
"Kak aku mau kita dinner romantis." Pintaku pada kak Juna, tunanganku.
Setelah bertahun-tahun aku diberi kelonggaran karena sudah selesai kuliah. Aku langsung mendatangi kak Juna, lelaki yang tiada lelah mengejarku. Lelaki masih membuatku bertekut lutut dihadapannya. Meskipun, aku juga mulai pudar padanya.
"Biar aku tentuin tempatnya." Jawabnya sambil bersandar di balkon rumahnya. Ya, Aku tadi nekat masuk balkon kamarnya, sepertinya dia kaget dengan keberanianku.
"Del, kok kamu masuk saja. Tidak ketok pintu dulu." Sepertinya dia cukup kaget dengan kedatanganku
"Kenapa, kak? Biasa saja, kak. Bukannya cuma kita berdua di rumah ini. Ayu kan ikut suaminya, tante dan om juga tinggal di luar kota sekarang. Masa sih melewatkan kesempatan romantis berdua.
Bener, kan. Aku hanya memanfaatkan momen romantis berdua dengan kak Juna. Setelah empat tahun aku kuliah di london, juga satu tahun aku membantu kebun milik papa di lembang. Aku memilih kembali ke Jakarta. Melepas rindu dengan lelaki yang mencintaiku, aku memang mencintainya, tapi apa dia mau menerima keadaanku saat ini. Aku rasa tidak, setiap lelaki menginginkan wanita sempurna dan aku tidak memilikinya.
Kak Juna sepertinya tidak suka dengan ucapanku. Tampak di wajah seperti merasa terganggu dengan kedatanganku. Aku tidak peduli dengan hal itu, kurekatkan tubuhku menempel dengan pinggangnya. Aroma parfum khas dari tubuhnya membuatku terbuai. Ku dorong tubuhnya ke dinding, entah kenapa hasrat terbuai dengan tebalnya bibir kak Juna.
BRUUUUUK!
Seketika tubuhku terhempas ke ranjangnya. Aku yakin kak Juna sepemikiran denganku. Dia juga pasti juga berhasrat dengan tubuhku. Kubiarkan tubuhku terbentang lepas, kak Juna masih terdiam menatapku.
"Mana Delia yang aku kenal dulu?" Sahutnya.
Delia yang dulu sudah mati, kak. Hancur karena kecerobohannya sendiri.
"Kak!"
Lelaki itu melempak selimut ke tubuhku.
"Kamu terlalu berharga untuk hal seperti ini, Del. Kamu tahu, banyak perempuan yang mati-matian mempertahankan miliknya. Dan kamu malah ingin mengobralnya."
"Tapi cepat atau lambat kita pasti menikah, kak."
__ADS_1
"Apa setelah kamu mengajakku begini akan membahagiakan kedua orangtua kita.Enggak, Del. Kita melakukan terus kamu hamil padahal kita belum menikah, apa mereka senang dengarnya? Enggak, del. Papa kamu susah payah meminta kamu kuliah dan tidak boleh pacaran, apa kamu tidak takut akan ada reaksi lebih parah!"
Aku hanya menunduk, tadinya kupikir kak Juna akan meresponku.Tapi ternyata malah sebaliknya. Dia malah menasihatiku, dia malah mengungkit soal orangtuaku. Aku bangkit dari ranjangnya, jujur saat dia mendorongku tadi pinggangku terasa sakit. Ah, mungkin karena bekas operasi itu. Operasi yang aku lakukan menutupi masalahku pada orangtuaku. Sambil menahan sakit, aku mendekati kak Juna yang merenung di depan pagar balkon. Kulirik tatapan kak Juna kedepan. Tidak Delia, dia cuma menatap bukan mengintip. Tapi kenapa sejak Dira datang kak Juna tidak terfokus lagi padaku.
"Maaf." Hanya itu yang bisa kuucapkan kepadanya. Kak Juna kembali menolehkan pandangannya kearahku. Senyumnya yang ramah bahkan membuatku tidak berkutik.
Tuhan, Lelaki sebaik dia yang sudah aku kecewakan. Maafkan aku kak Juna.
Perkenalkan nama Adeliana Shahab. Kalau dari namaku saja kalian sudah pasti menebak kalau aku keturunan mana. Orangtuaku punya banyak usaha seperti kuliner, perkebunan dan pariwisata. Saat ini aku disibukkan mengelola perkebunan teh milik papaku di Lembang. Dulu aku pernah meminta kak Juna kerja dengan papa, sesuai dengan bidang kuliahnya Agronomi.
