Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 57


__ADS_3

"Vira kita tukaran kamar, ya?"


Vira mengerutkan dahinya mendengar permintaan dadakan kakaknya. Dulu, saat SMP Vira pernah merengek pada sang kakak agar tukaran Kamar. Namun sang kakak mati-matian menolak dengan alasan sudah terlalu nyaman.


"Tumben."


Vira menyibukkan diri di depan meja belajarnya. Tangannya berselancar pada layar pipih di depannya. Dalam seminggu ini tugasnya menumpuk apalagi dia tidak masuk kampus selama seminggu.


"Padahal kamar kak Dira idaman banget, lo. Kamarnya luas, mandi pake shower, terus pake balkon, bisa mandang langit, bisa ngintip kak .." Vira tidak melanjutkan pembicaraannya. Matanya berputar melihat sang kakak kedua yang ketawa-ketiwi sambil lihat gadget.


"Kak!" Pekik Vira.


"Iya." Dira masih fokus dengan gawainya.


"Kak Dira cinta sama kak Rian?" Tanya Vira.


"Ya, kalau nggak cinta aku nggak akan mau dilamar dia." Jawab Dira.


"Tapi waktu kak Juna ngajak kak Dira nikah kan kakak juga nolak. Padahal bukannya kakak suka sama kak Juna, ya?"


"Eh, enak saja. Nggaklah! Dia punya Delia. Ngapain aku ngarep calon suami orang. Lagian kamu tahu dari mana kalau kak Juna ngajak aku nikah."

__ADS_1


"Dari kak Juna. Dia bilang kakak nggak pernah menjawab lamarannya."


"Ngapain juga di jawab? Seharusnya dia tahu lah. Kalau aku nggak bisa nerima dia."


"Jujur aku suka kakak sama kak Juna. Dari kecil kakak selalu dilindungi kak Juna ketimbang kak Feri. Entah kenapa aku kurang sreg sama kak Rian."


"Kamu itu masih kecil, Ra. Jadi kamu jangan lihat dari face nya saja. Rian itu lelaki baik, beda sama kak Juna, sudah punya tunangan tapi ngejar perempuan lain." Kata Dira sinis.


"Oh ya, Lelaki yang baik saat calon istrinya celaka dia harus sigap. Ya kali pake alasan tidak bisa berenang, masa cowok nggak bisa berenang." Sahut Vira.


"Oh, aku paham sekarang. Jangan bilang kakak minta pindah kamar karena menghindari kak Juna atau melupakan kak Juna."


"Kamu ngomong makin ngaco, Vira." Dira keluar dari kamar Vira sambil menutup pintu dengan keras.


"Kalau memang nggak ada rasa. Ya, nggak usah emosi segitunya. Kelihatan banget kak Dira ada rasa sama kak Juna." Gerutunya dalam hati.


Gadis berusia 19 tahun tersebut kembali menyelesaikan tugas daringnya. Tapi entah kenapa dia masih kepikiran soal kakaknya. Sejak dirinya di lamar Satria, banyak yang hal yang terjadi di keluarganya. Dari kakak tertuanya yang ikut di desak mencari pasangan, keluarga Meyra yang datang melamarkan kakaknya untuk turun ranjang. Hingga cinta segitiga antara Dira, Arjuna dan Rian.


Hal itu kembali menjadi renungan buat Vira bagaimana kelanjutan rencana pernikahannya. Pasalnya dia sendiri masih bimbang untuk nikah muda. Di samping banyak masih ingin di kejarnya. Jadi sarjana, kerja kantoran dan pastinya dia masih ingin menikmati masa mudanya.


Waktu terus berjalan. Satu minggu puasa pertama harus beradaptasi dengan kondisi tubuh. Vira yang memiliki bobot 52 kilo kini hanya sahur dengan air putih dan kurma. Soalnya katanya kurma itu sunnah nabi. Entah benar atau tidak Vira hanya mencoba ikhtiar agar setelah ramadan gaun pengantinnya muat. Ikhtiar yang konyol, tapi memang itu tujuannya.

__ADS_1


"Ma.." Vira mendatangi mamanya yang sedang duduk di ruang kerja Feri.


"Iya, nak." Mama menyambut putri bungsunya.


"Vira mau ngomong. Minta pendapat mama."


"Bicaralah."


"Ma, vira mau membatalkan rencana pernikahan aku dan kak Satria. Mungkin ini terlambat, tapi ini sudah menjadi pikiran aku dalam beberapa hari ini.Vira sempat mengajukan beasiswa sekolah psikolog di negara tetangga. Vira takut kalau lulus padahal Vira harus ikut suami."


"Nak, apakah sudah kamu pertimbangkan keputusan itu. Jangan mengambil keputusan di saat hati sedang bimbang. Berbagai masalah hidup tentu pernah mendera di usia-usiamu yang sekarang ini. Usia dimana kamu belajar untuk menjadi dewasa sepenuhnya. Di usia ini pula, kamu akan semakin sering dihadapankan dengan pilihan-pilihan penting yang menentukan masa depanmu kelak.Ketika kamu dihadapkan pada pilihan-pilihan, mantapkan niatmu dalam mengambil keputusan. Pilih mana yang menurutmu paling pas dan tepat. Selain itu, keputusan yang kamu buat juga harus bersifat final alias diakhiri dengan tanda titik."


"Bicarakan semuanya pada Satria. Ingat! Bicara dalam keadaan kepala dingin. Saat ini kamu memang dilanda keraguan apakah kamu bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik untuk Satria. Mama paham, nak dengan ketakutanmu itu. Tapi percayalah kamu tidak akan menyesal mendapatkan lelaki seperti Satria." Nasehat Mama Dewi pada putri bungsunya.


Saat kamu bertemu jodohmu itu seperti saat tutup botol bertemu ulirnya. Tanpa alasan kamu akan merasa pas, nyaman. Pencarianmu sudah berakhir. Kamu sudah menemukan apa yang kamu cari pada diri pasanganmu. Walau dia tidak sempurna, tapi dialah yang membuatmu rela menerima ketidak-sempurnaan.


Seperti itulah yang dirasakan Vira pada Satria. Wajah Satria tidak terbilang tampan. Tapi dalam diri Satria ada sifat penyayang yang tidak dia dapatkan dari ayah kandungnya. Vira juga bukan perempuan yang mencari lelaki berdasarkan tampang, dia juga sadar diri dengan wajahnya yang biasa saja.


Author said" Padahal dari segi visual Vira memang lebih cantik dan putih dari Dira."


Walau masih muda, mengapa harus menunggu lebih lama kalau memang sudah menemukan pasangan yang tepat? Toh menikah sekarang atau nanti, kamu tetap akan menjalani kehidupan rumah tangga bersama dia. Justru dengan menikah lebih awal, kamu dan dia punya banyak kesempatan untuk membangun hidup bersama.

__ADS_1


Visual Savira



__ADS_2