Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 109


__ADS_3

Hari ini kediaman Rahansyah lain dari biasanya. Rumahnya sudah di hiasi tenda dan berbagai ornamen pernikahan. Tak lupa janur kuning yang melengkung di depan rumah.


Beberapa staf Wedding organizer miliknya sibuk wara-wiri. Mereka membantu menyiapkan acara bersejarah dalam keluarga. Tentu saja pernikahan putra semata wayangnya, yaitu Riandra Prasetyo Rahansyah.


Karena mereka hanya mengadakan akad saja. Tidak memakai pesta, maka hanya ada tenda di depan rumah untuk menampung banyak tamu. Dekorasi tentu saja di buat semewah mungkin, apalagi yang mengadakan adalah pemilik WO itu sendiri. Tema pernikahan adalah cinta dan kebahagiaan. Maka keluarga besar pun memakai atribut serba pink sesuai temanya.


Delia duduk di depan kaca, menanti perias pengantin datang. Jam sudah menunjuk pukul setengah enam pagi. Delia menatap gaun pengantin yang di siapakan Rian untuknya.


Delia tahu bahwa gaun itu sebenarnya untuk Dira. Karena awalnya memang Rian akan menikah dengan Dira. Tapi karena masa lalu mereka terbongkar, maka gagallah rencana itu. Delia menunduk sedikit, seakan merasa tidak enak dengan yang di raihnya saat ini. Namun dia mencoba berpikir positif. Kalau seandainya dia memaksa tetap bersama Arjuna, mungkin dia akan melukai perasaan lelaki itu. Tangan Delia terus membolak balik. Tanda dirinya sangat tegang saat ini. Sebentar lagi statusnya akan berubah.


"Del," sebuah suara masuk ke ruang riasnya.


Dua sahabat duduk di samping Delia yang belum siap apa-apa. Wanita itu senang kalau dua temannya datang ke pernikahannya. Di pandangi dua sahabatnya secara bergantian. Seperti ada yang kurang.


"Dira, mana?" tanya Delia.


"Dira lagi di Bengkulu, Del. Minggu ini dia juga akan menikah dengan kakakku. Maaf ya, Del. Kalau selama ini kakakku banyak salah sama kamu." kata Ayu.


"Aku yang salah, yu. Selama ini aku terlalu memaksakan kehendak. Tanpa tahu resikonya, tanpa tahu ada yang sakit karena kelakuanku. Aku minta maaf, yu sama kamu. Sama Eka juga. Karena aku suami ayu kehilangan pekerjaan. Karena aku, Wandi pun di penjara akibat perbuatan papaku. Aku minta maaf sama kalian semua."


"Del, mas Wandi tidak salah. Aku yang salah, aku di butakan kebencian pada Dira. Karena dulu Dira pernah menjalin hubungan dengan suami sepupuku. Maka itu saat tahu dia menikungmu dengan Arjuna. Kebencianku semakin bertambah. Maafkan aku, Del. Gara-gara aku, mama dan papa malah suruh aku cerai dari mas Wandi."


Ketiganya saling berpelukan. menatap haru persahabatan mereka yang sempat renggang.


"Penganten jangan mewek. Nanti tidak cantik lagi." Goda Eka.


"Del, kayaknya periasnya sudah datang. Kami keluar dulu, ya." Ayu dan Eka meninggalkan Delia yang kembali sendirian di kamar.


Pagi itu kediaman Rahansyah sudah di penuhi tamu-tamu terdekat. Seperti sanak famili, tetangganya dan serta staf kantornya sendiri. Pelan-pelan tamu mulai berdatangan memenuhi undangan.


Delia duduk di depan meja rias. Tentu saja wajahnya akan di make up oleh perias pesanan mertuanya. Yasmin masuk ke dalam menengok putrinya. Tatapan penuh haru kalau sebentar lagi sang putri akan melepas status lajangnya.


"Mama kok nangis?" Delia melihat sang mama wajahnya sudah sembab.

__ADS_1


"Sebentar lagi kamu akan menjalani hidup baru. Mama harap kamu akan menjadi istri dan ibu yang baik buat keluargamu. Kamu akan menjadi panutan bagi anak-anakmu nanti."


"Maafin Delia, ya, Ma. Aku belum bisa menjadi anak yang membanggakan mama. Aku sudah gagal kuliah di luar negeri, hamil di luar nikah dan punya anak. Sekarang aku menikah setelah punya anak. Aku hanya bikin malu mama saja." Ratapnya.


"Delia, setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Mama percaya dengan semua yang kita alami, akan membuat kamu bisa belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Mama lihat Rian itu lelaki yang baik. Mama percaya dia bisa menjaga kamu, nak."


