Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 81


__ADS_3

Dira mencoba memejamkan matanya. Namun ternyata dia susah sekali melakukannya. Hatinya gelisah, sebentar duduk sebentar di baringkan. Sesekali mengacak rambutnya yang ikal.


Matanya melirik boneka Little poni yang seukuran dengan bantal. Seakan menemukan teman bicara, Dira menatap boneka kado wisudanya dari Arjuna.


"Poni, kenapa aku seperti ini, ya?"


"Kamu tahu, poni. Aku sudah berusaha menerima Rian, belajar mencintainya, aku juga sudah berusaha melupakan kak Juna meskipun susah sekali. Tapi kenapa aku seperti korban debt kolektor yang di kejar-kejar untuk lunasi hutangnya."


"Ya, mungkin karena aku masih tinggal disekitar sini, ya. Dimana setiap sudut, setiap tempat akan ada kenangan aku bersama kak Juna dan juga Rian. Walaupun lebih banyak bersama kak Juna daripada Rian. Tapi aku pengen hidup tenang.


Apa aku harus menerima permintaan opa Han untuk tinggal bersamanya. Bisa jadi tidak akan ada kenangan yang mengingatkan aku sama mereka."


Dira meletakkan boneka Little poninya di atas nakas. Kaki turun ke lantai untuk berjalan menuju teras depan. Paling tidak duduk di gazebo bisa membuat hatinya tenang. Tampak suasana rumah sudah mulai sepi, Dira menebak kalau orang-orang sudah pada istirahat. Matanya melirik ke jam dinding, masih jam setengah sembilan tapi sudah terasa seperti tengah malam.


Langkah kaki terhenti melihat sepasang anak manusia yang tertawa riang. Dira memutar balikkan tubuhnya namun terdengar suara menyapanya.


"Kak,"


Dira menoleh kearah pemilik suara. Terbitlah senyum meskipun di paksakan.


"Kak, aku ngantuk. Kakak temani kak Juna sebentar ya. Bentar lagi dia mau pulang."


Dira membulatkan matanya. Jam segini seorang tamu masih bertandang di rumahnya. Apa kata tetangga nantinya. Dira makin kesal karena Vira main tinggal saja. Dengan terpaksa dia berjalan menuju kearah tamu adiknya.


"Ini sudah malam, kak. Sebaiknya kakak pulang."


"Ra," Dira merasa ada yang menahan tangannya.


Lagi-lagi dia mencoba menepis semuanya. Jantungnya berdegup kencang saat tangan itu mendarat di lengannya.


Oh Tuhan tolong!


"Aku mau ngomong sebentar." suara bariton itu sudah terasa dekat. Dira berbalik ternyata tubuh Juna sudah berjarak 2 centi dari pandangannya. Dira menelan salivanya, degup jantung semakin terasa cepat.


Sontak Dira melepaskan tangan Juna dan menjauh dari tubuh lelaki itu. Perasaannya makin tidak karuan, dia ingat semuanya. Tentang Juna yang sudah menghempaskan harapan yang di pupuk sejak kecil. Tentang Juna yang tidak akan bisa dia dapatkan. Semua itu terus memutar di memori otaknya.


"Ra, aku cuma mau bicara sama kamu sebentar saja. Sebelum aku harus menerima sosok yang akan di jodohkan kerabat orangtuaku. Aku hanya ingin memastikan apakah apa yang aku rasakan sama. Apakah hanya aku yang merasa masih mencintaimu? atau mungkin sebaliknya.


Kamu tahu, Ra. Aku sudah tahu semuanya. Aku sudah tahu kalau selama ini bukan Delia yang memberikan sinyal cinta padaku, tapi kamu, Dira. Maaf kalau aku terlambat menyadarinya. Maaf kalau aku lama memberikan respon atas apa yang terjadi diantara kita."

__ADS_1


Dira masih membisu. Dia memilih hanya menundukkan kepalanya. Tak ingin lagi banyak berharap dengan Arjuna, lelaki yang dia cintai sejak kecil. Dira berjalan menjauhi Arjuna.


"Ra, aku mencintaimu. Aku serius sama kamu. Aku ingin mewujudkan cita-cita kamu dulu yaitu menjadi istriku."


Dira berbalik menatap Juna dengan malasnya. Seakan dia sudah lelah dengan kata-kata itu. Tadi Juna bilang padanya kalau lelaki itu akan dijodohkan kerabatnya, dan sekarang bilang cinta padanya.


"Bukannya kak Juna bilang akan di jodohkan dengan pilihan keluarga. Kenapa kakak malah bilang cinta sama aku, please ya kak Arjuna Bramantyo, saya bukan buat pelarian. Dulu kakak mendekati saya karena Delia hilang tanpa kabar. Semua runyam karena kak Juna, orang-orang memusuhiku, Rian memutuskan hubungan, itu semua karena siapa? karena kakak! Jadi please jangan bawa perasaan lagi."


