
Masih Flashback 3
"Kamu apa kabar?" Juna dan Tina duduk diteras rumah Jamal.
Dua anak manusia satu angkatan pun saling bertegur sapa. Dimata Juna, Tina sudah banyak berubah. Tina teman seangkatannya yang paling merasa cantik seantero sekolah. Sekarang terlihat lebih sederhana. Wajahnya yang dulu suka dandan menor sekarang masih terlihat manis walaupun tanpa make up. Rambut Tina yang panjang serta suka berubah warna sekarang lebih fresh dengan pendek sebahu.
"Alhamdulillah baik, Juna." jawab Tina malu-malu.
Tina merapikan rok panjangnya. Dia juga merasa segan dekat Arjuna. Setelah kejadian yang dialami Feri, Juna mengeluarkannya dari kelompok belajar. Bukan hanya itu saja, Tina langsung dikucilkan satu sekolah. Bahkan saat itu keluarga Feri menyelidiki kasus obat di mobil Feri. Hingga Glen di keluarkan dari sekolah.
"Kamu tinggal disini?" Tanya Juna.
"Iya."
"Sudah berapa lama?"
"Delapan tahun."
"Wah, lama juga, ya. Apa yang terjadi sampai kamu bisa tinggal disini. Tina yang aku kenal anak orang kaya, selalu menena-mena pada oranglain. Sekarang tinggal disini."
Tina sudah paham reaksi Juna seperti itu padanya. Sama reaksi Feri saat mereka bertemu lagi di kantor. Tangannya hanya berpijit siku, dia merasa ucapan Juna memang untuk menertawakannya.
"Maaf, saya pulang dulu." Dia bukan cengeng namun lebih baik menghindar daripada mendengar Juna mengungkit masa lalunya.
"Tina." Juna menahan tangan wanita itu.
"Iya"
"Maaf, bukan maksud aku mengungkit soal dulu. Tapi saya cuma kaget melihat kamu tinggal di daerah sini."
Tina hanya tersenyum kecut. Juna melepaskan genggamannya lengan Tina. Lelaki itu mempersilahkan Tina untuk pulang. Namun panggilan Jamal membuatnya urung untuk pulang.
"Kamu mau kemana, tin?" Sapa jamal.
"Pulanglah, kak." Jawab Tina.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Ucapkan terimakasih mamamu. Nanti ajak Amar ke sini. Aku mau ajak dia jalan-jalan." Titah Jamal.
"Baik, kak." Tina berbalik lalu menghilang dari pandangan.
__ADS_1
"Mas..."
"Iya, mal. Jadi Tina cewek yang kamu maksud?" Jamal mengangguk lemah.
"Dia kerja?"
"Iya, mas. Kerja di kantornya mas Juna."
"Putra Nusa? bagian mana kok aku nggak pernah tahu."
"Office Girl, mas. Tadi saya lihat mas Juna ngobrol sama Tina. Tapi barusan mas Juna nanya pekerjaannya."
"Tina itu teman SMA saya." Jawab Juna.
"Oalah, dunia ternyata sempit, ya. Tina bilang bos nya juga teman SMA-nya."
"Iya, aku, Feri dan Tina kami satu angkatan. Tina dulu anak orangkaya."Kenang Juna.
"Saya tahu, mas. Tina sudah cerita sama saya semuanya. Perusahaan ayahnya di tikung sama teman partnernya. Termasuk mertuanya."
"Jadi Tina janda?" Juna kaget mendengar status Tina.
"Emang nggak boleh saya main kesini?"
"Boleh, mas. Cuma kaget aja mas Juna muncul setelah sekian lama. Mas Juna masih sama mbak Delia kan?"
"Sudah nggak lagi, mal"
"Kok bisa? Walaupun saya belum pernah lihat seperti apa putri Tuan Shahab, kalau lihat nyonya pasti anaknya cantik banget. Tuan Shahab disiplinnya tinggi, mas nggak lupa kan waktu den Rayyan dimarahi bapak. Sampai disuruh terjun langsung kerja jadi kurir. Disitu saya yakin, mas. Didikannya bagus."
"Iya, saya tahu itu. Tapi namanya sesuatu yang sudah retak susah buat benerinnya. Saya sudah berusaha bertahan tapi sepertinya ya sudahlah. Mal saya boleh minta tolong?"
"Apa, mas? Kalau saya mampu bisa dibantu."
"Saya mau tinggal disini sama kamu. Saya mau cari kerja apa saja. Yang penting halal. Bisa?"
Jamal tercengang mendengar permintaan Juna. Seorang Arjuna yang dia kenal meminta pekerjaan. Padahal dia tahu lelaki itu sarjana. Susahkah mencari kerja sehingga mengemis pada lelaki yang hanya tamat SMP.
