Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 41


__ADS_3

BUUUUUGHH!


Rian menghajar Juna dengan penuh emosi. Siapa yang tidak emosi ketika melihat calon istrinya di beri nafas buatan oleh lelaki lain. Tak ada ampun buat Juna, apalagi Delia malah pingsan ketika melihat aksi tunangannya.


"Bangun! Bangsat!" Amuk Rian. Tangan mencengkeram leher baju milik Juna.


Tak ada perlawanan dari Juna, lelaki itu seperti pasrah jika harus hancur di tangan Rian.


"Rian, sudah! kita harus bawa Dira dan Delia ke dalam." Titah mama Dewi.


"De...Delia?" Rian kaget melihat Delia pingsan sedang di papah Eka.


Tubuh kekar itu mengangkat tubuh Dira yang basah kuyup.


Vira menatap Rian dengan julidnya. Dimata gadis itu Rian tidak siaga sebagai seorang lelaki. Seharusnya Rian lebih sigap dari Juna.


"Dasar lelaki tidak peka. Masih mending kak Juna yang nolongin kak Dira." Umpat Vira sambil masuk ke dalam rumah.


Acara lamaran menjadi kacau. Eka sibuk menyadarkan Delia yang masih pingsan. Sementara Dira sudah di bawa kekamarnya untuk dibersihkan. Vira dan Mayka menemani mama Dewi di kamar Dira, wanita paruh baya itu hanya termenung melihat tubuh putri tengahnya basah kuyup.


"Kenapa bisa seperti ini, nak? tidak biasanya kamu terjatuh seperti ini. Apa ini pertanda tidak baik? Ah, tidak, aku tidak akan percaya hal itu. Tapi kenapa harus anakku!"


"Ma" Vira menenangkan mama Dewi yang sedari tadi terus mengeracau.


"Ma, kak Dira tidak apa-apa, dia hanya tergelincir tapi tidak sampai mengalami luka-luka. Mama tenang saja, bentar lagi dia sadar."


"Tante!" Suara Juna muncul di depan kamar.


Mama Dewi menatap Juna dengan emosi. Kakinya melangkah pelan menuju lelaki muda itu. Dia memang berterimakasih pada anak tetangganya tersebut. Tapi dia tidak terima anaknya seakan di lecehkan. Mama Dewi berdiri di depan Arjuna.

__ADS_1


PLAAAAAAK!


Semua orang yang ada di kamar Dira terkejut dengan suara tamparan yang begitu keras. Segurat wajah kekecewaan tampak di wajah wanita paruh baya tersebut.


"Selama ini tante sudah menganggap kamu seperti anak sendiri. Bahkan tante selalu percaya Dira dan Vira di bawah lindunganmu. Sayangnya kamu tidak mempergunakan kepercayaan saya. Saya berterimakasih kamu sudah menyelamatkan nyawa Dira. Tapi tante tidak terima apa yang kamu lakukan pada Dira. Bagi tante apa yang kamu lakukan termasuk pelecehan. Kamu melakukan di depan calon suami Dira, sekaligus di depan calon istrimu, Delia. Dimana pikiranmu ketika keluarga lain melihat."


"Maaf, tante. Saya hanya melakukan apa menurut saya tepat. Kalau tante menganggap saya pelecehan tante salah! Saya melakukan untuk menyelamatkan nyawa Dira. Seharusnya jangan hanya menyalahkan saya. Tante lihat calon menantumu, apakah dia ada menolong Dira. Tidak tante! Dia hanya diam saja. Padahal tante tahu Dira tidak bisa berenang." Ucap Juna dengan berani.


Juna merasa tidak melecehkan Dira. Dia hanya berusaha menyelamatkan nyawa Dira, itu saja tidak lebih. Namun bukannya dukungan yang didapat malah tuduhan dan bogem mentah yang diterima.


"Sekarang tante minta kamu keluar dari kamar ini. Tante tidak mau membuat dua anak tante yaitu Dira dan Delia tersakiti atas sikap kamu. Tante mohon keluar dari kamar!" Usir Dewi.


"Tapi, tante saya ingin sekali mengetahui kondisi Dira." Juna bersikukuh tak mau keluar dari kamar Dira.


"KELUAR!"


"Tante, bisa kita bicara. Tolong kumpulan keluarga yang lain." Pinta Rian.


Seperti permintaan Rian semua yang memiliki hubungan keluarga berkumpul di ruang tamu. Mama Dewi, Eka, Feri, Vira dan Satria duduk di sofa. Mereka menunggu apa yang akan dibicarakan Rian.


