Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 68


__ADS_3

Kumandang takbir menggema di antero negeri. Umat manusia di bumi pun menyambut datangnya bulan kemenangan. Hari raya idul Fitri telah tiba, hari yang dinanti setelah satu bulan menahan nafsu, lapar dan dahaga. Hari yang dinanti umat muslim seluruh dunia.


Kediaman Opa Han pun menjadi ramai dengan berkumpulnya anak cucunya. Suasana rumah yang biasanya hanya dia tempati bertiga dengan asisten rumah tangganya. Burhan senang kalau anak cucunya mau menginap di kediamannya. Biasanya dia yang datang ke rumah Dewi selama lebaran.


Menjelang lebaran, ada banyak persiapan tradisi yang dilaksanakan di hari Raya. Selain bersilaturahmi antar keluarga, kerabat, dan sahabat, menyiapkan berbagai macam menu penganan khas lebaran, istilah open house juga kerap terdengar di hari Idul Fitri.


Open house saat lebaran digelar sebagai wadah untuk silaturahmi dan bersosialisasi. Menjalin silaturahmi adalah salah satu amalan ibadah yang penting dalam ajaran agama Islam. Rasulullah bersabda bahwa barang siapa yang memelihara tali silaturahmi dengan sesama muslim akan mendapat berkah dan rahmat dari Allah SWT.


Setelah melaksanakan shalat idul Fitri, Dira dan keluarga besarnya melakukan sungkeman lebaran. Meminta maaf pada yang lebih tua secara bergantian.


"Maafkan Dewi, Om. jika ada kesalahan Dewi secara sengaja atau tidak sengaja. Dewi hanya manusia biasa yang tidak luput dari salah dan dosa."


Opa Han tersenyum mendengar ucapan keponakannya. Dimatanya Dewi tidak pernah mengecewakannya.


"Om maafkan apapun kesalahanmu, nak. Bagi Om, kamu tidak pernah mengecewakannya ataupun menyakiti perasaan om. Om justru minta maaf, karena perjodohan itu membuat kamu menderita. Om, sudah salah menikahkan Andre padamu."


"Om, apa yang terjadi padaku dan anak-anak adalah ujian yang diberikan Allah. Suka tidak suka kami harus melewatinya, Alhamdulillah kami pun bisa melaluinya."


"Opa, feri minta maaf kalau ada kesalahan yang saya lakukan baik sengaja atau tidak sengaja." Feri sungkem di tangan Opa Han.


"Dira dan Vira juga minta maaf kalau ada salah pada opa." Giliran Dira dan Vira sungkem di tangan Opa Han bergantian.


Setelah melakukan sungkeman pada opa Han. Mereka pun melanjutkan sungkeman pada mama tercinta. Secara bergantian Feri, Dira, dan Vira meminta maaf pada perempuan yang melahirkan mereka. Perempuan yang membesarkan mereka, suasana pun mendadak menjadi haru. Tangisan kebahagiaan pun tak luput dari semua yang ada di kediaman itu.


"Opa rasanya tidak sabar makan ikan bakar buatan cucu opa yang cantik ini. Cacing di perut opa sudah berdemo dari tadi." Ucap opa Han yang langsung membuat tawa seisi rumah.


"Ih, opa, aku kan jadi malu." Dira mukanya memerah saat opa Han memuji masakannya.


"Itu sudah jadi paket plus buat kamu untuk menjadi istri. Berbahagialah lelaki yang akan menikahimu, nak." Opa Han terus memuji cucu tengahnya.


"Sudahlah, opa, jangan di puji terus. Lihat deh, muka Dira sudah seperti kepiting rebus. Kalau di puji terus bisa-bisa kepitingnya kematangan." Goda Feri.


"Opa, lihat kak Feri gangguin aku terus!" Adu Dira dengan manja.

__ADS_1


"Sudahlah. Kalian ini sudah tua, masih juga saling ganggu seperti anak kecil." Mama Dewi mencoba menenangkan kehebohan dua anaknya.


"Sudah tapi belum nikah, hahahahaaha .." Vira tidak mau kalah menggoda kedua kakaknya.


