Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 88


__ADS_3

Delia membelalakkan matanya saat bajunya dibuang keluar oleh papanya. Sebelum itu tuan Shahab membawa tali pelecut, Delia tak bisa melawan saat tali itu menyabet tubuhnya. Dia hanya diam menahan kesakitan.


Yasmin yang ingin ikut pergi dari rumah malah dikurung oleh Shahab. Suara Yasmin berteriak memanggil suaminya pun menghebohkan seisi rumah. Tapi tak ada yang berani melawan tuan Shahab. Termasuk Oka yang melihat adiknya di rajam oleh papanya.


"Ini ada apa, pa? kenapa papa memukul Delia?" tanya Oka.


"Ini hukuman untuk pezina seperti dia. Kamu tahu Oka? Dia hamil diluar nikah, itu sebabnya dia dikeluarkan dari kampusnya di London. Papa tidak pernah mendidik dia menjadi murahan seperti itu."


"Pa, kami di jebak seseorang. Dan seseorang itu sudah berada di penjara."


"Siapa laki-laki yang sudah menghamili kamu, Del?" tanya Oka ikut berang.


"Pasti dia hamil dengan bule disana, Oka!" tebak tuan Shahab.


"Maafin, Delia, pa" Sujudnya pada tuan Shahab.


CPLAAAAS!


CPLAAAAAS!


"katakan siapa pria yang menghamilimu!" Amuk tuan Shahab.


"Pa, ampun! Sakit, pa!" Rintih Delia. Matanya terus memejam menahan rasa sakit di punggungnya.


Oka merasa iba melihat adiknya merintih akibat cambukan papanya. Beberapa kali dia minta papanya untuk menghentikan cambukan tersebut. Namun tak menggoyahkan lelaki paruh baya itu memberi hukuman pada putrinya.


"Pa, jangan kejam pada Delia," seru Yasmin yang ternyata di bantu keluar oleh salah satu pelayan.


Yasmin menutupi tubuh Delia agar suaminya menghentikan cambukan tersebut. Namun tuan Shahab semakin kalap, dia pun ikut mencambuk tubuh istrinya.


"Ini hukuman untuk istri yang tidak mau menurut pada suami, istri yang tidak becus mendidik anak!" ucap Shahab sambil mencambuk tubuh istri dan anaknya.


"Papa malu punya anak seperti kamu! kamu tahu papa berusaha membangun image baik dimata orang-orang. Tapi kalau mereka tahu kamu melakukan hal ini. Papa sudah tidak punya muka lagi." keluh tuan Shahab. Tak terasa bulir air matanya menetes. Dia sebenarnya tak ingin melakukan ini. Tapi kalau tidak seperti dia akan terlihat sebagai ayah yang gagal.


"Ma, Del, Bangun!" Oka mengguncang tubuh adik dan ibu sambungnya. Namun keduanya tak memberi respon sedikitpun.


"Pa, mama dan Delia..." Pekik Oka.


Tuan Shahab mendengar teriakan anaknya langsung berhambur ke putri dan istrinya. Mereka memeriksa denyut nadi Delia dan Yasmin, keduanya sama-sama lemah.


"Bibi! siapkan mobil!" Pekik tuan Shahab.


Semua yang ada di rumah berhambur membantu tuan Shahab dan Oka. Mereka gotong royong memasukkan ibu dan anak tersebut ke dalam mobil. Ada sisi penyesalan tuan Shahab setelah mencambuk istrinya.


"Ma, bangun. Maafin papa, ma." isaknya sambil memeluk tubuh istrinya.


Mobil melaju kencang menuju rumah sakit mitra keluarga Kemayoran. Oka memegang tubuh adiknya yang agak panas, tampak Delia mulai bereaksi.


"Kak Juna, jangan tinggalkan aku," Igaunya.

__ADS_1


"Oka cepat kamu telepon Arjuna suruh menyusul ke rumah sakit!" titah Tuan Shahab.


"Tapi---" Oka sedikit ragu menelepon Arjuna.


"Ini demi adikmu,Oka. Papa mohon," suara tuan Shahab mulai menurunkan volumenya.


Oka menghela nafas berat, ditatapnya layar handphone. Tangannya menari ke layar pipih tersebut, beberapa saat kemudian dia mematikan handphonenya "Tidak diangkat, pa," jawab Oka terdengar pasrah.


Tuan Shahab mengepal tangannya. Seakan ada rasa marah pada lelaki yang pernah menjadi calon mantunya. Dengan kasar dia meraih handphonenya milik Oka, tak lama komunikasi tersambung.


"Saya tidak mau tahu! kamu ajak anakmu ke rumah sakit. Delia membutuhkannya, tidak adakah rasa empati sedikit pada Delia."


Tuan Shabab terus memandang anak dan istrinya. Demi apapun dia rela asalkan anaknya bahagia. Satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah mendatangkan Arjuna untuk kebahagiaan putrinya. Ini bukan pertama kalinya Yasmin pingsan ataupun luka karena ulah dirinya. Disaat yang bersamaan anak perempuan satu-satunya pun mencorengkan luka dihatinya. Dia hanya memberi pelajaran pada putrinya. Seakan apa yang dilakukannya selama ini terasa sia-sia. Seorang Shahab menangisi keduanya setelah sekian lama tidak pernah bermain dengan air mata.


klik


"Cal,bisa antar saya ke rumah sakit?"


