Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 118


__ADS_3

Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih.


Artinya: " Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya.


" Jika dari kalian menikahi seorang wanita, maka ucapkanlah: 'Ya Allah sungguh aku meminta kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan yang Engkau ciptakan atasnya dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan apa yang Enkau ciptakan atasnya'. Dan bila seseorang membeli unta, maka peganglah ubun-ubunnya dan ucapkanlah seperti itu.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah).


Masih dalam suasana acara, para tamu masih datang dan pergi silih berganti. Meskipun semua yang datang tak ada yang mereka kenal karena yang mengatur undangan adalah opa nya.


Juna melirik istrinya yang masih memasang senyum pada tamu yang datang. Ada rasa bahagia karena sudah memiliki seutuhnya dalam ikatan kuat yaitu pernikahan. Juna senang perjuangannya tidak sia-sia. Sekarang dia adalah suami dari Medhira Utami, gadis yang selama ini di cintainya. Netra nya kembali dialihkan pada tamu-tamu yang datang. Tangan Juna menggenggam erat ke sela jari istrinya. Dira sedikit tersentak kenapa Juna tiba-tiba menggenggam tangannya. Di lubuk hatinya dia senang sebagai bentuk perhatian suaminya. Netra Juna terfokus pada sosok tamu yang datang. Meskipun dia tahu kalau Dira tidak akan terpengaruh tapi kegelisahan itu tetap menyerang.


Sosok itu berjalan mendekati pengantin. Dira terpaku saat tahu siapa yang datang. Namun dia bisa menyembunyikan ketakutannya. Sosok itu berjalan dekat ke pelaminannya. Bersama opa nya, sosok itu masuk ke tangga pelaminan.


"Selamat, ya Dira." Lelaki itu mengulurkan tangannya.


"Terimakasih, wawan."Jawab Juna.


Sosok itu adalah Wawan, pria dewasa yang pernah memenuhi relung hati Dira. Pria yang membuat Dira sempat down. Karena ternyata lelaki itu sudah beristri dan punya anak. Wawan tersenyum saat menyalami mantan kekasihnya. Dulu ada terbersit ingin memperbaiki hubungan setelah istrinya meninggal dunia.


Tapi sepertinya dia harus mengubur keinginannya dalam-dalam. Wanita impiannya sudah jadi milik lelaki lain. Di pelaminan itu menjadi saksi pertemuannya dengan Dira. Meskipun dia sudah bertemu Arjuna saat meeting beberapa hari yang lalu.


"Kak Wawan, terimakasih sudah mau datang." ucap Dira saat tangan mereka berjabat.


"Sama-sama. Semoga samawa, ya. Juna, aku titip Dira. Bahagiakan dia, jangan buat dia menangis ataupun tersakiti.


Dira aku minta maaf dulu sudah menyakiti perasaanmu. Aku tahu apa yang dulu aku lakukan salah. Sejak Yanti meninggal dunia, aku mencoba memperbaiki hubungan dengan anak-anakku. Namun semua butuh proses. Anak-anak marah padaku dan memilih tinggal dengan keluarga istriku. Aku juga bodoh, kemakan hasutan mamaku untuk mendekatimu. Karena pada awalnya aku tidak mencintaimu, tapi karena mama menyukaimu, maka aku ikut permintaan mama. Maafkan aku, Dira. Maafkan aku."


"Aku sudah maafin kakak. Dulu memang aku kecewa sama kakak, karena gara-gara kakak aku di cap pelakor. Kalau dari awal aku tahu kakak sudah beristri aku juga tidak akan mau denganmu. Setelah semua yang terjadi diantara kita, aku harap kita bisa mengambil hikmah. Semoga kakak menemukan pengganti istri kakak. Maaf kalau boleh tahu istri kakak sakit apa bisa meninggal dunia." Wawan tersentak, dia bingung harus menjelaskan apa pada Dira. Karena sebenarnya istrinya bunuh diri ketika mengetahui dirinya melamar Dira.


"Istriku hanya demam biasa. Namun Tuhan berkehendak lain." Sumpah Wawan tidak ada niat mau berbohong. Tapi dia tidak ingin mengacaukan hati pengantin yang berbahagia tersebut.

__ADS_1


"Kakak yang sabar,ya." ucap Dira.


Wawan meninggalkan pelaminan. Masih dari jauh memandang wajah mantan kekasihnya. Hanya kata maaf yang dia ucapkan di dalam hatinya. Sekarang harapannya pada Dira telah sirna. Dan dia memang harus fokus pada satu hal, memperbaiki hubungan dengan anak-anaknya. Lelaki itu berjalan meninggalkan kursi tamu.