Sayangnya kak Juna menolak, dia lebih memilih kerja bareng kak Feri, kakaknya Dira. Kalian tahu kalau dulu saat masa muda papanya kak Juna adalah pegawai kakekku, kebetulan juga satu pendidikan dengan papaku. Sejak itulah keluarganya dekat dengan keluarga kami.
Aku hanya anak tunggal, Tunggal? Enggak sih, mamaku adalah istri pernikahan kedua. Aku punya 4 kakak laki-laki berbeda ibu. Istri pertama papaku sudah meninggal, tapi keempat kakakku tidak ada yang mau tinggal bersama kami. Aku juga tak tahu alasannya,hanya saja tiap ke rumah mereka tetap baik padaku.
Dari kecil papa selalu membatasi pergaulanku. Dia selalu ingin tahu asal usul temanku. Kalau dirasa tidak bagus ya mau tidak mau aku tinggalkan. Makanya temanku hanya berkisar Ayu, Eka dan Dira. Karena disamping orangtua mereka satu klub arisan, terus kami berasal dari sekolah yang sama.
Bagaimana dengan kedua orangtuaku? Mereka malah senang kalau aku dekat dengan Juna. Bahkan saat aku tamat SMA keduanya mengancang akan menikahkan kami setamat S2. Sejak kecil aku selalu di doktrin tidak boleh dekat dengan yang namanya lawan jenis. Papa selalu menganggap jika dekat dengan laki-laki pasti bikin nilainya turun. Lagi-lagi aku menurut, walaupun saat SMP aku sempat naksir sama Andra.
Hingga akhirnya kak Juna mulai mendekatiku. Dia menjadi guru les ku, dan papa sangat puas dengan hasil kerjanya. Cuma, ya gitu, kalau kak Juna mengajar aku selalu di jaga kak Oka, kakak ketiga ku. Aku yakin kak Oka sudah diperintahkan sama papa. Namun, kulihat kak Juna tak gentar. Dia malah tetap fokus dengan pekerjaannya.
Oke sekarang kembali ke masa sekarang.
Aku sudah berdiri di ruang tamu. Saat ini waktu menunjukan pukul 20:30. Kak Juna sedang mempersiapkan mobilnya untuk mengantarkanku. Sampai saat ini aku merasa masih didiamkan oleh kak Juna. Entah karena masalah tadi atau dia lagi pusing sama pekerjaannya.
"Del, mobil dah siap? Yuk.." Ajaknya.
"Kak..." Kutahan tubuhnya.
"Hmmmm... Del."
__ADS_1
"Maaf, soal tadi kak. Aku .." Kak Juna mengangkat dagu ku lalu tersenyum.
"Setiap manusia tidak luput dari kesalahan,Del. Aku yakin kamu tadi hanya mengetesku. Kamu tahu, aku tidak akan melakukan hal yang diluar batas. Aku juga yakin kamu masih menjaganya untuk pasanganmu nanti. Jadi aku harap kamu tidak akan mengulanginya."
Aku tertohok dengan ucapan kak Juna. Kenapa aku seperti ditampar.
Maafkan aku, kak.
Mobil kami melaju menuju kediaman keluargaku. Dimana saat kukabari akan pulang bersama Arjuna, tampak suara mamaku sangat senang.
"Kak .." Ku genggam tangannya yang sedang menyetir.
"Iya." Ah, suaranya menjadi candu saat aku mendengarnya.
"Makasih sudah setia sama aku." Dia pun tersenyum kepadaku.
"Sama-sama." Jawabnya.
Meskipun awalnya aku sekedar nyaman dan menerimanya karena perjodohan. Aku tak menampik kalau saat ini benar-benar menyukainya.
Dalam perjalanan pulang, aku mendengar ponselnya berbunyi. Terdengar samar samar suara orang menangis. Kulirik nama peneleponnya, ternyata Dira. Kenapa Dira menelepon kak Juna malam-malam?.
"Iya, Dira kamu yang tenang, ya. Jangan nangis. Bentar lagi kakak ke rumah. Kamu coba hubungi Feri dan Vira,Okey."
Kak Juna menutup teleponnya.
"Siapa kak?" Aku pura pura tidak tahu.
"Dira. Tante Dewi pingsan dikamar. Sementara Feri dan Fira sedang di luar. Kita balik ke rumah Dira dulu, Ya. Nggak papa kan?" Aku mengangguk. Meskipun aku melihat kecemasan di wajah kak Juna.
__ADS_1