"Bisa mas Juna, kapan?"


"Sekarang, Cal. Temenku kritis katanya."


"Baik, mas."


Ical langsung menghidupkan motornya menuju rumah sakit Mitra Keluarga Kemayoran. Jarak antara Margonda dari Jakarta pusat lumayan memakan waktu. Juna tadi di kabari oleh papanya terkait Delia yang katanya kritis. Sebenarnya dia malas menemui tuan Shahab. Secara dia sudah merasa menyelesaikan urusan dengan keluarga itu. Tapi setelah papanya membujuk, meminta menjenguk Delia demi kemanusiaan. Juna mau tidak mau mengikuti keinginan papanya.


Motor yang mereka naiki memasuki parkiran depan rumah sakit. Juna mencoba mengambil nafas saat berjalan memasuki koridor rumah sakit.


Dira?


Pandangan Juna beralih ke gadis pujaan hatinya. Dua pasang mata saling bertabrakan, sejenak mereka tenggelam dalam gejolak rasa. Dira cepat-cepat memalingkan wajahnya. Juna menunduk seketika, debaran jantungnya semakin kencang, sesekali dia senyum sendiri.


"Delia kenapa?"


"Delia bertengkar dengan papa" jawab Oka.


"Masalahnya apa?" tanya Juna


"Maaf, ini masalah inti keluarga. Jadi kami tidak bisa sembarang cerita dengan orang lain."


"Oke, jika kalian tidak mau cerita juga tidak apa-apa. Tapi kalau sudah membahayakan nyawa orang lain, apa kalian akan diam saja. Ini bukan hanya Delia yang masuk rumah sakit. Tapi Tante Yasmin juga ikut di opname."


Sebegitu perhatiannya kak Juna sama keluarga Delia. Mungkin dia masih ada rasa pada Delia.


Dira terus bermonolog saat melihat sikap care Arjuna pada keadaan Delia. Terbersit rasa rendah diri, kepalanya hanya menunduk saja. Rasa cemburu yang seharusnya tidak dirasakannya mulai tumbuh.


"Kak Juna, e ciyeeeee..." goda Eka.


"Apa sih?" Wandi heran melihat sikap istrinya.

__ADS_1


"Mas lihat kan, betapa perhatiannya kak Juna pada Delia, itu menandakan mereka masih bisa bersatu. Ya kan, Dira?" Eka mengalihkan pertanyaan ke Dira.


"Eh, iya, mereka serasi sangat serasi." Jawab Dira lirih.


"Nah, kan kak Juna Dira saja sependapat dengan aku."


Eka memandang sinis kearah Dira. Ada rasa senang membuat Dira malu di depan semua orang. Karena dimatanya Dira lah yang tak tahu malu. Karena masih punya muka untuk datang ke rumah sakit. Walaupun yang mengajak Dira adalah dia sendiri.


Juna memutar pandangan, tak ada sosok Dira yang tadi duduk di belakang Eka. Juna meninggalkan ruang rawat Delia, mencari keberadaan Dira.


Di depan ruang tunggu rumah sakit, Dira duduk termenung. Dia merasa hatinya sangat mengecil dengan yang terjadi tadi. Merutuki kebodohannya yang mau saja diajak Eka untuk melihat keadaan Delia.


"Nggak baik perempuan sering melamun" sebuah suara membuyarkan kesunyiannya.


"Kenapa kesini?"


"Kenapa, ya? soalnya ada insting kuat yang membawaku kesini."


"Insting?" Dira sedikit tertawa.


"Iya, insting cinta." Jawabnya sambil tersenyum.


"Heeh, merayu lagi."


"Namanya juga usaha. Toh, akhirnya berhasil bikin kamu tersenyum."


"Apaan sih!" Dira risih saat dagunya di colek.


"Kan tersenyum,"


"Udah balik sana ke ruangan Delia. Dia nunggu banget tuh."


"Kayaknya ada yang cemburu nih."


"Enggak!"


"Iya juga nggak apa-apa, kok. Terusin saja cemburuannya."


Tangan Juna menggenggam erat di sela jari Dira. Kedua saling memandang satu sama lain. Sesaat mereka saling terdiam tanpa melepaskan genggaman tangan. Dira tidak tahu harus bagaimana menanggapi apa yang dilakukan Juna. Satu kecupan mendarat di dahi wanita itu. Membuat Dira terdiam sejenak.


"Mulai sekarang aku akan selalu ada buat kamu. Apapun yang terjadi walaupun banyak orang yang akan menghalanginya kita. Aku tidak akan mundur lagi, Ra. Aku mau kita mulai dari awal lagi."


"Kak Juna ngomong apa sih?" wajah Dira memerah.


"Cuma mau ngomong kalau sekarang aku nggak jomblo lagi."


"Oh kakak balikan sama Delia?"


"Bukan."

__ADS_1


"Terus?"


"Pikir aja sendiri." Juna pergi sambil mengacak rambut Dira.


__ADS_2