
Dira duduk bersandar di jendela kamarnya. Mama Dewi mengajaknya pulang supaya Dira bisa menenangkan diri. Namun Opa Han meminta biar Dira di rumahnya sementara.
"Tapi, om. Bukannya kejadian dirinya dan Rian terjadi disini. Nanti Dira-nya makin down."
"Dia bukan down karena perpisahan antara dirinya dan Rian. Tapi dia sedang memantapkan mentalnya menerima kenyataan kalau dia tidak jadi menikah. Kalau boleh tahu berapa lama Dira menjalin hubungan dengan Rian?" Tanya opa Han.
"Baru tiga bulanan, om." Jawab mama Dewi sembari memandang Dira dalam keadaan tengah melamun.
"Ini semua salahku, om. Dira aku tekankan cepat menikah karena takut dia malu di langkah sama Savira. Maksud aku baik, om. Aku juga ingin melihat Dira punya pasangan setelah dulu dia sempat diajak menikah oleh anak temanku. Mereka tidak pacaran, namun tak ada angin dan hujan lelaki itu mendekatinya serta menemuiku untuk melamar Dira. Saat itu Dira masih mahasiswa, om."
"Lalu kenapa tidak jadi?" Opa Han masih penasaran kelanjutan cerita dari Dewi.
"Wawan ternyata sudah beristri, pa. Sudah punya anak pula. Dira down, seperti yang om lihat sekarang. Reaksi yang sama di timbulkan Dira." Jelas Dewi.
Dewi pun berjalan memasuki ruang tengah. Tubuhnya di rebahkan pada sandaran sofa. Sambil membuka salah satu toples kue di depan mata. Pikirannya menerawang dimana Dira sangat malu dengan kebohongan Wawan dan mamanya Wawan.
Sekarang Dira kembali mengalami hal yang sama. Serasa menjadi kutukan bagi Dira di sakiti saat menjelang menikah. Dewi merasa bersalah karena sudah meminta Dira mencari pasangan.
Sementara Vira berjalan menuju arah dimana Dira masih melamun. Dia merasa ikut andil dengan apa yang terjadi pada kakaknya. Vira duduk di samping Dira. Tangannya menggenggam erat pada jemari Dira.
"Kak!" Vira mencoba berkomunikasi dengan Dira.
Tak ada respon. Vira masih mengulangi panggilannya.
__ADS_1
"Kak Dira sepertinya masih kepikiran kak Rian, ya. Apakah secinta itu pada kak Rian?" Tanya Vira.
"Ra, apa ini karma buatku?" Dira tiba-tiba menyahut ucapan Vira. Namun pandangannya tidak menatap Vira.
"Karma? kakak tidak pernah mengganggu siapapun jadi kenapa harus disebut karma? Kakak dengar, ya? yang terjadi sama kak Dira itu bukan karma, tapi pertanda kalau kak Rian bukan jodoh kakak. Seharusnya kakak bersyukur karena tidak jadi dengan kak Rian." Ucap Vira.
"Kenapa harus Delia yang menjadi orang ketiganya. Kalau orang lain mungkin tidak jadi masalah, tapi ini Delia? orang yang sudah dianggap lebih dari sahabat.
Makanya aku bilang ini adalah karma. Mungkin karena antara aku dan ..." Dira enggan menyebut nama Juna. Rasanya dia selalu sesak jika mengingat yang terjadi antara dirinya, Delia dan Arjuna.
"Sebenarnya kakak cinta sama kak Juna, kan? Bukan sama kak Rian. Kakak jangan bohongi perasaaan kakak hanya karena tidak enak sama kak Delia. Kakak tidak salah, disini yang salah kak Juna. Mendekati kak Dira padahal urusannya belum selesai dengan kak Delia. Coba kakak ingat-ingat selama ini kakak bahkan banyak berkorban demi Delia. Kakak di suruh kak Delia mengirim surat cinta pada kak Juna. Padahal dia bisa saja memberikan langsung pada orangnya. Kenapa harus kakak yang menjadi kurirnya, itu karena dia tahu kalau kakak punya perasaan sama kak Juna. Mungkin kakak selama ini berpikir kalau aku masih kecil belum paham urusan kakak. Tapi bagiku, ikut campur dengan hal ini merupakan rasa sayangku pada kak Dira."
"Dan ..."
