
"Mas Juna.." Sapa Jamal saat melihat lelaki itu baru selesai sholat subuh.
"Iya, mal." Jawab Juna sambil menggantungkan peci di belakang pintu.
"Mas Juna mau kerja kan? Saya ada lowongan di daerah perbatasan bogor-jakarta, tapi sebagai penjaga gudang. Itu kalau mas Juna mau saya akan bilang sama teman. Cuma yaitu mas..." Jamal tidak melanjutkan ucapannya.
"Kenapa, Mal?"
"Gajinya nggak gede, mas. Perbulan cuma tujuh ratus ribu." Sahut Jamal.
"Nggak papa, mal. Aku masih ada tabungan buat bayar kontrakan ini. Kamu nggak papa kan kalau saya tinggal disini lama."
"Nggak apa-apa, mas. Saya senang ada temannya." Jawab Jamal.
"Kapan saya mulai kerja, Mal?"
"Hari ini, Mas. Nanti teman saya jemput mas Juna untuk ke tempat kerja."
"Ya, sudah saya siap-siap dulu." Juna mengambil handuk untuk mandi.
Hampir tiga minggu Juna meninggalkan kediaman orangtuanya. Dia pergi bukan serta merta karena tak direstui, melainkan dia mencoba mandiri. Apalagi sebagai laki-laki mandiri itu perlu. Agar bisa mendapatkan bekal ilmu di masa yang akan datang.
Juna dan temannya Jamal yang bernama ical pun sampai di sebuah perusahaan besar di jauh dari perkotaan. Sebuah pabrik besar penghasil gula pasir di salah satu pelosok kota. Motor mereka berhenti di depan gerbang pabrik tersebut.
"Ayo, mas Juna kita langsung menemui HRD-nya. Mas Juna bisa langsung kerja." Kata Ical sambil berjalan memasuki koridor kantor.
Penampilan pabrik masih terbilang klasik. Dimana masih memakai gedung lama. Juna menatap di sekelilingnya, tampak beberapa buruh mondar-mandir di dekat Juna.
Sebuah ruangan kecil mereka masuki. Letaknya tak jauh dari gudang mesin penggilingan. Juna pun telah duduk di depan sebuah kursi kayu. Di depannya ada meja kayu dengan tumpukan lembaran kertas. Seorang lelaki berkacamata tersenyum kepadanya. Tak lama Juna berondong beberapa pertanyaan seputar pengalaman kerjanya.
"Ini perusahaan besar, lo. Kenapa kamu hengkang dari sana? Apa kamu buat masalah disana?" Tanya Pak Bambang, ketua HRD.
__ADS_1
"Saya pulang ke rumah keluarga di dekat sini. Otomatis jauh dari tempat kerja saya. Makanya saya cari kerja terdekat saja." Cerita Juna.
"Iyakah? Saya kenal lo salah satu staf disana. Saya bisa saja cari bukti apa penyebab kamu keluar dari sana. Kenapa begitu? karena kami tidak masalah yang sama berulang ataupun kami kena imbas dari kelakuan kamu." Cerca pak Bambang.
"Insyaallah, saya tidak akan buat masalah di sini. Percaya sama saya, pak." Juna meyakinkan lelaki di depannya.
"Kalau begitu apa kamu siap?" Tanya pak Bambang.
"Saya siap kerja pak." Jawab Juna mantap.
"Apa kamu siap untuk di gaji selama enam bulan. Sebagai uji tes kamu untuk sementara. Kalau pak Burhan suka cara kerja kamu. Bulan depannya kamu sudah dapat gaji, bagaimana?"
"Siap, pak. Maaf pak Burhan itu siapa?"
"Itu pemilik pabrik ini. Dia sudah sepuh, usianya sekitar 75-an. Jadi dia yang menentukan apa kamu layak di pertahankan atau tidak. Paham!"
"Paham, pak."
Juna dan pak Bambang berjabat tangan. Juna menghela nafasnya dengan berat. Dia harus melalui semua ini dengan semangat. Kalau pun tidak bisa mendapatkan Dira, paling tidak dia punya model untuk berdiri sendiri tanpa bergantung pada orang.
klik
"Pokoknya papa harus segera nikahkan aku dengan kak Juna. Aku tidak mau lelaki lain selain Arjuna. Papa tahu kan aku dan kak Juna saling mencintai, papa sayang sama Delia kan, ayolah papa. Papa kan bisa menggunakan orangtua kak Juna buat mempercepat pernikahan kami." Rengek Delia.