Hidup seperti roda yang berputar. Ada kalanya kita di atas. Saat kita berada di posisi atas, kita memang bisa melakukan apa saja sesuka hati. Tapi kita harus ingat, di lain waktu bisa jadi kita berada di bawah. Posisi bawah itu pasti tidak enak, apalagi untuk orang-orang sombong. Itulah sebabnya, kita harus selalu berbuat baik agar posisi kita selalu baik di dunia ini.
__ADS_1
Kita harus tetap kuat dalam menjalani kehidupan. Sebesar apa pun hal yang menyakitkan menimpa kita. Seberapa pun kehilangan mencoba membunuh semangat kita. Hidup itu seperti roda, selalu berputar dan nggak pernah diam di satu titik aja. Akan ada yang pergi lalu datang mengganti. Ada masa kita bisa tertawa, dan kemudian menangis. Hidup tetap berjalan."
Hidup itu ibarat roda yang berputar. Kadang diatas, kadang dibawah. Seperti itulah kira-kira pepatah yang sering kita dengar dalam perjalanan hidup kita sehari-hari. Dan bila menilik dari berbagai cerita hidup seseorang yang berada disekitar kita, pesan tersebut sebenarnya terasa mengena sekali dan terlihat seperti memang benar adanya.
Kamu sedang merasa memiliki segalanya?, atau sebaliknya. Kamu sedang merasa kesulitan kerap menghantui langkah kehidupan mu?. Mungkin beberapa pertanyaan berikut ini dapat coba kamu jawab dan kamu mulai mengintrospeksi pribadi mu sendiri juga.
Kita harus tetap kuat dalam menjalani kehidupan. Sebesar apa pun hal yang menyakitkan menimpa kita. Seberapa pun kehilangan mencoba membunuh semangat kita. Hidup itu seperti roda, selalu berputar dan nggak pernah diam di satu titik aja. Akan ada yang pergi lalu datang mengganti. Ada masa kita bisa tertawa, dan kemudian menangis. Hidup tetap berjalan.
Setiap insan manusia pastilah pernah mengalami jatuh bangun dalam kisah hidupnya. Tidak ada seorangpun yang sempurna di dunia ini. Masalah akan selalu ada ketika kita masih bernafas.
Itu yang Juna lihat saat bertemu dengan Tina. Sosok Tina yang angkuh dan sombong. Sekarang menjadi gadis biasa, tak ada lagi terpancar keangkuhan dalam diri wanita itu.
Juna bersyukur Tina akhirnya menjadi gadis yang baik. Karena setiap kejadian pasti ada hikmah. Seperti proses perjalanan yang dialami Tina banyak memberi pelajaran.
Dan sekarang dia akan melaluinya. Memulai sebuah perjalanan menuju keberhasilan. Jika dia menjadi orang sukses, dia akan datang menemui Dira dan melamar gadis.
"Tapi sepertinya tidak mungkin aku bisa mengejarnya. Dira sebentar lagi akan menikah dengan Rian.
Ya Allah kenapa rasanya sakit sekali mengingat hal itu." Juna berdiri di teras milik Jamal. Hujan pun turun namun kakinya tak bergerak sedikitpun. Menikmati deras hujan yang membasahi tubuhnya. Halusinasinya berputar, seakan sosok itu di hadapannya. Suara itu memanggil " Kak Juna, ngapain hujanan nanti kamu sakit."
Di vila puncak milik Rian
Juna tersentak. Lamunannya tentang beberapa hari sebelum ke vila kembali memutar. Saat ini kakinya memang masih berpijak di sekitar teras milik Rian. Sama seperti dalam ingatannya, Juna juga saat ini merendamkan tubuhnya di tengah derasnya hujan.
"Kak Juna masuk! Kamu jangan cari penyakit." Sebuah suara datang membawa payung. Juna tersenyum saat tahu siapa yang menyusulnya.
"Ayo masuk!" Terdengar nada kecemasan dalam suara manis itu.
"Ra..." Juna melepas payung pegangan milik Dira.
"Kak." Tangan Juna menarik tubuh Dira lebih dekat.
"Lepasin, kak!" Dira memberontak.
Grep!
Dira merasakan sesuatu yang hangat. Hatinya merasa ada sesuatu yang melambungkan perasaannya. Juna menuntun tangan Dira keatas leher. Sesaat tubuhnya bersandar di salah satu batang pohon. Meskipun tubuh mereka basah karena hujan. Tapi entah kenapa Dira tak merasakan itu.
"Kak.."
__ADS_1
"Dira .... Menikahlah denganku."