
Dira duduk disebuah bangku di dekat abang jualan cilok. Meskipun sudah berusia 25 tahun, tak menampik kalau dirinya mengabaikan rasa malu makan dipinggir jalan. Meskipun dia sering diledek Vira karena masih suka jajan di pinggir jalan. Dira tetap menjadi dirinya sendiri.
Rian hanya duduk disampir tanpa memesan makanan. Dira pun merasa kalau Rian tidak suka makanan pinggiran.
"Dira." Rian mencoba bicara dengan nada serius.
"Hmmmm... " Masih dengan sikap datarnya Dira mencoba menatap Rian.
" Aku mau ngomong."
"Ya, sudah ngomong saja."
"Hmmm... gimana, ya? Dira apa kamu sedang dekat dengan lelaki lain?"
"Tidak."
"Oh, baguslah."
"Kamu ingat pembicaraan kita di telepon saat itu?"
Dira mencoba memutar otaknya mengingat apa yang di ucapkan Rian. Tapi sayangnya, otaknya tidak bisa mengingat pembicaraan mana yang dibahas Rian."
Dira menggeleng.
"Dira aku sudah jatuh cinta sama kamu sejak pertama kali bertemu."
__ADS_1
"Maksudnya? Kamu nembak aku?" Dira mencoba memperjelas apa yang dia dengar.
"Yup."
Aduh kenapa jadi kayak gini sih? astaga kenapa aku nggak nyadar dia baik sama aku ternyata ada maunya.
"Jangan becanda, deh, Rian."
Rian hanya menunduk lama. Lalu kembali menatap kearah Dira.
"Riaaaaan..." Dira meraba wajah Rian yang kosong.
"Saya serius sama kamu, Dira. Kalau perlu saya langsung ngomong ke mama kamu. Soalnya aku lihat mama kamu responnya lumayan."
Idih, nih orang pede banget sih.
Ya ampun bagaimana, ini? aku nggak tega bilang tidak sama Rian. Tapi kalau aku iyakan, nanti kesannya ngasih harapan ke anak orang.
"Rian."
"Iya"
"Kita kan baru kenal. Jadi rasanya gimana gitu pas kamu nembak saya. Maaf, Rian untuk saat ini. Aku..."
"Iya, aku paham. Kamu mau nolak aku kan? Aku tahu diri, Dira. Siapa aku... Siapa kamu."
__ADS_1
"Bukan gitu, Rian. Aku mau kita saling mengenal saja dulu. Nggak usah buru-buru lah."
Dira bingung bagaimana menjelaskan pada Rian kalau dirinya hanya menganggap lelaki itu sebagai teman saja.
Suasana di taman mulai ramai, mungkin efek weekend. Tampak beberapa muda mudi yang asyik dengan kegiatannya. Ada yang duduk di taman sambil jajan, ada yang bermesraan, ada juga yang sibuk mengabadikan kegiatan mereka melalui ponsel. Dira mulai risih dengan keramaian tersebut meminta Rian mengantarnya pulang.
Tak lama mereka sudah duduk diatas si roda dua. Tak ada sikap Dira yang cerewet ataupun memprotes sikap Rian. Sesaat dunia mereka terasa hening, Rian merasa lega sudah mengungkapkan perasaannya. Sementara Dira masih belum siap dengan pernyataan cinta Rian.
"Aku minta maaf kalau ungkapan perasaanku terdengar mendadak. Ya, kalau kamu nggak punya perasaan apapun sama saya. Saya tidak bisa memaksa.Tapi satu yang harus kamu tahu, saya tidak suka basa basi, kalau dirasa nyaman saya langsung utara. Kalau kamu yang nggak nyaman sama bilang saja. Saya nggak mau memulai hubunagan dengan rasa tidakenakanmu."
"Maaf. Semua terasa tiba-tiba."
"Nggak tiba-tiba kok. Bukankah saya menerima tawaran Eka karena ingin mencari pendamping hidup bukan sekedar pacaran seperti anak ABG. Kalau kamu mau saya bisa bilang ke mamamu buat izin melamarmu."
Sejak pernyataan cinta dari Rian, aku mulai malas meladeni lelaki itu. Ketika sampai dirumah aku takut Rian nekat ngomong sama mama. Tapi ternyata dugaanku salah, setelah sampai dirumah Rian memilih langsung pulang. Lega sih, tapi ada rasa tidak enak juga.
Apa yang terjadi padaku?
Kenapa aku belum punya perasaan pada cowok sesopan Rian?
Entahlah, aku juga tidak paham dengan semua ini?
Kalian mungkin pernah di posisiku, dimana ada seorang lelaki yang mendekatiku, tetapi aku belum bisa membalasnya. Tidak segampang itu, desakan mama untuk mencari pasangan sebelum pernikahan Vira. Lagian Vira dan Satria belum mempertemukan dua keluarga untuk menentukan kapan mereka menikah.
*Kenapa semua terasa buru-buru, sih?
__ADS_1
Mamaku adalah seorang wanita tangguh yang menomorsatukan anak-anaknya. Beda dengan papa yang suka main tangan dan main perempuan. Berapa lama mama bisa bertahan dengan orang seperti papa. Bahkan kak Feri yang mengusir papa dengan kasar. Kak Feri malah bilang tidak akan pernah menyesal dengan tindakannya. Sepeninggalan papa, mama mulai menata hidup dari awal lagi. Termasuk menyelesaikan kekacauan perusahaan akibat ulah papa.
Sekarang, ketika mama mulai gelisah karena aku belum mendapatkan jodoh. Kata mama sih, agar dia tenang di masa tuanya. Tapi justru aku yang tidak tega meninggalkan mama sendirian di masa tuanya. Ya, kalau suamiku setuju, kalau tidak gimana?