Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 119


__ADS_3

POV JUNA


Cinta kadang tidak tahu kapan datangnya. Tidak tahu kapan menyapa sang pemilik hati. Ketika cinta sudah menyapa siapapun tidak akan bisa menghindari. Sekalipun menghindar ke ujung dunia pasti akan tetap bertemu juga.


Seandainya kita tahu dengan siapa akan berjodoh. Mungkin tidak akan ada yang namanya mencari pasangan, melewati beberapa fase pengenalan, kecocokan satu sama lain, serta melalui tahap yaitu pernikahan.


Aku tidak tahu pasti kapan merasakan hal ini. Tapi satu yang aku tahu, sejak dulu aku selalu ingin melindunginya. Meskipun saat itu aku juga sudah terpaut pada sosok lain. Dinding bentangan diantara kami sangat kuat saat itu. Namun dindingku pada sosok manis malah tak berjarak. Apakah tandanya aku dan dia(Delia) tidak berjodoh? entahlah. Saat itu aku juga tidak terlalu memikirkan hal itu. Aku hanya mencoba mengambil hatinya saat dia bersama adikku. Tapi aku tidak tahu saat itu ada yang sakit ketika bersama Delia. Aku juga tidak tahu kalau yang membuatnya selalu ketus adalah ketidakpekaanku.


Delia


Dia sebenarnya anak yang baik dimataku. Tak pernah dia menuntut hal yang berlebihan saat kami masih bertunangan. Hanya saja lagi-lagi dinding itu membuat kami merasa ada jarak. Bukan buat kami sih tapi buat aku. Aku juga ingin seperti pasangan yang lainnya bisa jalan berdua. Bisa beromantis berdua, tanpa ada yang mengatur ini itu.


Kelemahan hubungan kami cuma satu. Papanya terlalu ikut campur. Ya, memang Delia masih kewajiban orangtuanya. Selama aku belum menikahinya itu tandanya dia masih dalam hak orangtuanya.


Tapi suatu hubungan juga punya privasi. Aku juga ingin punya quality time buat Delia. Sayangnya Delia terlalu bergantung pada papanya. Gerak geriknya juga masih diatur papanya. Aku pun kena imbasnya. Apa pun yang aku lakukan harus ikut aturan papanya. Meskipun saat Delia kuliah di London, aku masih merasa menjadi boneka keluarga itu.


Tepatnya, saat papanya meminta aku keluar dari perusahaan Tante Dewi. Disitu awal kehancuranku sebagai lelaki. Aku merasa menjadi robot yang akan mengikuti kemauan mereka. Dan keputusanku cuma satu. Aku harus mengakhiri semua ini. Dan saat itu perasaanku pada Delia juga berakhir.


Dira


Sejak kecil dia selalu mengandalkan aku dalam segala hal. Salah satunya saat orang-orang mengejeknya karena kulitnya yang cukup gelap. Tapi sebenarnya dia manis, apalagi kalau sedang tersenyum. Dia makin manis kelihatannya.


Aku dan Dira sudah dekat sejak kecil. Kami selalu bersama-sama saat bermain. Dira bahkan sering menginap dirumahku saat masih sekolah. Kalau dia dan ayu mengerjakan tugas, atau dia minta tolong sama aku buat ajarin mata pelajaran yang susah dipahami.


Aku tidak pernah menolak saat dia minta buatkan tugas prakarya. Aku juga tidak pernah menolak saat dia minta diantarkan mencari bahan tugas. Sedari kecil,.Dira memang kurang dekat dengan kedua saudaranya. Feri terlalu sibuk dengan dunianya, apalagi dia sejak SMA ikut klub olahraga yang menyita waktunya. Meskipun aku tahu kalau kegiatannya supaya bisa melupakan Tina, cinta pertamanya. Makanya aku bisa maklum saat Feri jarang ada dirumah. Bagaimana dengan vira, sejauh yang aku tahu karena usia mereka sangat jauh, maka Vira pun juga punya kehidupan sendiri.

__ADS_1


Entah kenapa setiap ada yang menyakiti Dira, hatiku merasa sakit. Wanita yang sudah kuanggap seperti adikku sendiri sering disakiti oleh pasangannya. Saat SMP ada seorang teman sekolahnya mendekati Dira. Dengan segala cara dia memikat hati dira-ku. Sayangnya Dira tidak merespon temannya itu. Kudengar dari Ayu kalau si cowok sepertinya sakit hati dan ingin membuat perhitungan dengan Dira. Maka itu saat Dira pulang sekolah aku menunggu pemuda itu dari gerbang sekolah.