Dira pun akhirnya mengejar adik bungsunya yang terus mengganggunya. Mama Dewi terus menegur keduanya supaya saling tenang. Opa Han melarang Dewi dan membiarkan mereka seperti itu.


klik


Disebuah perumahan milik keluarga Johan Bramantyo. Suasana lebaran mereka duduk di kursi ruang tamu. Tampak sang istri hanya duduk terdiam. Menatap sudut rumah yang terasa sepi.


Ayu sang putri bungsu sudah pamit tadi malam. Ayu diajak suaminya mudik ke Sukabumi tadi malam, maka acara sungkeman pun dilakukan tadi malam. Mereka tidak bisa melarang karena anak mereka harus ikut suaminya.


"Pa, mama rindu Juna. Seharusnya dia berkumpul bersama kita disini. Sekarang dia entah ada dimana, bagaimana keadaannya, apakah dia bisa menjaga kesehatannya. Mama ingin sekali bertemu Juna." Isak mamanya Juna sambil memeluk pinggang suaminya.


"Entahlah, ma. Aku rasa Juna pasti baik-baik saja. Dia laki-laki, jadi dia pasti bisa menjalani hidupnya. Papa kenal Juna, dia kalau ingin sesuatu pasti berusaha sendiri. Mama tidak lupa saat kita minta dia kerja di pabrik teh kita. Dia selalu bilang ingin mandiri, makanya kerja di perusahaannya Dewi. Karena dia tidak mau bekerja dengan jabatan gratis. Apalagi semua pekerja mengenal Juna."


"Mama janji kalau Juna pulang, mama tidak akan menentang apa yang dia mau. Mama janji, pa akan menuruti semua keinginan Juna. Asalkan dia tidak pergi lagi dari rumah kita."


Lelaki berusia 52 tahun tersebut duduk disamping istrinya. Terkenang masa-masa susah saat bekerja jadi penjaga gudang pabrik gula milik Burhan. Dia sudah berusaha keras bekerja di sana, namun gajinya tak bisa mencukupi semua kebutuhan, apalagi ketika istrinya sedang hamil Juna. Meskipun bantuan sering diberikan oleh atasannya, Johan masih merasa belum cukup. Dia pun segan terus meminta pada Burhan, hingga tawaran kerja dengan Shahab pun datang. Johan tentu saja tidak menampik kalau imingan jabatan dan kekayaan membuatnya berpaling ke saingan bisnis atasannya.


Baik saja tidak cukup, baginya materi segalanya. Tak berapa lama dia pun mendapat suntikan dana dari Shahab, hidupnya bergelimang harta. Dia pun menerima perjodohan dari tuan Shahab. Johan melihat Juna pun menyukai Delia, itu membuatnya tidak masalah.


"Assalamualaikum"


Suara bariton menggema di ruangan depan. Johan dan istrinya langsung berjalan menuju arah suara. Keduanya terpaku melihat siapa yang datang. Padahal baru saja mereka membicarakan sosok itu. Langkah wanita itu berjalan pelan, di usapnya wajah tampan muda di hadapannya "Mama, aku pulang."


Tubuh itu tegap itu bersujud di kaki wanita yang melahirkannya. Tangis dari ibu dan anak memecahkan keheningan pagi ini.


"Minal aidzin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin.


Juna minta maaf atas kesalahan Juna baik sengaja atau tidak sengaja. Juna selalu membuat mama marah."


Mamanya Juna membangunkan tubuh anaknya sedang bersujud. Dia tidak pernah merasa dikecewakan putranya. Baginya kepergian Juna adalah teguran sebagai orangtua. Dia merasa sudah egois memaksakan kehendak kepada anaknya.

__ADS_1


"Ma...,"


"Juna minta restu untuk.."


"Kalau untuk Delia papa restui, tapi tidak untuk Dira,..."


"Pa, mama mohon sekali ini saja turuti kemauan Arjuna." Pinta mamanya Arjuna.


"Baiklah papa kasih kesempatan kamu mendekati Dira, tapi ingat ini kesempatan terakhir. Jika gagal kamu harus tetap bertunangan dengan Delia."


...****...


Gema takbir telah berkumandang, tanda hari kemenangan telah tiba. Semoga kita dijauhkan dari segala prasangka buruk dan dendam. Taqaballahu mina wa minkum, minal aidin wal faidzin.


minal aidzin wal Faidzin


mohon maaf lahir dan batin


Dari


Melisa ekprisa


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2