Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 105


__ADS_3

Perumahan daerah Anggut, kota Bengkulu.


Dira berdiri di depan pintu rumah yang dia diami saat ini. Udara sore itu terasa sejuk, bokongnya di sandarkan pada sebuah kursi rotan. Masih memakai setelah kaos, dia menikmati udara sore di perumahan tengah kota. Saat ini dia menginap di daerah Anggut, sebuah kompleks di tengah kota yang menjadi ikon kuliner kota Bengkulu. Tak jauh dari rumahnya ada mesjid megah yang merupakan ikon kota Bengkulu.


Dira beranjak ke dalam. Ini hari keduanya di kota Bengkulu. Udara yang lumayan cukup panas. Bahkan bagi Dira lebih panas dari Jakarta. Kakinya melangkah menuju dapur, membuka kulkas dan meneguk satu botol air mineral.


"Baru sehari disini bawaannya haus terus." gerutu Dira.


Dira mencari mama dan dua saudaranya yang kelihatan sedari tadi. Sesaat dia ingat pesan mamanya, kalau beliau mau lihat persiapan acara di hotel Nala. Dira menggelengkan kepalanya, merutuki Opa nya. Menurutnya, seharusnya opa tidak usah pakai acara ulang tahun. Apalagi usia opa termasuk rawan.


Opa mengadakan pesta malam dengan suguhan berbaur dengan alam. Dira menganggap opa nya cari penyakit. Usia opa rawan, apa lagi acaranya outdoor. Dira membayangkan opa nya pingsan karena masuk angin. Namun dia tepis bayangan itu.


"Jahat banget aku pakai mendoakan opa sakit." lagi-lagi dia kembali merutuki diri sendiri.


Di depan rumahnya tampak beberapa ibu-ibu yang baru pulang dari aktivitasnya. Karena rumah opa berhadapan dengan rumah penduduk. Dira ingat opa selalu bilang kalau beliau tidak pernah membuat rumah di perumahan elit. Opa suka suasana pedesaan atau berbaur dengan orang biasa. Meskipun kini dia telah sukses.


"Dengan itu, kita bisa melihat kehidupan dari bawah. Membuat kita tidak merasa tinggi hati. Dari sini kita bisa belajar bersyukur, coba kalau opa ngambil di perumahan gede, nggak ada aktivitas, nggak ada komunikasi, dan kita tidak bisa belajar." Itu yang Dira ingat dari ucapan Opa.


Dira melakukan shalat istikharah. Memohon pada yang kuasa agar diberi petunjuk soal dua pilihan, antara lelaki pilihan Opa-nya dan juga Arjuna.


Sholat istikharah merupakan salah satu sholat sunah yang bertujuan untuk memohon petunjuk Allah SWT. Terutama, ketika berhadapan dengan pilihan-pilihan berat dan meragukan.dapat dilakukan kapan saja, baik siang maupun malam hari. Namun shalat istikharah tidak boleh dilakukan pada 3 waktu tertentu, yaitu ketika matahari terbit atau sedang berada di tengah atau sedang terbenam


Allaahumma inni astakhiiruka bi’ilmika wa astaqdiruka biqudratika wa as aluka min fadlikal ‘aziimi fa innaka taqdiru wa laa aqdiru wa laa a’lamu wa anta ‘allaamul guyuub.”


Ya Allah jika dia adalah yang terbaik untukku. Semoga dia adalah pria sholeh. Berbakti kepada ayah bundanya. Selalu menangis karenaMu Ya Robb dan pandai menjaga diri dengan do’a-do’a.


Selesai sholat, Dira mempersiapkan diri untuk malam yang paling mendebarkan, malam yang menentukan siapa lelaki masa depannya. Apakah Arjuna atau mungkin pria pilihan Opa. Matanya melirik ke arah gawainya, ada pesan dari sang mama. Dalam pesan mengatakan kalau sebentar lagi ada MUA yang datang. Dira menghela nafas berat. Padahal dia bisa dandan sendiri tak perlu memakai MUA segala.


"Dira nanti ada MUA yang datang ke rumah. Dia yang akan dandani kamu dan Vira." pesan mama Dewi.


"Vira nggak ada di rumah, ma." balas Dira.


"MUA nya datang bareng Vira, sayang. Kan Vira tadi menemani mama di lokasi acara opa."


"OOO,.. Sebenarnya nggak perlu MUA, ma. Dira bisa dandan sendiri." jawab Dira.


Tak ada balasan dari mama Dewi. Dira pun masuk ke kamar mandi.