Tidak Dira, kamu bohong! matamu tidak mengatakan itu. Jangan tutupi perasaanmu. Aku tahu kamu mencintaiku. Batin Juna.


Dira berjalan menuju pintu rumahnya. Beberapa saat berbalik kembali ke arah Juna.


"Mulai sekarang jangan ganggu aku lagi. Kakak teruskan kehidupan, demikian juga aku. Aku sudah menerima perjodohan dari kakekku dan kakak juga menerima calon dari kerabat kak Juna. Itu sudah menggambarkan kalau kita memang tidak bisa bersama. Itu sudah menggambarkan kalau aku dan kakak tidak akan bisa bersatu. Jadi sekarang saya minta kak Juna pulang. Keluarga kakak pasti cemas jika anaknya belum pulang apalagi jam segini seharusnya tidak bisa menerima tamu lagi."


"Baiklah, kalau itu mau kamu! aku akan menerima calon dari keluargaku. Semoga kamu dan pilihan kakekmu bahagia. Aku pamit, maaf jika selama ini aku menyakiti perasaanmu. Maaf jika selama ini aku tidak pernah peka dengan perasaan ini.


Assalamualaikum."


Juna duduk di dalam mobilnya. Melampiaskan semua yang ada di benaknya. Sesekali menjedotkan dahinya di atas setir mobil. Sesak rasanya melihat sikap Dira yang masih ketus. Seandainya waktu bisa dia putar, ingin rasanya merubah keadaan, tidak ada perasaannya pada Delia, tidak ada perjodohan dengan Delia.


Juna kecil: Dira kamu punya cita-cita?


Juna kecil: Apa itu cita-citamu, jadi dokter, insinyur, atau jadi presiden?


Dira kecil : Aku mau jadi istri kak Juna.


Juna kecil :Kenapa harus aku?


Dira kecil: Kan namanya juga cita-cita, kak Juna itu selalu ada buatku, beda dengan kak Feri. Kakak itu adalah pahlawanku.


Juna kecil: Oh, ya. kakak janji akan selalu ada buat Dira.


Dira kecil: (Wajahnya berbinar) janji?


Juna kecil: ( tangannya menautkan di kelingking Dira) janji.


Dira dan Juna: selalu bersama dan keadaan apapun.


Juna mengingat masa kecil mereka. Dimana saat itu dia sudah berjanji akan selalu ada buat Dira. Dimana saat Dira datang ke pensi sekolahnya dalam keadaan pucat, dia merasa sangat mencemaskan gadis itu. Tapi saat itu kepekaannya masih tumpul. Dia merasa saat itu perhatiannya berdasarkan janji kecilnya.

__ADS_1


Dan kini aku menyadari itu bukan janji melainkan rasa cinta.


Dira duduk didinding pintu kamarnya. Menyadari ucapan tak selaras dengan kata hatinya. Tapi dia harus tegas, apalagi sudah terlanjur menerima permintaan opa Han. Dia tidak mau berlarut dalam perasaannya pada Juna. Siapa tahu lelaki pilihan Opa-nya lebih baik dari Arjuna.


Juna telah sampai dirumah Jamal. Wajahnya tampak kusut seperti sebelum di seterika. Sepertinya Jamal tak ada di rumah, Juna pun duduk di teras depan rumah Jamal. Tangannya menari-nari di atas layar pipih. Helaan nafas seakan memperlihatkan keputusannya terasa berat. Tapi mau bagaimana lagi, gadis itu sudah menolaknya.


"Assalamualaikum, ma"


"Waalaikumsalam, nak. Kamu sudah dikontrakan?"


"Sudah, ma. Juna sudah dirumah."


"Yaudah, kamu Istirahat ini sudah malam."


"Ma,"


"Iya,nak."


"Juna... Juna .."


"Ada apa, nak? sepertinya anak mama sedang galau."


"Ma, Juna mau menerima tawaran pak Burhan untuk di jodohkan dengan cucunya."


"Kamu yakin? bagaimana dengan Dira? pikirkan dengan kepala dingin, nak."


"Sudah, ma. Dira sudah mantap dengan pilihannya. aku nggak bisa maksa kalau dia tak mau."


"Yaudah, kamu sholat istikharah, atau mungkin kamu coba tahajud. Siapa tahu bisa menenangkan hatimu."


"Iya,ma."


"Assalamualaikum, Juna."


"Waalaikumsalam, ma."


Juna mengakhiri komunikasinya dengan mamanya. Dia sedikit tenang setelah diberi solusi oleh mamanya.


Mungkin benar kata mama, segala sesuatu kalau sedang hati panas tidak akan bagus akhirnya.

__ADS_1


__ADS_2