
Area kampus terlihat ramai. Katanya ada salah satu personil Citayam yang jadi mahasiswa baru disana. Vira yang baru saja sampai di kampus melihat fenomena tersebut. Tapi dia tidak peduli, yang di pikirkannya saat ini masuk kelas dan membuka laptop.
Di ufuk timur, langit menyemburatkan warna putih. Fajar pun masih dengan pesonanya. Terdengar suara kumandang azan entah dari mana. Vira baru ingat kalau di depan kampusnya ada mushola yang baru di resmikan.
Gadis muda itu berjalan masuk ke dalam kampus. Tentu saja dia akan berbaur dengan teman-temannya. Setelah libur dua bulan, ada rasa rindu berbagi cerita pada mereka. Sesaat dia menoleh kearah taman kampus. Tampak Elsa sedang duduk sambil bermain gawai. Vira pun langsung menemui teman karibnya tersebut.
Namanya Melsana Glorya Bernardito, sosok teman yang mengisi hari-hari seorang Savira Gayatri. Sosok teman yang ada dalam suka dan duka sejak SMA. Elsa bukan berasal dari keluarga sembarangan. Gadis muda usia 19 tahun itu anak dari petinggi dari sebuah stasiun televisi ternama.
Meskipun anak orang kaya Elsa tidak pernah menonjolkan diri dengan kekayaannya. Dia juga tidak pernah berpakai layaknya sosialita. Tapi Elsa selalu merasa dirinya bukan siapa-siapa. Di samping memang untuk ukuran tubuh Elsa yang tambun sangat susah menemukan gaya pakaian bak model.
"Kamu ngapain?" Vira mengagetkan Elsa.
Beberapa saat Elsa gelagapan melihat kedatangan Vira. Entah apa yang dia sembunyikan, namun itu tak membuat Vira kepo. Vira mendaratkan tubuhnya di samping Elsa. Bangku panjang di taman kampus pun penuh dengan tubuh Vira. Sambil menaikan kakinya di pegangan kursi tersebut.
"Ngapain kamu tidur di kursi? nanti dilihat orang nggak enak, Vira." sahut Elsa.
"Aku kangen menghirup udara dekat pohon ini. Setelah yang terjadi di keluarga. Kak Dira di culik sahabatnya sendiri, terus kak Dira masuk rumah sakit, tidak lama dia menikah. Sekarang kak Feri masuk penjara karena kasus yang aku sendiri kurang begitu paham. Kemarin dia bebas, hanya saja bebas nya dia bukan karena masalahnya selesai. Melainkan ada perjanjian antara kak Feri dan keluarga kak Meyra."
Elsa yang tadinya sibuk dengan ponselnya kini beralih menjadi pendengar Vira. Elsa paham masalah keluarga Vira yang tidak kunjung selesai karena diawali dengan sayembara jodoh. Sayembara dimana kedua kakaknya Vira diminta berlomba sebelum di langkahi adik mereka.
Tujuannya baik. Hanya saja banyak yang terkorbankan. Salah satunya persahabatan kakaknya. Keluarga Elsa dan keluarga Vira saling menjalin hubungan baik. Elsa sering menginap di rumah Vira kalau ada tugas. Begitu juga sebaliknya.
Makanya Elsa tahu semua permasalahan keluarga Vira.
"Dan nyatanya kamu yang kalah,Vira." kata Elsa.
"Heeeh, lebih baik aku kalah daripada aku menyesal nantinya." Vira terdengar lebih optimis.
"Kenapa begitu? waktu kamu batalin rencana pernikahan dengan kak Satria, aku bisa lihat kamu down banget. Makanya sempat ragu saat mau menceritakan soal malam lamaran kak ana dan Satria."
__ADS_1
"Ya, namanya juga patah hati, Sa. nggak gampang aku buat keputusan ini. Aku hanya ingin mengejar cita-cita. Jika aku menikah nanti belum tentu bisa mewujudkannya lagi." Vira menghela nafas panjang. Memandang ke segala arah.
"Sa, sekarang jam berapa?"
"Sudah jam setengah dua belas,Ra."
"Astaga! aku ada janji sama kak Dira. Dia pasti bakal kasih ayat-ayat cinta kalau terlambat." Vira tampak buru-buru.
"Ra, kita masih ada jam pak Johan!" panggil Elsa.
