
Malam ini dinginnya menusuk tulang. Dira berjalan di pelataran Vila milik keluarga Rian. Suasana malam yang sedikit mencekam karena lampu temaran Vila.
Setelah beberapa jam melakukan perjalanan dari Jakarta menuju puncak bogor. Jarak jakarta dan Bogor memang dekat, tapi dari bogor ke puncak sebenarnya juga dekat hanya saja kemacetan yang membuat jarak terasa jauh.
Dira menghirup udara dalam-dalam, seharusnya dua keluarga berkumpul malam ini. Tapi kata Rian orangtuanya ada kesibukan lain sehingga tidak bisa ikut. Dira paham dengan kesibukan papanya Rian sebagai pemilik WO terkenal.
Suasana vila semakin mencekam, mau tidak mau Dira memindahkan tubuhnya masuk kedalam rumah. Namun tangan tertahan dengan sosok kekar di hadapannya.
Dira memandang senyum pada lelaki di depannya. Lelaki yang telah mengikatnya dengan hubungan lebih serius.
"Kamu mau kemana?" Tangan itu tadinya menahan tangan lalu berpindah ke pinggang Dira.
"Kedalam, Rian. Dingin aku nggak kuat." Dira sedikit risih saat Rian membelai pucuk rambutnya.
"Rian, aku kedalam dulu, ya." Dira mencoba mengelak saat Rian mulai agresif padanya.
"Dira, apakah kamu mencintaiku?" Tanya Rian saat wajah mereka bertatapan.
"Iya." Jawab Dira sekenanya.
"Lalu kenapa tadi saat aku memelukmu terlihat menghindar. Bukankah setiap wanita suka diperlakukan seperti itu."
"Aku tidak menghindar, Rian. Aku mau masuk kedalam itu saja. Aku tidak kuat udaranya sangat dingin."
"Dira... will you marry me.. Menikahlah denganku."
Please Medhira....will you Marry me.
"Astaga ucapan itu lagi. Kenapa ucapan itu seakan menerorku. Ingat Dira, di depanmu Rian bukan kak Juna. Kak Juna sudah memilih Delia." batin Dira.
Dira hanya terdiam saat tangan Rian menarik dagunya. Seketika Dira melepaskan tangan Rian padahal sedikit lagi pria itu bisa menikmati bibirnya.
"Maaf, rasanya tidak etis kita seperti apalagi belum ada ikatan." Dira menjauhi Rian masuk ke dalam rumah.
Dira masuk ke kamar, dia melihat Vira sudah terlelap pulas. Di senderkan tubuh ke pinggir jendela kamar. Posisi kamarnya di lantai atas, karena memang ruang utamanya semua diatas. Di bawah hanya gudang dan garasi.
__ADS_1
Kenapa dia masih mengejarku? Bukan raganya yang datang, tapi halusinasinya selalu mengikutiku. Bukankah sudah jelas aku punya Rian. Tapi kenapa selalu dia yang hadir?
Oh tuhan aku harus bagaimana?
Tadi dia mendengar kabar dari Eka kalau Ayu keguguran. Keluarga Shahab membatalkan acara pertunangan Juna dan Delia. Bahkan katanya Delia meminta Juna secepatnya menikahinya.
Ya bagus kalau memang mereka akan menikah. Bukankah itu yang di tunggu keduanya selama ini. Dengan begitu Dira tidak akan di kejar-kejar rasa bersalahnya pada Delia, dengan begitu dia merasa tenang dan bisa menjalani hubungannya dengan Rian.
Dira memilih membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Di pandangnya sang adik yang sudah tertidur pulas. Adik yang hadir diluar rencana.Itu yang dia dengar dari mamanya. Kata mama Dewi, dulu setelah lahir Dira mamanya enggan hamil lagi. Cukup dua anak saja. Tapi saat Dira berusia tujuh tahun, Dira dikejutkan berita kalau mamanya hamil lagi. Dira yang sudah nyaman menjadi anak bungsu sempat tidak terima. Tapi mamanya dengan sabar memberi pengertian padanya, kalau nanti dirinya tidak akan kesepian.
