminya.
"Mas Juna ada pertemuan di daerah bogor. Katanya perusahaan opa mau bekerja sama dengan pabrik milik papa Johan." cerita Dira.
"Maria Selena?" tebak Feri.
"Mungkin, kak. Aku nggak terlalu paham." Dira mulai mencicipi ikan bakar. Tapi ternyata dia tidak suka aroma ikan tersebut.
"Tapi bukannya usianya Maria sama dengan kakak dan juga Juna. Dan pastinya Maria sudah menikah. Kenapa Juna tidak membatasi usia pekerja yang masuk kantor. Semisal biasanya batasan usia sekretaris maksimal 25 tahun. Aku yakin Maria sudah lewat dari batas usia tersebut." kata Feri.
"Mas Juna bilang sekretarisnya masih single belum menikah. Dia juga menerima kak Maria karena permintaan orangtua kak Maria. Tahu sendirilah kak mas orangnya gimana? gampang nggak enakan sama orang lain." jelas Dira.
"Ma, simpan ikan bakarnya aku nggak suka baunya." keluh Dira.
Mama Dewi kaget, biasanya Dira doyan ikan bakar. Anehnya Dira menolak makanan favoritnya.
"Tumben nggak suka ikan bakar?" sahut Feri.
__ADS_1
"Ma, Dira ke kamar dulu, ya. Kepalaku pusing." Dira keluar dari ruang makan dan berlari ke kamarnya.
"Ma, jangan-jangan Dira...." tebak Feri.
"Jangan-jangan aku mau punya cucu." ucap mama Dewi riang.
"Berarti pupuknya cocok,ma." jawab Feri.
Vira menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kak Feri apaan sih? mama kan bilang kalau kak Dira itu tandanya hamil. Kok malah bilang soal bercocok tanam. Nggak nyambung?"
"Buat kamu ya belum nyambung, Vira. Belum cukup umur buat paham yang kayak gini." Feri terkikik melihat kebingungan adiknya.
Dira merebahkan tubuhnya di kamar balkonnya. Kepalanya mendadak pusing setelah menghirup wangi ikan bakar. Dira mengusap kepala dengan minyak angin aromatherapy cap kapak. Pusingnya sedikit berkurang, dia pun memilih memejamkan matanya.
Tiba-tiba dia berlari ke kamar mandi.... .
klik
Disebuah cafe kecil tengah kota, dua lelaki beda generasi duduk sambil berbincang ringan seputar keseharian mereka. Alif duduk sambil menikmati udara senja serta angin yang berhembus sedang namun menyejukkan.
Lelaki yang kedua adalah Amran, sang ayah tak kalah kece dari putranya. Mereka memilih pergi ke cafe untuk sekedar melepas penat. Karena kasus yang mereka hadapi mandek.
"Jadi papa yang bebasin mantan suami kak Tina. Papa tahu kan akibatnya sekarang? dia malah menggerecoki kak Tina. Ini fatal, pa!"
"Papa bebasin dia karena dia memang sudah habis masa hukumannya. Kita perlu dia untuk menjadi bukti kasus ini. Kalau soal dia gangguin Tina, ya mungkin karena dia masih merasa punya hak sebagai suami."
"Tapi, apa yang terjadi, pa? kak Tina jadi trauma, kak. Dia bahkan enggan keluar rumah. Nggak bagus juga,pa. Kita masih butuh kak Tina sebagai saksi dan penggugat."
Amran hanya terdiam. Dia punya rencana tersendiri pada kasus ini. Hanya saja dia enggan cerita pada Alif. Dia tahu pikiran Alif sangat lurus. Maka daripada nanti di tentang, Amran memilih menjalankan rencananya sendiri.
__ADS_1
"Aku hanya memperjuangkan hakku. Perusahaan itu milik orangtuaku, bukan milik ayahnya Tina. Selama ini aku hanya menjadi orang kedua di keluargaku sendiri. Mereka lebih sayang dengan anak pungut itu. sampai ayahku mewariskan perusahaan kepadanya."batin Amran.