Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 66


__ADS_3

Ayu duduk di sebuah kuda besi yang berwarna hijau. Pikirannya menerawang dengan apa yang di ceritakan Rena tadi. Dadanya semakin terasa sesak. Masih belum percaya dengan apa yang dia lihat tadi. Suatu kebohongan yang dilakukan Delia. Tangannya memegang pinggang si pemilik kuda besi tersebut.


"Sudah sampai, mbak." Sapaan si pembawa kendaraan.


Sejenak Ayu merubah posisi duduk menjadi berdiri. Tangannya menyerahkan uang lembaran hijau dua lembar pada sang pengemudi. Beberapa saat dia sudah berdiri di depan pintu rumah beraksen Mediterania.


"Ingat, yu. Ini bulan ramadhan. Jadi jangan sampai kamu menguras tenaga untuk marah-marah pada Delia. Tapi yang dilakukan Delia sudah keterlaluan, dia membohongi kakakku. Membohongi orang-orang disekitarnya.


Ya Allah, aku harus bagaimana?"


Ceklek!


Assalamualaikum


Ayu memberi salam saat menunggu pemilik rumah di depan pintu. Tangannya terus berbolak balik, matanya memutar kanan kiri. Melihat aksesoris rumah yang terpajang di depan teras. Termasuk melihat patung mirip seorang wanita yang sedang menggendong bayi yang terpajang di dekat pagar.


Rumah milik tuan Shahab tidaklah luas seperti layaknya rumah di sinetron. Di depan pintu rumah hanya ada taman yang sebesar sepetak sawah. Rumah Delia juga bukan dua tingkat seperti rumahnya yang dulu. Semua kegiatan rumah tangga terpusat hanya di lantai bawah.

__ADS_1


"Waalaikumsalam" suara manis muncul saat pintu dibuka.


"Ayu!" serunya.


"Ayo masuk." ajak Delia pada sahabatnya.


"Bi .. tolong buatkan..."


"Del, aku puasa. Emang kamu tidak puasa?"


"Oh, maaf. Aku lagi palang merah." Jawab Delia yang memposisikan duduk di samping ayu.


Seketika Ayu menghela nafas, mencoba mengatur ritme alur yang dia buat. Tatapannya mencoba ramah pada wanita di depannya.


"Yu," suara itu masih menunggu apa yang akan dia ucapkan.


"Del, tolong jelaskan ini." Ayu menyerahkan photo wisuda yang dia dapat dari iparnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu bohong sama kami, Del? kamu anggap kami ini sahabatmu apa bukan, sih? kamu tahu, Del. Kakakku sempat putus asa ketika kamu tanpa kabar selamat satu tahun lebih. Kamu tahu, Del, dia sempat mencoba menyusulmu ke London, tapi papamu meyakinkan kalau kamu baik-baik saja."


"Yu," Delia mengendurkan nafasnya dengan pelan.


"Baiklah, aku di fitnah saat di London. Papaku berusaha membersihkan nama baikku di sana. Sayangnya, karena kami orang luar jadi masih kalah dengan kekuatan birokrasi disana. makanya papa memintaku pindah di Bandung. Aku selama 1,5 tahun di sana bekerja sambil kuliah. Setelah selesai S2 di Bandung, aku tidak langsung pulang ke sini. Melainkan membantu papa di Lembang."


"Tapi kenapa kamu menyembunyikannya semua ini dari kami? selama kita berkomunikasi kamu tidak bilang hal ini pada kami." ayu masih belum puas dengan jawaban Delia.


"Maaf, bagiku masalah aku kuliah dimana itu urusan pribadiku. tidak semua hal yang harus aku ceritakan pada kalian. Jadi bukan urusan kalian aku dimana selama satu tahun ini." Delia tegas.


"Kalau dia sedih saat aku tanpa kabar, kenapa dia malah dekat dengan Dira. Itukah yang dinamakan setia? aku tidak yakin, yu. justru aku melihat kak Juna malah mencari kesempatan mendekati wanita lain. Ya, walaupun aku tahu Dira dari dulu suka sama kak Juna. Dan Dira memanfaatkan masalah kami dengan memberi harapan pada kak Juna."


"Tidak, Del. Kak Juna selama ini belum peka kalau sebenarnya yang dia cintai itu, Dira. Bukan kamu, kamu tidak lupa dengan semua hal yang kamu kirim buat kak Juna? Dimana semua itu berasal dari Dira.


Aku malah menangkap kalau kak Juna cuma kagum dengan kecantikanmu.


Kak Juna suka dengan puisi itu, berarti dia suka dengan hal yang dibuat Dira. Jika dia tahu semua ini, aku yakin kak Juna menyadari kalau perasaannya selama ini buat Dira."

__ADS_1


Delia mengepalkan tangannya dengan erat. Ada rasa tidak suka saat ayu malah membela Dira. Meskipun sebenarnya dia membenarkan apa yang di ucap Ayu. Namun dia tetap kekeuh akan mengambil kembali Arjuna dari Dira.


__ADS_2