Mayka mendekati keluarga Feri hendak menyampaikan sesuatu.


"Maaf, tante sebelum pembicaraan dimulai saya akan menyampaikan sesuatu. Begini tadi saya mengambil sepatu Dira di dekat kolam renang. Saya menemukan sepatunya yang sudah patah. Disini ada yang janggal, soalnya ini bukan patah tergelincir, terlihat ini ada bekas potongannya. Bisa jadi ada yang mau mengerjai Dira. Sekarang saya tanya sama Rian? Apakah kamu mengundang mantanmu. Bisa jadi ada yang masih sakit hati sama Dira."


"Sepertinya tidak ada kak Mayka. Bukannya ini acara keluarga, ngapain saya pake undang mantan." Jelas Rian.


"Siapa yang berniat mencelakai Dira?" Gumam Rian dalam hati.


"Maaf, mama Dewi." Rian memanggil calon mertuanya dengan sebutan mama.

__ADS_1


"Saya hanya minta pada kalian semua, tolong rahasiakan kejadian ini pada Dira. Jika dia sadar dan menanyakan tentang kejadian tadi jangan bilang kalau dia dapat nafas buatan dari laki-laki lain. Bukan karena saya cemburu, saya bahkan sangat berterimakasih pada kak Juna. Dimana dia sudah menyelamatkan Dira, tapi jika Dira tahu soal nafas buatan tadi, takutnya mempengaruhi psikologisnya. Jadi saya mohon minta tolong pada kalian semua. Rahasiakan pada Dira tentang kejadian tadi."


Malam semakin larut, semua tamu, kerabat dan keluarga Rian pun sudah pulang. Kecuali, Rian yang memilih tidak pulang karena ingin menjaga Dira. Meskipun mama Dewi terus meminta calon menantunya untuk pulang. Tapi ternyata calon menantunya cukup keras kepala.


"Maaf mama Dewi saya disini saja. Saya khawatir dengan keadaan Dira. Mohon sedianya saja duduk disini saja untuk menjaga Dira. Saya minta maaf karena tidak ikut menyebur dalam kolam renang. Saya tidak bisa berenang. kata mama papa, saat SD saya pernah tenggelam di kolam renang."


Mama Dewi tersenyum mendengar ucapan calon menantunya. Tangannya menepuk pundak lelaki itu sebagai tanda pengertiannya. Dia memang pernah mendengar dari Arumi kalau putra temannya pernah tenggelam di kolam renang. Bahkan sempat di terapi karena memiliki trauma berat saat melihat air.


Memang tidak mudah menyembuhkan sebuah trauma apalagi kalau sudah bersangkutan pada kejadian.


"Saya sudah tahu soal itu. Mama kamu sudah pernah cerita saat arisan, cuma waktu itu saya belum tahu kalau anaknya Arumi itu, kamu Rian." Jelas mama Dewi.


"Bi..." Mama Dewi saat bibi melintas tak jauh dari tempat mereka.


"Iya, bu."


"Bagaimana keadaan Delia? Apakah dia sudah sadar?"


"Anu, bu. Non Delia sudah sadar cuma saya dengar dia nangis tadi, bu. Ada non Eka dikamar non Vira" jelas bibi.


"Ya, sudah biar dia nenangkan diri dulu." Mama Dewi meninggal Rian yang duduk di depan kamar Dira.


Delia duduk di sandaran ranjang dengan tatapan kosong. Rasa kecewanya atas semua yang dilakukan arjuna cukup membuatnya sakit hati. Dia tidak menyangka di depan matanya Arjuna memberikan nafas buatan pada Dira. Bagi Delia apa yang dia lihat semalam menjadi bukti kalau keduanya memiliki hubungan khusus.


"Ka, kenapa mereka tega sama aku? Apa kurang cintaku pada kak Juna selama ini. Apa kurang setiaku pada kak Juna selama ini? Kenapa rasanya sakit sekali, Ka?" Delia masih menyisakan nada tangis yang hampir mengering.


"Del, kak Juna nggak salah kok. Dia juga melakukan hal itu darurat bukan di sengaja. Kamu tidak lupa, kan kalau sedari kecil kak Juna sudah siaga melindungi Dira. Kamu juga tidak lupa meskipun dia selalu ada untuk Dira, kak Juna tetap mengejarmu, tetap mencintaimu. Ya, walaupun kamu sudah nolak dia berkali-kali." Jelas Eka.


"Tapi aku dengar sendiri kak Juna nyatain cinta sama Dira saat malam lamaran. Mereka saling bicara di depan balkon."

__ADS_1


__ADS_2