
Feri keluar dari rumah Tina. Masih banyak warga yang berkumpul di pelataran rumah Tina. Matanya mencari keberadaan Tina. Tampak Jamal berdiri di dekat para bapak-bapak.
"Mal," panggil Feri.
"Pak Feri disini juga." sapa Jamal.
"Saya memang berencana kesini. Tadi di jalan ketemu Mayka. Dan berpapasan dengan Amar yang seperti ketakutan. Makanya bisa sampai kesini." Jelas Feri.
"Oh, aku kira anda bareng kak Mayka. Bukankah anda calon suaminya kak Mayka." Jelas pria berusia 33 tahun tersebut.
Feri menghela nafas berat. Sesungguhnya dia ingin menyatakan perasaannya pada Tina. Walaupun Tina pernah menolak dirinya. Tapi entah kenapa dia yakin Tina juga punya perasaan yang sama.
"Sekarang Tina dimana?" tanya Feri.
"Dibawa Mayka pulang bersama Amar." jawab Jamal.
"Lalu si Glen di bawa kemana?" Feri kembali bertanya.
"Di balai siskamling. Apa mau kesana? saya juga mau kesana memberi pelajaran pada bajingan itu. Beraninya dia mengusik Tina-ku." kata Jamal yang tampak geram.
Feri tampak berpikir lama saat Jamal menyebut Tina seakan milik lelaki itu. Ada rasa panas berdesir di dalam dadanya. Seakan tidak suka ada orang lain yang mengklaim Tina itu milik mereka. Lelaki usia 29 tahun tersebut berjalan menuju poskamling yang letaknya tak jauh dari rumah Tina.
Para warga berkerumun. Mereka ingin tahu apa yang akan dilakukan petugas setempat untuk menghukum Glen.
"Alah ... Tina juga mau." bisik warga lain.
"Hoooh... sok-sokan bilang di nodai. Lah kan dia janda, emang sudah nggak lagi itu." celetuk ibu-ibu yang lain.
"Iya, sok playing victim."
Para warga menyebut kalau Tina juga perlu diadili. Bukan hanya si lelaki nya saja. Tapi sebagian dari mereka kecewa karena Tina pergi tanpa memberi penjelasan pada mereka.
"Assalamualaikum." sapa Jamal.
"Waalaikumsalam." jawab para warga berbarengan.
__ADS_1
Jamal memasuki area dimana Glen masih diikat oleh warga. Di susul dengan Feri yang mengekor di belakang Jamal. Mereka mendatangi tempat duduk Glen. Feri sudah tidak sabar menghajar Glen habis-habisan.
Feri tampak tidak bisa menahan marah. Meskipun dia memang tidak suka pada Glen sejak dulu. Namun apa yang sudah dilakukan lelaki itu pada Tina sudah tidak bisa di tolerir lagi.
BUGGH! .... BUUGH!
"Brengseknya kamu, Glen. Bisa-bisanya kamu melakukan ini pada Tina!"
Jamal yang melihat amukan Feri. Datang melerai. Dia melihat betapa marahnya Feri pada Glen. Dia melihat betapa besarnya rasa kekhawatiran Feri pada Tina.
"Brengsek kamu, Glen!" teriak Feri sambil menghajar Glen. Tangan Feri menghantam wajah mantan suami Tina.
Glen menahan perih di wajahnya. Masih dalam posisi terduduk dan diikat dia hanya bisa pasrah saat tangan Feri menghantam wajahnya. Jamal masih berusaha menenangkan Feri yang masih emosi.
"Kamu kenapa marah? Tina itu masih istriku. Kami masih suami istri jadi wajar kalau saya meminta hak saya sebagai suami." kata Glen.
"Hey! dengar, ya! kamu sudah menalak dia waktu masih dalam penjara. Kamu bahkan tidak pernah menafkahi Tina baik lahir dan batin. Sekarang kamu masih bisa bilang soal hak suami." Jamal angkat bicara.
"Kan aku tidak ngomong langsung. Jadi belum sah, kalau pakai surat. Dan kamu Feri! kenapa kamu semarah itu? apa kamu masih suka dengan Tina. Hahahahahaa .... kayak tidak ada perempuan lain saja. Yang begitu masih di kejar. Kamu tahu kalau Tina sama papa mu ...."
......................
