
Seharian aku tak tenang
Seperti orang kebingungan
Pikiranku tak karuan
Khawatirkan kamu di sana
Tak tahu apa gerangan
Mungkinkah di sana kau rasa bahagia
Atau malah sebaliknya
Telah lama kita tidak bertemu
Tak pernah ku dengar berita tentangmu
Apa kabar kamu sayang apa kabar kamu sayang
Seharian aku tak tenang
Khawatirkan kamu di sana
Tak tahu apa gerangan
Mungkinkah di sana kau rasa bahagia
Atau malah sebaliknya
Telah lama kita tidak bertemu
Tak pernah ku dengar berita tentangmu
Apa kabar kamu sayang apa kabar kamu sayang
Aku kan terus mendoakanmu
__ADS_1
Walau tak ku dengar berita tentangmu
Apa kabar kamu sayang apa kabar kamu sayang di sana
Alunan lagu dari armada terdengar di pelataran cafe ceria. Dimana ada Dira, Feri dan Arjuna menikmati makan siang bersama. Penyanyinya memang bukan armada, tapi penyanyi yang berdiri sebagai biduan cafe. Juna dan Dira duduk saling berhadapan. Tadinya Dira enggan ikut dengan acara makan bersama. Kalau dia tahu orang itu adalah Arjuna, lebih baik tidak terlibat acara meeting tersebut.
lagu yang dinyanyikan oleh biduan bukan berdasarkan keinginan program cafe. Ada seseorang yang mereques lagu tersebut. Seseorang yang sedang merindukan senyum dan tawa milik wajah manis yang dicintainya. Mata lelaki itu tak pernah lepas dari bidadari di hadapannya.
Feri sejak tadi memperhatikan gerak-gerik keduanya. Seakan paham suasana hati sahabatnya dan adiknya. Sambil menikmati alunan musik, Feri pun memilih pindah kursi agar tidak menggangu keduanya. Dira menyadari kakak sudah berpindah, dia bangkit namun di tahan Arjuna.
"Kamu tega meninggalkan klien sendirian." sahut Juna.
"Yaudah, kamu mau pindah sama kak Feri silahkan."
"Ra, aku maunya kamu yang disini." tangan itu menggenggam erat. Pelan-pelan Dira melepas tangan itu.
"Please, ini urusan kerja. Jadi tidak urusannya dengan kita." Dira pergi pindah ke kursi dimana Feri sedang asyik dengan gawainya.
"Kok pindah? bukannya ini yang kamu tunggu sejak dulu."
"Kenapa, Ra? kenapa kamu masih hidup dalam kemunafikan. Kenapa kamu tidak mau mengakui kalau ..." Feri merasa handphonenya bergetar. Lelaki itu malah meninggalkan adiknya duduk sendiri di cafe.
Dira memejamkan mata sejenak, ada nada berat dalam hatinya. Dia pun memilih untuk ikut keluar dari cafe.
"Kamu tahu, Dira. Rindu itu berat. Ya walaupun bobotmu nggak berat. Tapi aku merasa berat, berat sekali menahan rasa yang bergejolak di dada. Mungkin kedengarannya konyol. Tapi inilah yang aku rasakan.
Dira kita sudah saling mengenal bukan hanya sebentar. Tapi sudah dari kecil. Banyak hal yang sudah kita lalui bersama-sama. Tawa, tangis, suka maupun duka sudah kita jalani bersama-sama. Kamu pernah memintaku untuk menjadi suami impianmu. Bolehkah aku menjadi bagian dari cita-citamu."
Dira maukah kita memulai semuanya dari awal lagi. membangun rasa cinta yang sudah lama terpendam. membangun perasaan cinta yang belum kelar. melupakan rasa sakit yang pernah kita rasakan dulu.
mau kah kamu jadi pacarku, pacar seorang Arjuna Bramantyo. lelaki yang baru menyadari cinta itu ada di depan mata. bukan jauh dimata." Para pengunjung cafe menyerukan agar Dira menerima cinta Arjuna.
