Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 127


__ADS_3

"Jadi kamu tidak tahu siapa kak Maria, Dira?" kata Ayu saat Dira menceritakan sekretaris baru suaminya.


Entah kenapa saat mendengar suaminya punya sekretaris perempuan nyali menjadi ciut. Oke, saat ini dia adalah pemenangnya, karena dia adalah istri sah Arjuna. Namun, setelah tahu kalau sekretarisnya adalah perempuan muda yang sepantaran suaminya. Entah kenapa dia mulai kurang sreg dengan wanita itu.


"Emangnya dia siapa sih? teman seangkatan Mas Juna kan?" jawab Dira.


"Huft, polos banget kamu, Ra." jawab Ayu.


"Ayolah, jangan bikin kakak iparmu mati penasaran."


"Heiuuh, giliran ada maunya baru deh ngaku kakak ipar."


"Hehaaha ... kan emang aku kakak iparmu sekarang." jawab Dira.


Dira mengerutkan keningnya. Jujur dia akhir-akhir gampang banget cemburuan. Apalagi kalau suaminya lambat pulang. Dia tahu kalau jarak Jakarta Bandung tidaklah dekat. Butuh 4 jam untuk sampai ke rumah. Jarak Lembang dan kota Bandung juga berjarak beberapa jam. Belum lagi menghadapi kemacetan.


"Kamu harus jaga Juna dari Maria," itu yang dia dengar dari Feri.


"Kenapa, kak?" tanya Dira.


"Maria itu cantik, dia pernah suka sama Juna. Jadi seperti kata kakak tadi. Hati-hati, kalau dia bisa berpindah hati dari Delia ke kamu, dia juga bisa berpindah hati ke wanita lain."


"Feri, kamu jangan bicara seperti itu pada adikmu. Itu sama aja mendoakan rumah tangga dia hancur." jawab mama Dewi.


"Feri cuma mau ngingetin Dira,ma." jawab Feri.

__ADS_1


"Kalau mau ngingetin jangan seperti itu. Itu sama saja kamu menakuti adikmu, Feri. Sekarang mama mau bicara penting sama kamu."


Feri mengikuti mama Dewi ke ruang kerjanya. Feri apa yang akan di bahas mamanya. Pasti soal kasus dirinya. Apalagi beberapa hari ini petugas KPK mau datang menemuinya silih berganti.


Feri duduk di kursi berhadapan dengan sang mama. Wajah mama Dewi yang tadinya tenang, sekarang tampak tegang.


"Mau mau tanya soal kasus yang kamu alami. Apa benar kamu pernah menyabotase perusahaan orang lain."


Feri hanya menunduk tanpa berani menatap mama Dewi.


"Jawab, nak! apa benar kamu seperti itu? kenapa kamu melakukannya?" suara mama Dewi mulai sendu.


Feri tahu akan ada berimbas dari masalah ini. Tapi saat itu Feri hanya memberikan pelajaran pada Glen agar tidak sombong. Tersebarnya video Glen yang sedang mabukan dengan wanita malam juga mempengaruhi kondisi perusahaan. Feri hanya melakukan itu, dan dengan berita itu perusahaan akan tumbang dengan sendirinya. Jadi bukan salah dia juga kalau akhirnya semuanya hancur.


"Maafkan Feri, ma. Feri melakukan itu karena dendam pada pemiliknya. Dia juga yang membuat Feri di jebak waktu SMA. Mama ingatkan waktu Feri dituduh memakai narkoba, padahal tes urinenya negatif. Tapi karena kasus itu image Feri sangat buruk di sekolah."


"Tapi kamu tidak harus melakukan semua itu. Di balik perbuatanmu, ada orang-orang yang mengais rezeki di perusahaan itu. Ada orang-orang yang akhirnya menjadi pengangguran.


Kamu tidak lupa, nak. Perusahaan kita pernah mengalami hal ini. Dimana karena ulah papa kamu. Apakah kamu mau mengulang kelakuan papamu, hah!"


"Maaf, ma." Feri hanya menunduk.


Feri meninggalkan ruang kerjanya. Mama Dewi sudah lebih dahulu keluar dari ruangan. Feri hanya menatap pilu saat punggung wanita yang sudah melahirkannya berlalu dari hadapannya.


Feri duduk menatap laptop kerjanya. Matanya melirik waktu yang sudah cukup larut malam. Helaan nafas panjang terdengar dari bibirnya. Namun namanya pekerjaan harus di selesaikan. Setelah menutup laptopnya. Feri kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Matanya menatap langit-langit kamar. Pikirannya menerawang ketika mengingat kekecewaan sang mama.

__ADS_1


"Maafkan Feri, Ma,"


"Maafkan aku, Tina,"


......................


Malam ini Tina tidak bisa tidur. Sambil duduk di ranjang rumah sakit. Menemani mamanya yang sudah dua malam belum bangun dari tidur panjangnya. Sesekali Tina mengusap wajah sang mama yang berkeringat.


"Mama, Tina kangen sama mama. Tina minta maaf kalau masalah ini malah membuat mama drop. Tina juga minta maaf tidak mendengarkan nasihat mama waktu itu.


Sebenarnya Tina juga malas membuka kasus ini. Tapi pakde bilang ini untuk masa depan Amar. Tapi Tina sadar, tidak bisa selamanya kita mengandalkan orang lain."


Tina sudah berkomitmen akan terus menjaga dan mengawasi ibunya yang sedang sakit. Dia juga tidak mau memikirkan masalah kasus sabotase tersebut. Amran sebagai paman hanya bisa mendukung keputusan keponakannya.


"Pakde mau bicara soal sekolah Amar. Kalau saya masukkan ke SD biasa, apa kamu keberatan? karena Amar di tolak di SD Favorit." cerita Amran saat menjenguk adik iparnya yang dirawat.


"Tidak masalah, Pakde. Yang penting Amar sekolah. Karena usianya sudah lewat dari masuk SD seharusnya. Ada yang nerima dia sudah Alhamdulillah." jawab Tina.


"Yasudah, Pakde hanya minta persetujuan kamu saja. Karena mamamu sedang sakit, jadi walinya Amar adalah kamu."


Sebenernya Amar tidak pernah ku daftarkan di sekolah favorit. Untuk seumuran Amar yang banyak ketinggalan pelajaran, memang lebih pantas di sekolah biasanya yang murah meriah. Batin Amran.


Wajah wanita berusia 28 tahun tampak lelah. Kepalanya disandarkan ke dinding rumah sakit. Air matanya yang sedari tadi membasahi wajahnya kini hanya meninggalkan sisa sembabnya.


Tina merasa lemas memaksakan diri berjalan menuju kamar kecil. Meskipun begitu tak menyurutkan niatnya untuk shalat malam.

__ADS_1


__ADS_2