Setelah selesai membersihkan diri. Dira memeriksa area luar, siapa tahu periasnya sudah sampai. Tapi ternyata belum datang. Pada akhirnya Dira kembali ke kamar memeriksa pakaian mana yang akan di gunakan. Senyumnya mengembang ketika ada pakaian yang pernah di pakainya dalam resepsi pernikahan Eka.


Menurut informasi, acaranya akan dimulai pukul 19.00. Dira mendengar lantunan adzan Magrib langsung bergegas melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim. Karena acaranya malam, maka Dira melakukan shalat jamak. Memadukan sholat magrib dan isya. Paling tidak hatinya sedikit tenang. Karena sudah menunaikan kewajibannya.


Dira sudah duduk di depan meja rias kamarnya. Sesaat dia mendapat pesan kalau MUA sedang otw bareng Vira. Dira tersenyum membaca pesan mamanya. Karena dia saat ini sudah memoles wajahnya dengan make up nya sendiri. Tak perlu harus pakai MUA, Dira ingin menjadi diri sendiri di depan lelaki pilihan Opa-nya, serta didepan Arjuna.


Dira mematut dirinya di depan kaca. Setelah memoles wajahnya sendiri dia tampak begitu cantik dengan make up naturalnya. Begitulah Dira, dia selalu berusaha melakukan sesuatu dengan sendiri. Gaun yang dipakainya menampakkan aura kesederhanaannya, Dira membuka kotak perhiasan yang katanya milik mamanya masih muda. Kata mama, dia memberikan perhiasan itu karena usianya sudah tak cocok lagi. Mama juga sudah mengurangi pemakaian perhiasan sedang usianya menginjak 47.


Seuntai kalung pun mempercantik lehernya. Membuat auranya semakin terpancar. Sesaat matanya memandang kearah cincin yang tersemat di jarinya. Lama dirinya terdiam.


"Apa yang harus aku lakukan kak Juna? aku menerima cincinmu tapi juga merespon permintaan opa. Seandainya yang datang melamar itu kamu, pasti aku terima. Tapi saat aku pun belum bisa tegas dengan semua ini."

__ADS_1


"Assalamualaikum," suara sapaan dari luar.


Dira langsung beranjak dari kamar dan membuka pintu luar. Tampak Vira dengan dua orang wanita sudah berdiri di depan pintu.


"Ini ayuk-nyo. La cantik itu, dak perlu nian nak berias."


( Ini kakak perempuannya, sudah cantik ini. Tidak usah dirias lagi).


Catatan: Ayuk dalam bahasa Bengkulu artinya Kakak perempuan.


"Nggak apa-apa, mbak. Rias adek saya saja. Soalnya dia rada pemalas, jadi biar cepat mbak aja yang ngerias." jawab Dira.


Beberapa saat kemudian Dira dan Vira sudah siap. Mereka tampak cantik bak seorang bintang. Meskipun secara fisik Vira memang lebih cantik dari Dira. Kulit Vira yang putih tampak serasi dengan pemilihan make up nya. Meskipun menurut Dira dandanan Vira malah terlihat lebih dewasa dari usianya.


Sementara Dira yang kulitnya kuning Langsat, tetap elegan meskipun dengan make up natural.


"Nona Dira dan Nona Savira, saya Joko yang di tugaskan mengantarkan anda ke tempat acara."


Dira dan Vira akhirnya masuk ke mobil. Mobil yang akan mengantarkan mereka ke sebuah penginapan di depan pantai panjang.


"Mama, kok nggak pulang?" tanya Dira.


"Mama malah siap-siap di tempat om Johan, kak. Mama dan mamanya kak Juna malah janjian ke salon barengan." cerita Vira.


"Ih, curang. mama ngirim kita MUA tapi malah pergi ke salon. Kenapa nggak ajak kita sekalian." omel Dira.


"Tapi---" Dira tidak melanjutkan ucapannya.


Aku tahu kak, kalau kakak galau tentang kak Arjuna.


Seandainya kak Dira tahu kalau lelaki itu Arjuna.


Klik


Arjuna Bramantyo sedang menatap dirinya di depan kaca. Tubuhnya yang kekar terlihat tampan dengan memakai jas hitam dengan kemeja biru muda. Beberapa kali mematut diri di depan kaca. Helaan nafas pun terdengar di rongga mulutnya. Sesekali mencoba tersenyum menata apa yang terjadi sesaat lagi.


"Anak mama tampan sekali." puji sang mama.


"Terimakasih, ma."