"Ma, itu bukannya..." Feri melihat sosok yang tidak asing lagi dimatanya.


"Ya Allah benar dia. Kenapa bisa disini? Jangan sampai Dira lihat." mama Dewi takut putrinya down melihat ada Wawan disana.


"Siapa, ma?" Vira datang membawa kue baytat.


"Itu..." Mama Dewi melihat putri bungsu tidak berhenti mengunyah.


"Astaga, Vira. Dari tadi mama lihat kamu makan terus. Bisa nambah BB mu, nanti." omel mama Dewi.


"Nggak apa-apa, ma. Vira kan masih dalam pertumbuhan kesamping bukan keatas." goda Feri.


Vira melototi kakaknya. Dia kira sang kakak akan membelanya, tapi ternyata malah meledeknya.


"Sepanjang kamu hidup, memang sih badanmu segini saja. Nggak pernah lebih, tapi pengen nggak niat nurunin biar lebih fresh gitu. Untuk seumuran kamu harusnya 45 kilo bukan 55 kilo." Timpal Feri.


"Sudah! kalian kok malah debat sih! mama cuma khawatir kalau Wawan menemui Dira." kata mama Dewi.


"Oh, kak Wawan. Tadi dia ngobrol lama tuh di pelaminan sama kak Dira dan kak Juna. Aku lihat kak Dira biasa saja. Berarti mereka sudah saling melupakan yang pernah terjadi. Udahlah, ma. Tidak usah takut. Kak Dira itu sudah 25 tahun. Itu artinya pemikirannya sudah dewasa, nggak baperan." kata Vira pada mamanya.


"Semoga, ya, Ra. Mama cuma takut kalau Dira malah down." kata mama Dewi.


Mama kalau soal kak Dira cemasnya minta ampun. Kalau itu aku apakah dia secemas ini? sejak kak Satria melamar aku, mama malah berfokus sama jodohnya kak Dira. Bukan malah mikiran bagaimana persiapanku untuk menikah. Apakah aku ini anak tiri sehingga mama begitu sayang pada kak Dira.


Acara di tutup dengan doa yang dipandu bapak walikota Helmi Hasan. Kedua pengantin khusyuk dalam doa. Mereka lega telah menunaikan acara ini. Meskipun tidak ada memakai resepsi seperti kebanyakan orang kota. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 22. 00 malam. Sesuai dengan kebiasaan disana kalau acara jangan terlalu lama.

__ADS_1


Pesta telah usai. Beberapa tamu pun sudah pulang ke rumah masing-masing. Tampak beberapa pekerjaan membereskan sisa-sisa pesta. Semua bekerja sesuai tugasnya. Termasuk mama Dewi dan Feri yang tak hentinya ikut membantu panitia. Dira dan Juna mengantarkan para tamu yang akan pulang ke hotel.


"Sekali lagi saya berterimakasih atas kedatangan kalian disini. Saya tidak menyangka jauh-jauh dari berbagai daerah datang ke sini. Saya terharu ternyata masih ada yang mau baca kisah kami." kata Dira.


"Iya, Dira. Kami juga senang, diajak jalan-jalan ke tempat yang belum pernah kami datangi. Sekalian pengenalan daerah. Kami juga berterima kasih sudah diundang ke pernikahan kalian." kata ibu Asma Susanti, selaku ketua rombongan.


Para tamu pun telah masuk ke mobil. Mereka pun pamit untuk kembali ke hotel. Setelah kepergian para tamu, Juna dan Dira pun kembali ke kamar. Dira yang masih menggunakan baju pengantin pun melepas lelah.


"Sayang," Juna duduk merapat dekat istrinya.


"Mas, aku mau mandi, gerah banget." kata Dira.


"Tapi ini sudah malam, sayang. Nggak bagus mandi malam." Juna sudah menempelkan punggungnya dadanya di punggung Dira.


"Tapi nggak enak rasanya, mas." Dira tidak bohong dia memang merasa tubuhnya lengket karena keringat.


"Kita mandi bareng, ya. Aku takut kamu kepeleset di dalam. Atau nanti ada apa-apa sama kamu."


Dira mengerutkan dahinya. Dia bukan orang kampung yang gaptek sama sistem mandi modern.


"Nggak aku bisa sendiri!" Dira melepaskan diri dari pelukan suaminya. Lalu masuk ke kamar mandi sambil menutup pintu dengan keras.


*


*


*


*

__ADS_1


Siapa yang nunggu malam pertama mereka? nanti bakal di ceritakan.


__ADS_2