"Sudah kamu terima saja. Kakak restui kok." Ujar Feri yang langsung menarik Dira berjalan keatas panggung.
Dira bingung harus jawab apa. Disisi lain dia senang dengan pernyataan cinta Arjuna tapi ada sisi yang lain membuatnya takut membuka hati untuk lelaki lain. Dira memilih turun dari panggung. Lalu berlari keluar cafe.
"Jadi bagaimana?" suara bariton dari seberang menanyakan tentang pernyataan cinta Arjuna.
__ADS_1
"Gagal, opa. Dira-nya malah kabur." jawab Feri dalam sambungan telepon.
"Yah, kenapa dia mesti kabur?"
"Opa,kan tahu sendiri Dira tidak terlalu suka keramaian di depan umum. Jadi runyam deh rencana kita."
"Yaudah, langkah terakhir cuma satu. Acara pertemuan keluarga. Opa cuma mau adikmu mendapatkan pendamping yang tepat yaitu Arjuna." Ucap opa Han.
Sebenarnya semua keluarga sudah diberi tahu tentang siapa yang jadi calonnya Dira. Feri dan Dewi yang pertama diberi tahu setuju. Mereka sudah mengenal Arjuna dengan baik. Feri maupun Dewi pun sudah tahu kalau Juna dan Delia sudah putus. Mereka pun mendengar informasi kalau Juna pernah melamar Dira. Tentu saja informasi tersebut dari mulut Vira.
Vira duduk di salah satu cafe ternama. Sejak putus dari Satria, Vira sering meluangkan waktu bersama laptopnya. Entah itu untuk buka sosmed, bikin artikel kecil, atau cuma buka games. Semua itu di lakukannya menepis rasa bosannya. Tangannya terus menari di atas keyboard laptop, sambil mendengarkan lagu baby one more time-nya Britney Spears.
Memang beberapa waktu yang lalu Dion pernah menembaknya. Di depan Satria yang sedang bersama seorang wanita lain. Saat itu, yang ada dalam pikirannya hanya memanasi Satria, membuktikan pada mantannya kalau dia sudah move on. Tapi nyatanya, Dion hanya bercanda saja.
"Maaf, Vira. Saat itu aku hanya iseng saja. Nggak menyangka kamu malah menerima cintaku. Aku tahu kamu nggak sungguh-sungguh. Kamu mau manasin kak Satria, kan. Sepertinya kalian lagi ada masalah,ya? sebenarnya aku sudah punya seseorang. Jadi aku minta maaf soal pernyataan cinta tersebut." ucap Dion saat lelaki itu datang ke rumahnya.
Vira sedikit kesal karena lagi-lagi dirinya hanya dipermainkan. Sama saat SMP dulu, ketika temannya menyarankan mendekati Dion dengan ikut klub basket. Jujur dia tak suka basket tapi demi Dion, Vira rela masuk klub yang tidak disukainya.
Disitulah pertemuannya dengan Satria. Bagaimana lelaki itu menawarkan diri untuk mengobati luka kekecewaannya pada Dion. Dalam sekejap hidup Vira berubah, sikap Satria yang penyayang mampu membuatnya bertahan. Satria yang banyak mengalah saat dirinya yang masih ke kanak-kanakan. Satria yang selalu mengajarkan banyak hal.
Vira menghirup udara dingin di teras cafe. Matanya memutar melihat di sekelilingnya. Semua yang ada di cafe mempunyai pasangan. Sedangkan dirinya hanya berpasangan dengan laptop.
"Betah amat sama laptop." Vira menoleh pada sosok yang menyapa.
"Kamu bukannya ..."
"Lupa, ya! hiks hiks hiks aku sedih dilupakan sama cewek yang paling imut."
Vira hanya tersenyum kecil tapi ekspresi datar.
"Kamu ..."
"Aku Rudi,. calon jodohnya Savira Gayatri." Lelaki memaksa Vira bersalaman.
"Deal, ya ... kalau kamu menerima salamku artinya kamu menerima aku sebagai calon jodohmu."
"Whaaaat!"
__ADS_1