Dira membelai pucuk rambut adiknya. Tangannya mengelus pipi Vira. Gadis kecil yang sebentar lagi akan melangkahinya. Gadis kecil yang manja, tapi harus menerima kenyataan kalau dia mempunyai ayah sebejat Andre.
Dira memejamkan mata, meresa tubuhnya tak bisa diajak kompromi lagi.
11 tahun yang lalu
Sekelompok anak muda berdiri di depan gerbang sekolah. Mereka seperti sedang menunggu, salah satu dari mereka memilih duduk di dipan semen. Seragam mereka yang tadinya putih biru sudah berganti dengan setelan oblong dan celana jeans.
Si gadis yang duduk tak mengganti pakaiannya. dia menatap ketiga temannya dengan malas. Namun, dia ingin sekali ikut dengan teman-temannya, apa dayanya mata-mata papanya banyak. Bahkan melangkah menyebrangpun papanya tahu.
"Mau sih, yu. Tapi tahu sendiri kalau papa suruh aku pulang. Kalau nggak, bisa berabe urusannya." Sahut Delia.
"Susah kalau anak papa." Kata Eka.
"Ra, kamu sudah bikinnya kan? Bilang sama dia kalau itu dari aku." Titah Delia.
"Kenapa nggak kamu kasih langsung, sih? kamu kan sering ketemu sama dia."
"Yaelah, Dira kayak nggak tahu orangtua Delia saja. Kak Juna ngajar Delia tapi pake bodyguard." Jawab Eka.
"Nah bener tuh kata Eka." Timpal Delia.
"Tapi kalau sekali tidak masalah. Ini udah surat kedelapan, lo. Mending kalau jadian, ini masih pake surat-suratan. Berasa aku yang ngirim surat buat kak Juna."
"Kamu mau nolong nggak sih? Teman yang baik nggak akan mengeluh saat diminta pertolongan." Protes Delia.
__ADS_1
"Sudah! Kamu bantu saja Delia. Hitung-hitung menambah pahala bantu teman." Bujuk Eka.
Dira hanya menghempaskan nafas panjang. Dari dulu juga begitu, mereka selalu membela Delia ketika dirinya tak sependapat dengan gadis arab itu. Tak semua hal yang kita inginkan bisa terwujud tanpa usaha dan keinginan yang kuat.
Dira paham, gerak-gerik Delia selalu diikuti papanya. Apapun permintaan Delia di kabulkan oleh papanya dengan syarat tidak boleh pacaran. Tapi surat itu dia tulis bukan mewakili perasaan Delia. Melainkan mewakili perasaan dirinya pada Arjuna.
Rasa sakit mendera ketika Arjuna bahagia membaca surat itu. Mungkin kalau Arjuna senang karena kata-katanya puitis dia tidak akan sedih, tapi dia selalu bilang kalau Delia adalah pujaan hatinya, perih sekali. Namun Dira hanya bisa diam tanpa perlawanan.
Mereka akhirnya sampai di SMA Nusa Bangsa. Sebuah keramaian anak-anak berseragam putih abu-abu, membuat Dira sedikit pusing. Gadis remaja itu memilih duduk di bangku panjang sekolah.
"Ra, kok kamu disini?"
"Pusing, kak" Dira mengurut dahinya.
"Oh, ya kakak antar kamu ke UKS. bisa jalan?" Dira mengangguk.
"Kakak gendong, ya." Seketika Dira sudah berada di belakang punggung Arjuna.
"Kalau kamu kurang enak badan kenapa ikut kesini. Terus mana Ayu, Eka dan ..."
"Delia maksud kak Juna. Kakak tahu dia nggak bisa kemana-mana. Kakak balik aja biar aku sendiri. Bukannya kakak mau tampil, ya?"
"Nanti kalau di panggil baru aku kesana. Aku nggak mungkin ninggalin kamu sendiri."
"Panggil kak Feri saja."
"Feri kan satu pentas sama aku. Dia mungkin lagi cek sound sama teman yang lain."
"Ini ..." Dira mengeluarkan amplop dari sakunya.
"Surat lagi?" Dira mengangguk.
"Baca di rumah saja, kak. Nggak enak dilihat sama teman kakak." Juna mengantongi surat itu di saku bajunya.
Andai kakak tahu kalau itu bukan dari Delia.
__ADS_1