Dan benar saja. Pemuda itu mencoba menghadang Dira di depan gerbang sekolah. Aku dan temanku langsung saja menarik Dira masuk ke mobil. Sementara dia di dalam mobil aku lagi-lagi memberikan perhitungan pada pemuda itu agar tidak menggangu Dira.


"Kamu pikir saya tidak tahu apa yang mau kamu lakukan pada Dira? Hah!" aku menemui pemuda itu jauh dari jangkauan sekolah.


"Kamu siapanya Dira? sok-sokan mendatangi saya!" pemuda itu tak ada rasa segan atau pun takut.


"Saya kakaknya Dira! kamu mau apa!"


"Haaaah! kakaknya sudah kayak bodyguard! kasihan Dira di kuntit ama kakaknya, udah gede!"


PLAAAAAK!


"Kamu tahu siapa orang tua saya!" kata pemuda itu seakan tidak terima kemarahanku.


Dan beberapa hari kemudian aku tidak mendengar kelanjutan ancaman pemuda itu. Sudah ku tebak dia hanya mengancam saja. Kata Ayu, temannya itu hanya anak preman pasar. Bukan anak pejabat tinggi yang bisa menggunakan kekuasaannya. Ya, bisa jadi dia takut karena Dira termasuk anak yang mampu di kelasnya.


Kembali ke zaman sekarang. Aku masih menjadi Juna pelindung bagi Dira. Suka duka kami lalui bersama walaupun hanya ikatan persahabatan. Hingga saat aku merasakan kalau Delia sudah tak ada kabar, semua keluarganya bungkam tentang kabar Delia. Disitu aku merasa down, aku merasa jika selama ini hanya aku yang mengupayakan Delia. Bukan Delia yang juga mau memperjuangkan aku. Entahlah aku sering menumpahkan perasaanku pada Dira. Hingga perasaan itu datang dengan sendirinya.


Dan sekarang wanita yang ada di hadapanku sudah resmi menjadi istriku. Wanita yang menunggu lama aku menyambut perasaannya. Wanita yang ternyata mencintaiku saja kecil.


POV author


Juna merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Menunggu sang istri yang sejak lama berada dikamar mandi. Entah apa yang dilakukan wanita itu, Juna hanya menebak Dira masih grogi pada malam pertama mereka. Juna pun tak mau memaksa istrinya menunaikan jika memang belum siap. Bukankah cinta mereka sudah terikat? tentu dia bisa melakukannya kapan saja.

__ADS_1


Ceklek!


Pintu kamar mandi pun terbuka. Dira hanya memakai setelah baju tidur pendek. Tangannya masih menggesekkan rambutnya yang basah. Dira merasa rambutnya terasa gatal karena dia menggunakan sanggul modern. Dira sedikit paham bagaimana melunturkan bekas sasakan. Karena dia pernah belajar make up sama mendiang Meyra, kakak iparnya.


"Mas," sapanya melihat suaminya berbaring di ranjang pengantin.


"Iya, sayang." Juna bangkit dari ranjang.


"Kamu nggak bersih-bersih dulu? badanmu dah bau sama keringat. Kamu belum sholat isya kan?"


"Emang masih sempat? ini sudah jam berapa?" Juna melirik jam di dinding.


"Mas, waktu isya itu panjang sampai masuk subuh. Jadi masih bisa sholat. Jangan lalaikan waktu, mas.batas paling akhir sholat isya hanya sampai pukul 12 malam. Sekarang masih jam setengah sebelas malam. Masih ada waktu."


"Istriku ini memang the best." Juna menggenggam kedua pipi Dira.


"Sudah jangan banyak ngomong. Secepatnya bersihkan diri. Aku tunggu." Dira menarik tubuh suaminya dari tempat tidur. Juna sengaja memberatkan tubuhnya agar Dira jatuh ke tubuhnya.


"Ayo, mas. Sholat!"


BRUUUUUK!


Benar saja tubuh Dira sudah berada diatas Juna. Dengan cepat Dira beranjak dari suaminya. Tangan Juna menahan hingga Dira terduduk diatas paha suaminya. Juna membelai rambut Dira dari atas sampai bawah. Menyingsing rambut istrinya yang menutupi leher. Juna menelan salivanya. Tak sabar mereguk indahnya tubuh istrinya.


Dira lupa kalau tadi meminta suaminya sholat. Dia bahkan sudah lupa kalau sudah berwudhu. Tubuhnya pasrah saat Juna menarik dagunya, mencicipi bibirnya, tangan Dira melingkar di leher Juna. Kini tubuhnya sudah bersandar diatas ranjang.

__ADS_1


"Dira, aku menginginkannya."


__ADS_2