Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 133


__ADS_3

Selama bumi masih berputar dan kita masih bisa bernapas barangkali tidak ada satu pun dari kita yang siap dengan kehilangan ataupun terbiasa dengan duka. Kehilangan merupakan kata atau sesuatu yang sebisa mungkin kita hindari. Sesuatu yang tidak ingin kita alami.


Tapi apa daya, manusia tidak bisa memilih apa yang akan terjadi pada dirinya. Kehilangan kekasih, kehilangan sahabat ataupun kehilangan keluarga dekat tidak pernah menjadi menyenangkan. Semuanya tetap sama.


Meninggalkan luka yang berbekas di hati dan pikiran.Kematian merupakan salah satu takdir dari Allah yang akan dialami oleh setiap makhluk yang hidup termasuk manusia.


Kehilangan yang pertama tentunya masih bisa kita tolerir. Kita masih bisa melakukan upaya untuk mengembalikan kepada dirinya yang semula. Paling tidak apa yang berubah dari dalam dirinya dapat kita maklumi sedikit demi sedikit.


Tanpa penghakiman tentu saja. Namun bagaimana halnya jika kita harus merasakan kehilangan yang mengharuskan kita menerima kenyataan bahwa kita tidak bisa lagi bertemu, mengobrol, bercerita ataupun mencicipi masakan yang ia buat. Sedih dan duka mendalam. Barangkali tidak ada kata lain.


Pagi ini hanya hujan yang menyambut kedatangan sang mama. Mama yang sudah tidak sakit lagi. Mama yang sekarang tenang di alam sana. Tina hanya menatap pilu ketika mamanya di masukan ke liang lahat. Tangannya mengepal keras, seakan ada guratan penyesalan.


Perlahan tanah cokelat menutup tubuh sang mama. Hingga hanya menyisakan gundukan tanah merah. Taburan bunga-bunga kecil sudah memadati gundukan tanah merah tersebut.


Sebagian orang masih berdiri di depan makam. Hanya keluarga inti yang tersisa. Tangisan Tina dan Amar di depan makam mamanya masih terdengar. Mayka mencoba menenangkan adiknya. Tampak Jamal pun berdiri di dekat Amar. Lelaki usia kepala tiga itu merasa sedih, sebab yang meninggal adalah ibu angkatnya.


"Bu, saya Jamal berjanji akan menjaga Tina dan Amar. Menjaga mereka dengan segenap jiwa dan raga. Menjaga putri ibu untuk selamanya.


Terimakasih, Bu. Sudah menjadi ibu yang baik buat saya dan Ella. Kami yang dulu sudah lama tidak merasakan kasih sayang seorang ibu merasa terobati." Batin Jamal.


Beberapa orang mulai meninggalkan area pemakaman. Tersisa hanya Mayka, Alif dan Jamal. Sementara Jamal di bawa oleh Amran dan istrinya kembali ke mobil.

__ADS_1


"Na, sudah sore. Yuk pulang, kasihan Amar menunggu di mobil." Bujuk Mayka.


"Aku disini saja, kak. Menemani mama, mama pasti kesepian. Aku jahat, kak. Aku nggak bisa memenuhi janji mama untuk mencabut tuntutan itu." ucap Tina.


"Cabut saja, Na. Itu hak kamu, Kan kamu adalah anak dari pemilik perusahaan yang di sabotase. Jadi keputusan di kamu." jawab Jamal.


"Keputusan bukan padaku, Kak. Tapi pada pakde. Dia yang menuntut bukan aku. Jadi kalaupun aku bilang tidak Pakde selalu bilang tetap menjalankan tuntutan." jelas Tina.


"Sudah! ini makam. Tidak etis kalian membahas hal ini di pemakaman. Nanti kita bahas dirumah saja." Mayka menengahi.


"Maaf," Tina hanya menunduk.


Tina akhirnya kembali ke mobil, sebelumnya dia pamit pada makam sang mama. Tak berapa lama dia berjalan meninggalkan makam. Netranya beralih ke sekelompok orang yang berjalan mendekati makam mamanya.


Tina berjalan menuju rombongan itu. Ada emosi yang ingin dia lepaskan. Entah kenapa rasanya dia ingin menembak lelaki itu.


"Mau apa kamu kesini?" ucap Tina pada Glen.


"Aku mau menjenguk mama." Glen hanya menunduk tanpa berani menatap mantan istrinya.


"Dia bukan mama kamu. Dan jangan pernah merasa keluarga pada kami. Semua yang terjadi gara-gara kamu dan orangtuamu. Kalau saja papa mu tidak mengkhianati papaku. Kami mungkin masih menjadi keluarga bahagia." amuk Tina.

__ADS_1


"Na, sudah. Jangan buang-buang energi untuk orang seperti dia. Percuma! lebih baik kita pulang." bujuk Jamal. Tina mengucapkan istighfar berkali-kali.


"Tapi ada hikmahnya, Na. Kamu bisa belajar tentang arti hidup. Karena Tina yang dulu aku kenal bukan Tina yang seperti ini. Tina yang aku kenal adalah sosok arogan dan pembully. Jadi anggap saja kejadian itu adalah teguran buat kamu, Tina."


Mereka meninggalkan Glen dan rombongannya di pemakaman mamanya Tina. Tina sempat menoleh sesaat kearah Glen. Tentu saja melemparkan tatapan kebencian.


Sementara itu dikediaman milik Amran dikejutkan kedatangan Burhan dan Arjuna. Tampak suasana rumah ramai dengan para pelayat. Burhan pun bertemu dengan Arsyad, adik bungsunya Amran. Arsyad mengenali Burhan sebagai teman baik papanya menyambut tamunya dengan ramah.


"Siapa yang meninggal, Arsyad?" tanya Burhan.


"Istri mas Heru, Om." jawab Arsyad.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun. Lalu dimana Amran?"


"Mereka belum pulang dari pemakaman, om. Om Burhan sudah lama tidak kesini. Sejak Meyra meninggal."


"Saya sudah tua, syad. Jadi tidak kuat lagi mau kemana-mana. Saya turut berdukacita atas meninggalnya kakak iparmu."


"Terimakasih, om. ini asisten, om?" tanya Arsyad saat melihat Juna.


"Ini cucu saya, suami dari Dira. Juna kenalkan ini om Meyra." Juna dan Arsyad saling berjabat tangan dan memperkenalkan diri.

__ADS_1


__ADS_2