Tina membuka matanya sedikit demi sedikit. Udara yang terasa begitu dingin membuatnya merapatkan selimutnya. Pelan-pelan dia bangkit menatap langit yang tanpa bulan. Terdengar suara rintik-rintik hujan. Meskipun tanpa bulan, langit masih terlihat indah dengan kepolosannya.
"Aku pikir sudah pagi. Ternyata masih jam enam sore." keluhnya.
Tina mengedarkan pandangannya. Lama dia menyadari kalau sekarang dirinya di kamar mendiang Meyra. Photo Meyra yang terpanjang di setiap sudut dinding membuka kenangan mereka satu persatu.
Tina menyusut hidungnya. Air matanya tiba-tiba menetes membasahi wajah cantiknya.
"Mey, maafkan aku. Aku tidak ada di saat-saat membutuhkan. Aku bahkan tidak tahu kalau kamu sudah tiada. Padahal dulu, saat papaku meninggal kamulah yang menguatkan aku.
Bahkan saat papa menentang aku dan Glen. Kamu juga yang menguatkan aku. Padahal usia mu jauh di bawah aku. Tapi kamu lebih dewasa pemikirannya daripada aku."
Tina mengenang kebersamaan dengan Meyra. Sosok yang sudah seperti adiknya sendiri. Sosok yang selalu memberikan nasihat pada dirinya. Tina kalau ada masalah dengan papanya, pasti lari ke rumah Amran. Kadang papanya dan pakdenya paham, kalau dirinya sedang ngambek. Tina yang dulu adalah Tina yang egois. Dia selalu ingin dimengerti tanpa mengerti orang lain.
__ADS_1
"Kamu sudah bangun, nak." sapa seorang wanita paruh baya.
"Sudah bude. Terimakasih." jawab Tina.
"Terimakasih buat apa? sudah seharusnya kamu bersama kami. kamu tahu, nak, pakde-mu sudah lama mencari kalian. Bertahun-tahun kalian menghilang tanpa kabar.
Apalagi sejak papa kalian meninggal dunia. Sejak perusahaan beralih ke tangan orang lain. Pakde mu bekerja keras untuk memulihkan semuanya."
"Maaf, bude. Kami sudah merepotkan kalian selama ini. Seharusnya tidak usah dibuka lagi soal perusahaan itu. Karena sudah lama berlalu. Kami sudah ikhlas dengan semua yang terjadi."
Memang benar. Sejak pernikahannya dengan Glen, Tina mencoba ikhlas dengan apa yang terjadi. Termasuk saat Glen dan keluarganya menguasai perusahaan. Tina dan mamanya sudah mencoba legowo.
"Tidak, nak. Pakde akan tetap memperjuangkan hak kalian. Terutama untuk Amar. Masa depannya masih panjang, dia tidak sekolah karena kamu tidak ada biaya. Jadi kalau perusahaan itu kembali ke tangan kita, insyaallah kita bisa membangun dari awal lagi." kata Amran, lelaki itu muncul saat istrinya sedang mengobrol pada ponakannya.
Azan magrib pun berkumandang. Seakan menyadarkan mereka ada yang lebih penting di dahulukan. Tina berucap syukur karena sudah selamat dari cengkraman Glen.
Sementara Mayka sedang asyik dengan dunia laptopnya. Karena dia sedang datang bulan, maka dia menyibukkan diri dengan beberapa berkas yang dia bawa dari kantor. Terdengar getaran di handphonenya.
"Iya, Feri." Mayka menjawab telepon dari Feri.
"Gimana keadaan Tina?" tanya Feri di seberang sana.
Dia masih saja menanyakan soal Tina.
"Tina sedang menenangkan diri." jawab mayka.
"Tapi dia nggak apa-apa, kan."
"Dia nggak apa-apa. Dia juga sudah terlihat tenang."
"Alhamdulillah, kak"
Mayka hanya bisa mengepal erat tangannya. Ada rasa amarah yang di ingin diluapkannya. kenapa harus Tina yang jadi perhatian Feri. Kenapa bukan dia yang jelas-jelas masih single.
Mayka berjalan kearah kamar Meyra, dimana ada Tina yang diistirahatkan dalam kamar itu. Matanya sedikit mengintip adik sepupunya.
__ADS_1
"Aku tidak mau di tikung lagi." batin Mayka.