"Delia! Kamu ini apa-apaan! Mama tidak suka sikap kamu yang seperti ini. Macam tidak punya harga diri. Kamu harusnya meminta langsung pada Arjuna untuk memastikan lanjutan hubungan kalian. Bukan merengek pada kami seperti anak kecil. Ingat Del, kamu itu sudah 25 tahun. Bersikaplah sesuai umurmu."
Mamanya Delia bilang seperti itu bukan tanpa alasan. Dia melihat sikap Delia akhir-akhir ini hanya mementingkan diri sendiri. Tanpa tahu orangtuanya susah payah mengupayakan rencana pernikahan putrinya. Delia pergi ke puncak tanpa pamit, lalu tiba-tiba wanita muda itu merengek minta di nikahkan sama Juna.
"Mama tahu tidak? Kak Juna mulai melirik wanita lain. Dia sepertinya hendak mencampakkanku. Aku tidak terima dia dengan wanita lain. Aku harus tetap mengikat kak Juna agar tidak melirik perempuan lain." Keluh Delia.
"Lalu kamu mau mengemis pada Arjuna agar dia tidak melirik perempuan lain. Lebih kamu berhenti bertemu Arjuna daripada mama harus melihat anakku kehilangan harga diri. Apakah cuma Arjuna saja lelaki di dunia ini, Hah! Apakah kamu akan mati kalau kehilangan Arjuna. Kamu tahu dia cuma diangkat derajatnya oleh papamu."
__ADS_1
"Mama, kamu tidak usah ikut campur. Kalau Juna menyakiti perasaan Delia! Dia harus menerima konsekuensinya, bukan hanya Juna, orangtuanya dan perempuan yang jadi selingkuhannya akan aku hancurkan juga." Ancam Tuan Shahab.
"Kamu egois, mas." Jawab mamanya Dira meninggalkan suami dan anaknya.
Mamanya Dira duduk di tepian pinggiran kolam renang. Tatapannya sayu, entah kenapa perasaan berasa kalut. Dia bukan perempuan pertama dalam hidup Abdullah Shahab. Dia juga bukan menikahi seorang duda saat itu. Melainkan pria yang berpoligami, hanya istri pertamanya tinggal beda rumah.
"Ma---" Sapa Oka.
"Eh, kamu kapan datang?" Tanya mama saat melihat putra sambungnya sudah duduk di sebelahnya.
"Belum lama sih, ma. Tadi aku dengar suara Delia nangis emang dia kenapa?"
"Mama juga nggak tahu, Ka. Kelihatannya dia renggang sama Arjuna. Tadi dia papa buat temui keluarga Arjuna buat minta nikah. Kalau papa menuruti kemauan Delia berarti dia mau melihat anaknya kehilangan harga diri. Mama nggak setuju semua itu. Kalau memang Juna jodohnya Delia, nggak akan kemana-mana. Kamu tahu papa-mu seperti apa."
Oka mengangguk karena memang benar yang dibilang mamanya. Bagi Oka, sikap papanya sudah berlebihan pada Delia.
"Karena papamu pernah berjanji akan membahagiakan Delia. Dulu waktu mama hamil Delia, papamu suka main tangan. Bukan sama mama saja tapi juga dengan mama kandungmu.
Hingga saat dia sedang marah mama pingsan, lalu katanya dokter sempat menvonis mama lama tidak akan bangun.
Sejak saat papa memperlakukan mama terlalu over. Bahkan saat Delia lahir, dia berjanji akan mengistimewakan Delia. Lebih dari nyawanya."
"Mama tahu dari mana cerita itu? Bukankah orang koma atau pingsan tidak ingat apa-apa?"
"Mama kamu yang cerita saat itu." kenangnya.
"Oka salut sama dua mamaku, sabar sama sikap papa" Sahut Oka.
"Ka, kalau kamu menikah nanti, perlakukan istrinya dengan istimewa. Perempuan yang sudah di berikan kasih sayang oleh orangtuanya. Lalu berganti peran dari orangtua ke suami. Istrimu memang tanggung jawabmu, tapi bukan budakmu. Dia akan senang hati mengabdikan dirinya, asalkan kita memperlakukan dengan baik."
Visual Delia
__ADS_1