"Titip absen!" pekik Vira yang sudah jauh dari jangkauan.
"Hadeh!" Keluh Elsa.
Elsa memandang Vira dari jauh. Senyumnya mengembang melihat keceriaan Vira. Hidup itu tidak hanya berpusat pada masalah percintaan saja.
Dalam menjalani kehidupan, ada masanya manusia mengalami ritme pasang surut. Terkadang merasa bahagia, penuh syukur, dan positif. Namun ada kalanya juga merasa terpuruk, galau, dan merasa malas-malasan. Terutama jika sedang menghadapi masalah yang berat.
Ra, aku tahu perasaanmu saat ini. Bagaimana menjalani hari tanpa seseorang yang selalu ada buat kita. Ya, memang kita masih muda. Tapi kalau kamu tahu yang sebenarnya apa kamu siap? Ah, iya mungkin juga kamu belum bisa membuka hati untuk yang lain.
Suatu saat kebahagiaan itu akan datang, Ra. Percayalah.
Elsa pun kembali berjalan menuju gedung kampus. Hari ini mata kuliah pak Johan. Elsa menghela nafas panjang, dosen yang satu ini termasuk killer dalam memberi nilai. Meskipun cara dia mengajar termasuk santai plus bikin ngantuk.
Klik
"Tolong, nak. Pikirkan lagi! jangan gegabah mengambil keputusan." mohon mama Dewi.
"Enggak, ma. Feri yakin sama Mayka. Bukankah mama dulu sangat menyukai Mayka? seharusnya mama senang dong."
__ADS_1
"Dulu mama memang suka Mayka, mama malah berharap kamu sama Mayka daripada sama Meyra. Tapi saat itu keputusan di kamu. Sekarang keputusan ada di mama. Mama tidak merestui kamu sama Mayka. Apalagi kekeluarganya yang memenjarakan kamu."
"Feri, opa tidak setuju kamu sama Mayka! kamu tidak akan menikah dengan siapapun sebelum opa menemukan anaknya Heru.
Sejujurnya jodoh kamu adalah anaknya Heru! bukan Meyra atau Mayka. Jadi opa minta kamu sedikit bersabar."
Malam ini keluarga besar Jamal datang ke kediaman Amran, sebagai keluarga calon mempelai pria. Jamal di dampingi Ella dan suaminya. Beberapa kali Jamal berhembuskan nafas beratnya, seakan grogi pun menerpa. Handoko, suami Ella terus memberikan semangat pada kakak iparnya. Meskipun usia Handoko, dua puluh tahun dari Jamal. Namun kakak status Jamal lebih tinggi dari dirinya. Handoko mau tidak mau memanggil Jamal sebagai sebutan Mas, sama seperti istrinya memanggil Jamal.
Sementara di kamar, Tina di dandani oleh Mayka. Wajah Tina yang tadinya sangat polos berubah menjadi mempesona. Tangannya terus di bolak-balik. Ada rasa kecemasan yang melanda.
"Kamu tahu, Na. Kamu itu wanita paling beruntung. Dapat lelaki yang baik seperti Jamal. Aku senang jika kamu sudah menemukan jodoh."
"Kak Mayka, aku..."
"Kamu sayang kan sama kami, kalau kamu masih menganggap kami keluarga, tolong turuti permintaan papaku. Tolong terima Jamal, harapan kami sangat besar sama kamu, Tina." Tina memegang dadanya, rasanya sesak sekali. Sesaat suara susutan hidung terdengar. Mayka memandang kearah Tina.
"Maafkan kak Mayka, Na. Kakak hanya ingin memperjuangkan hak saya. Hak yang dulu di rampas Meyra." Batin Mayka.
Bukan hanya Jamal. Feri pun akan datang juga ke kediaman Amran. Membicaran lamaran mayka. Mama Dewi yang tadinya tidak menyetujui akhirnya ikut juga.
Assalamualaikum,
Sebuah sapaan salam terdengar menggaung di pintu depan. Istrinya Amran beranjak dari ruang utama menuju pintu luar.
"Ya Allah, besan."
Istri Amran pun mempersilahkan mereka duduk sambil menunggu, para calon wanita yang keluar dari kamar.
"Mayka, calonmu sudah datang." panggil bude.
__ADS_1
Feri! batin Tina.