"Kamu gugup, nak?" tanya mamanya sambil membenarkan jas anaknya.


"Entahlah,ma. Kalau dibilang gugup sih enggak, ma. Cuma ..."


"Apa, nak? soal Dira lagi. Kamu harus ikhlas, nak. Jeng Dewi bilang Dira juga akan bertemu calon suaminya hari ini."


"Aku sudah melamar Dira, ma. Dira menerima lamaranku. Itu membuktikan kalau Dira menolak calon dari keluarganya. Dan itu yang sekarang aku perjuangkan. Aku siap di pecat pak Burhan kalau dia tidak terima penolakanku." kata Juna sambil menatap mamanya.


Mamanya Juna hanya menyabarkan anaknya. Dia mengingatkan setiap keputusan pasti ada konsekuensinya. Jika Juna memilih Dira berarti Juna juga harus menerima konsekuensi terburuk. Mungkin bisa jadi di pecat. Bisa jadi juga pak Burhan tidak jadi mengajak suaminya bekerja sama.

__ADS_1


"Ma, Juna, itu mobil sudah datang. Kalian malah sempat-sempatnya ngerumpi." panggil papa Johan.


"Mama dan papa ke mobil duluan. Juna masih mau siap-siap." Keduanya meninggalkan putra sulungnya yang masih di dalam kamar.


Juna keluar dari kamar inapnya. Sejak kedua orangtuanya datang penginapan Juna di pindahkan ke salah satu rumah milik Burhan. Lokasinya yang berada di daerah pasar ikan. Tak jauh dari wisata benteng Marlborough. Destinasi laut dan pantai memang menjadi ikon kota Bengkulu. Dimana akan menapaki jalan, disitu pasti ketemu pantai dan laut. Secara geografis, propinsi Bengkulu memang berapa di antara kepungan air laut.


Juna sendiri sudah tidak dilibatkan dalam program kantor sejak orangtuanya datang. Dia juga paham beberapa temannya tetap memandangnya dengan sinis. Menuduh dirinya matre atau segala macam pikiran negatif mereka. Juna tidak peduli hal itu selama memang bukan seperti yang dituduhkan.


Semoga ini bisa diatasi. Aku capek jadi bahan gunjingan satu kantor.


Mobil mengantarkan mereka ke tempat tujuan. Juna beserta kedua orangtuanya pun turun dari mobil. Tampak suasana pesta terlihat sangat sepi. Juna memandang ke sekelilingnya, ada beberapa orang yang tidak dia kenali. Lelaki itu memisahkan diri dari kedua orangtuanya.


"Akhirnya kalian datang juga." Sapa opa Han saat menyambut tamunya di acara ulangtahunnya yang ke 75. Pak menuntun Juna dan keluarganya masuk ke sebuah tempat. Juna kaget melihat suasana tidak banyak orang.


"Bukankah bapak bilang pestanya outdoor?" tanya Juna.


"Tadinya, iya, tapi kata salah satu teman dari BMKG dipastikan bakal hujan sebentar lagi. Jadi kami memilih indoor." jelas pak Burhan.


"Jadi?"


"Ayo lah kamu masuk dulu, sudah ada yang menunggu kamu." Pak Burhan menyeret Juna masuk ke ruang private.


Juna berjalan kearah sebuah ruangan. Anehnya di depan pintu ruang private malah terdapat jalan kecil di taburi bunga mawar merah. Lelaki itu berjalan mengikuti arah mawar-mawar tersebut. Sebelum masuk Juna malah sempat berdoa agar bisa melancarkan aksinya.


Ceklek!


Tampak seorang wanita berdiri di sebuah ruangan. Wanita itu masih asyik memandang aksesoris yang tertempel di dinding. Bak kamar pengantin ruangan itu di sulap dengan segala aransemen bunga mawar.


"Nona Utami," suara sapaan itu terdengar jelas.


Dira berbalik saat mendengar sapaan itu. Keduanya terkejut saat tahu siapa calon yang selama ini di gadang-gadangkan. Bukan hanya Dira, Juna pun memberikan reaksi yang sama.


"Jadi! kita dikerjain mereka!" sahut keduanya serempak.


*


*


*


*


Maaf part kali ini termasuk panjang. Soalnya saya mau melunasi hutang sama kalian tentang pertemuan Juna dan Dira.


Terimakasih masih sempat mampir ke karya recehku. Semoga yang baca diberi kesehatan yang berlimpah. tetap pantengin terus karya author dengan like, komen dan vote.


Happy reading.


Aaaminnn!

__ADS_1


__ADS_2