Vira tidak melanjutkan ucapannya. Tangannya berpegang seakan ada yang ingin dia ungkapkan tapi ragu.
"Dan ini semua juga salahku, kak. Seandainya aku tidak menerima lamaran kak Satria. Mungkin kakak tidak di rongrong untuk menikah secepatnya. Seandainya saja, aku bisa menahan kak Satria untuk menunda keinginannya menikahiku, mungkin semua ini tidak terjadi, kak. Ini semua salahku! salahku!"
Dira menoleh kearah Vira, tampak dia juga tidak enak dengan perasaan bersalah adiknya. Meskipun sebenarnya semua diawali dengan lamaran Satria ke Vira, tapi semua itu terjadi tanpa bisa mereka hentikan. Karena memang sudah suratan takdir berjalan seperti itu.
Tangan Dira menggenggam Vira, senyumnya mengembang indah di hadapan adik bungsunya.
"Bukan salah kamu, Vira. Ini semua terjadi sudah suratan takdir. Kakak sadar kalau yang mama lakukan karena dia sayang sama kita. Dia sayang sama kamu, sama kak Feri dan juga aku. Ya, walaupun kadang mama kita rada nggak selurus sama omongan.
__ADS_1
Kakak minta maaf, ya. Karena masalah Rian kemarin malah bikin suasana lebaran jadi runyam." Dira dan Vira saling berpelukan.
Saudara adalah keluarga yang paling dekat dengan kita. Biasanya kita akan mengenal makna solidaritas dari teman atau sahabat. Namun, teman sebanyak apapun yang datang pada akhirnya akan pergi meninggalkan kita. Lain halnya dengan saudara kandung, mereka akan selalu ada dan setia bersama kita.
Itu yang Dira dan Vira rasakan, meskipun mereka selalu di jejali salah paham. Namun, keduanya tak menampik kalau ada yang kurang ketika berjauhan.
Meski jarak memisahkan, kedekatan diantara saudara kandung masih akan terjalin dalam ikatan persaudaraan yang kental. Sejauh apapun atau bahkan berbeda tempat tinggal sekalipun, komunikasi akan tetap terasa dekat jika berbicara dengan saudara kandung.
Pernah suatu hari, saat Dira diajak mamanya pergi ke Bandung dalam seminggu. Sementara Vira tinggal di rumah hanya berdua dengan Feri. Vira merasa suntuk, apalagi Feri punya kesibukan sendiri. Pada akhirnya saat Dira pulang, Vira tak menyia-nyiakan kesempatan untuk quality time pada kakak perempuannya.
"Sekarang kakak jangan sedih lagi, ya. Vira yakin ada hikmah dibalik semua yang terjadi. Yuk, sekarang kita kumpul sama mama dan opa Han di ruang makan. Kakak tahu kalau mama cemas sekali melihat keadaan kak Dira seharian ini."
Mereka melenggang ke ruang makan. Dira mencoba menguatkan dirinya, dia harus ingat kalau ada orang-orang yang masih sayang padanya. Dia berjanji akan melupakan Rian meskipun tidak mudah.
"Dira?" Mama Dewi kaget melihat putrinya sudah bisa tersenyum. Wanita berusia 52 tahun tersebut memeluk putri keduanya dengan lembut. "Kamu tidak apa-apa,nak." Dewi mencoba meyakinkan apa yang dilihatnya saat ini.
Dira mengangguk. " Aku tidak apa-apa, ma, opa dan kak Feri. Dira sadar kalau semua ini tidak perlu ditangisi. Toh, itu tanda Rian bukan jodoh Dira."
"Ehm .. itu berarti kamu mau kan ..."
"Om, please jangan dibahas dulu."
"Mama, opa Han, Vira dan kak Feri. Dira ... " Lama dia menjerat ucapannya. Matanya berputar ke arah orang-orang yang berada di meja makan.
__ADS_1
Mungkin ini sebagai obat melupakan Rian, tapi juga sebagai cara melupakan kak Juna. Aku tidak mau berurusan dengan yang ada hubungannya dengan Delia. Aku capek!
"Aku menerima rencana perjodohan Opa. Tapi kasih Dira waktu, opa. Untuk menyiapkan mental Dira sementara ini. Kalau seandainya Dira tidak cocok dengan calon pilihan opa, boleh Dira menolaknya." Opa mengangguk menandakan dia menerima syarat dari Dira.