
Hujan deras membasahi kota Jakarta. Arjuna memakirkan mobilnya dari 10 rumah menuju ke kediaman Delia. Dia ingin membicarakan soal yang terjadi seharian ini. Tak perduli tubuhnya di guyur hujan, hatinya sudah terlanjur sakit dengan kejadian ini. Terlebih ucapan Dira yang dirasa seperti ditusuk belati.
"Cukup. Kakak tidak pernah punya perasaan apapun sama saya. Begitu pun saya, tidak ada perasaan khusus pada anda, Arjuna. Anda mendekati saya karena di gantung selama satu tahu oleh Delia. Itu artinya apa? Saya cuma buat pelarian. Jadi anda jangan mimpi bisa memperdayai saya. Permisi."
Juna berdiri di depan pintu kediaman Shahab. Rumah dengan ornamen istana arab menjadi tempat persinggahan bagi Arjuna. Dia mau minta penjelasan kenapa calon mertua memberhentikan dirinya di kantor Feri.
Pintu pertama di buka, tampak Delia menyambut calon suaminya. Delia terbelalak melihat Juna basah kuyup dengan tatapan kosong. Wanita itu menebak Juna banyak mengalami masalah.
"Kak Juna kenapa?" Delia mendapati Arjuna berdiri di depan pintu rumahnya.
"Del... aku ...."
BRUUUUUKK!
"Kak juna!" Pekik Delia saat lelaki itu pingsan di depan pintu.
"Kak okaaaaaa... Maaaamaaa...Tolong!" Delia memanggil orang dirumahnya untuk membantu menolong arjuna.
Semua yang ada di rumah tersebut berlari menuju pintu depan. Oka dan pak Tono ( Sopir keluarga Shahab) membopong Juna ke sofa ruang tengah. Banyak yang penasaran kenapa penampilan Juna sangat kacau.
"Juna di bawa ke kamar saya saja." Usul Oka. Pada akhirnya mereka membopong Juna ke kamar Oka.
__ADS_1
Delia duduk di samping ranjang. Dengan telaten dia mengontrol keadaan calon suaminya itu. Gurat kecemasan tergambar di wajah cantiknya.
"Bagaimana keadaan Juna?" Tanya mamanya Delia saat ikut menengok "Calon mantunya" Di kamar Oka.
"Masih belum sadar, Ma?"
Delia lagi-lagi mengalihkan pandangannya pada Arjuna. Tidak bisa di pungkiri Delia mengagumi Arjuna yang masih terlihat tampan meskipun sedang tertidur.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Apakah kak Juna kelelahan bekerja? Tapi bukannya kami hanya terima beres saja?"
Delia keluar kamar membiarkan Arjuna beristirahat di kamar sang kakak. Netranya memandang langit sore seperti sudah malam.
"Assalamualaikum, kak?" Sapa Delia pada si penerima telepon.
"Waalaikumsalam, Del. Ada apa?" Jawab suara bariton tersebut.
"Tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada kak Juna. Kenapa pas pulang kantor dia kacau sekali?" Tanya Delia.
"Sebaiknya kamu tanya langsung sama orangnya. Dengarkan apa yang dia katakan. Kenapa langsung tanya sama saya?"
__ADS_1
"Tapi, kak Feri..?"
Terdengar penutupan sambungan telepon dari seberang sana. Delia hanya bisa menghela nafas berat, berbagai pertanyaan terus bergulir dari pikirannya. Masih dengan tanda tanya apa terjadi? Kenapa Feri terdengar ketus pada dirinya?
Tangannya di lantunkan pada layar handphonenya. Tergerak hatinya menelepon Dira. Namun melihat tanggapan Feri membuatnya urung menghubungi temannya.
"Non, den Juna sudah sadar" Bibi mengabari kalau calon suaminya sudah siuan dari pingsannya.
Tanpa pikir panjang Delia langsung berlari menemui Juna di kamar Oka. Tampak lelaki itu masih membisu tak mengatakan apapun. Delia duduk disamping Arjuna, mengambil segelas air putih pada lelaki itu.
"Kak." Sapa Delia
Juna tak sedikitpun menoleh ataupun merespon sapaan Delia.
"Kak." Lagi-lagi Delia mencoba menyapa Arjuna.
Delia melihat wajah Juna yang pucat namun ada bekas luka di pelipis wajahnya.
"JANGAN KAMU SAKITI DIRA ITU PESANKU" Pekik Juna saat menghadang Rian di depan kantor rivalnya.
"SIAPA YANG MENYAKITI DIRA? SIAPA! SAYA CINTA SAMA DIRA."
__ADS_1
Sore itu setelah dia menemui Dira di rooftop kantor. Arjuna mendatangi kantor kerja Rian.