Delia memeluk Yasmin dengan erat. Ada rasa haru menyelinap di hatinya. Seumur hidupnya, mamanya tidak pernah marah padanya atau juga pada kakak-kakaknya "Terimakasih, ma."


"Jangan nangis lagi. Masa penganten mewek. Ini hari bahagia kamu."


Beberapa saat kemudian Delia sudah selesai di rias. Tubuhnya yang ramping tampak selaras dengan kebaya yang di kenakan. Aura kecantikannya langsung terpancar. Yasmin memandang takjub melihat putrinya tampak cantik jelita.


Sementara Rian sudah duduk di meja akad. Lelaki tampak gagah dengan menggunakan setelah putih senada dengan pakaian yang di kenakan Delia. Tampak seorang lelaki berpakaian batik duduk di hadapannya. Lelaki yang di yakininya sebagai wali nikah Rian dan Delia. Sebelum akad nikah di mulai, Rian beberapa kali menghela nafas. Rasa grogi mulai menyerang dirinya.


"Saudara Rian, anda sudah siap?" tegur pak penghulu.


"Siap, pak."


"Saudara Riandra Rahansyah, saya nikahkan kamu dengan anak kami Adelia Shahab dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai."


"Saya terima nikahnya Adelia Shahab dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai."


"Sah!"


Tepat berjalan selama satu jam akad nikah sudah berlangsung. Rian menjawab ijab dengan lancar. Delia terharu mendengar suara lantang Rian di depan penghulu. Tak terasa derai air matanya membasahi pipinya. Sekarang dia adalah seorang istri. Delia berjanji dalam hatinya, akan menjadi istri yang baik untuk suaminya.


"Selamat ya, Del." ucap Yasmin.


"Terimakasih, ma." kata Delia.


"Sekarang kita keluar menemui suami kamu." Delia mengangguk mengikuti iringan langkah kakinya. Tangannya dituntun oleh kedua sahabatnya.


Tepat saat Delia berjalan kearah dirinya. Rian di buat terpana dengan kecantikan istrinya. Dalam hatinya ada rasa bahagia karena telah bertanggungjawab atas Delia dan Roger. Dia pun akan belajar menerima kelebihan dan kekurangan istrinya.

__ADS_1


Delia dan Rian kini duduk berdampingan. Sepanjang acara Delia hanya bisa menunduk malu-malu. Begitu juga dengan Rian. Jantungnya berdetak kencang tatkala melihat kecantikan istrinya. Wanita yang baru saja resmi menjadi istrinya.


Rian menyematkan cincin pernikahan mereka di jari manis Delia. Begitu juga sebaliknya, senyum merekah di bibir keduanya. Rian pun mendaratkan kecupan di kening Delia, sementara Delia mencium tangan Rian. Sekarang keduanya resmi menjadi suami istri.


"Rian, selamat ya, aku titip Delia sama kamu. Awas kalau bikin dia nangis lagi." ucap Eka sambil menggendong Radit.


"Rian, selamat ya. Aku senang akhirnya Delia punya pelabuhan juga. Aku harap kamu bisa membahagiakan sahabatku yang satu ini." ucap Ayu.


"Terimakasih Eka, terimakasih Ayu. Saya senang kalian mau datang ke pernikahan kami." ucap Delia.


"Kita kan sahabat, sudah pasti datang dong." jawab Ayu.


"By the way, Dira mana?" tanya Rian.


Delia seketika menunduk ketika Rian menanyakan Dira.


"Dira lagi di masa pingitan. Kan dia juga mau nikah."


"Rian, kamu nanyain Dira depan istri kamu. Lihat tuh mukanya." goda Ayu.


Acara telah selesai. Beberapa tamu sudah memilih pulang. Sedangkan tenda masih di biarkan tegak di depan rumah. Sebagian panitia masih sibuk wara Wiri membersihkan sisa acara.


Delia sudah berada di kamar pengantin guna melepaskan make up nya. Beberapa perias yang membantu wanita itu melepaskan sasakan rambut.


"Mbak nggak make up saja cantik. Apalagi kalau di make up." Puji perias tersebut.


"Terimakasih, mbak." jawab Delia dengan ramah.


"Sudah selesai, mbak. Deuh, pasti deg degan sama malam pertama ya." goda periasnya.


Delia hanya menyunggingkan senyum. Memang benar dia sudah merasa deg-deg dengan malam pertama sebagai pengantin. Beda waktu dulu saat dia menyerahkan miliknya pada Rian. Karena mereka sama-sama dalam pengaruh obat perangsang.


Apakah rasanya akan sama seperti waktu itu. Delia tidak begitu paham. Pastinya dia dan Rian sudah menjadi ikatan kuat.

__ADS_1


__ADS_2