Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 114


__ADS_3

Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih.”


Artinya: ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya.


💐💐💐💐💐



Pernikahan merupakan momen dalam kehidupan yang sangat ditunggu-tunggu dan penuh kebahagiaan. Kebahagiaan tersebut mengalir bukan hanya bagi kedua insan yang menikah, namun juga bagi keluarga dan para sahabat yang menyaksikannya. Pernikahan adalah salah satu momentum yang paling ditunggu dalam kehidupan normal seseorang. Ketika jodoh sudah datang dan dua keluarga sudah memberi restu maka akad nikah sudah menanti dirimu. Siapapun akan berbahagia ketika belahan jiwa yang selama ini selalu dinanti kini akan segera kita sanding di pelaminan.


Seseorang yang siap menikah berarti ia juga sudah siap menghabiskan seluruh hidupnya bersama pasangan tersebut. Tidak hanya kelebihan, dalam kehidupan pernikahan mereka juga akan menemukan kekurangan dari masing-masing pasangan. Oleh karena itu, mereka harus ikhlas dan ridha menerima bahwa pasangannya bukanlah orang yang sempurna.


Saat ini Dira duduk di depan meja rias. Lama dirinya menatap kaca, wajahnya masih polos tanpa makeup. Sambil menunggu perias kiriman Opa-nya datang. Dira pun menjalani sholat Dhuha terlebih dahulu. Berharap agar semua yang di jalani lancar tanpa hambatan.


Mama Dewi masuk ke kamar dengan wajah sembab. Dira mengerutkan dahinya melihat wajah sang mama. Tubuhnya berbalik ke arah wanita yang sudah melahirkannya.


"Mama kok nangis? ada apa?" tanya Dira.


"Papamu datang, nak." jawab mama Dewi.


"Sama siapa? aku nggak undang papa kok?" Dira takut kedatangan papanya malah mengundang huru hara di pernikahannya.


"Diantar Rian dan Delia. Ternyata papamu selama ini kerja jadi sopir keluarga Rian. Papamu mau menikahkan kamu. Tapi..."


"Tapi apa, ma. Seburuk-buruknya papa, dia tetap wajib menikahkan aku dan Vira nantinya."


"Kakakmu pasti tidak setuju, nak. Kamu tahu sendiri kakakmu masih dendam dengan papamu." ucap mama Dewi.


"Nanti biar aku yang ngomong sama kak Feri. Mama pokoknya jangan banyak pikiran." Dira berusaha menenangkan mamanya.


Mama Dewi sebenarnya ingin menjelaskan perihal Feri yang katanya di cari polisi. Namun, dia takut berita itu bisa menjadi mood yang buruk bagi putrinya. Karena hari ini adalah momen bahagia bagi Dira dan Juna.

__ADS_1


"Periasnya belum datang?" tanya mama Dewi sambil membuka lemari pakaian putrinya. Beberapa gaun yang sudah disiapkan oleh Opa-nya. Salah satu kebaya putih untuk dipakai Dira akad nanti.


"Belum, ma." jawab Dira membersihkan wajahnya dengan toner.


"Kamu sudah mandi?"


"Sudah, ma." jawab Dira sambil membuang kapas bekas ke kotak sampah di samping meja riasnya.


"Ma, sebenarnya kita mau adain akad dimana?" tanya Dira.


"Masjid Al taqwa. Itu yang di depan rumah kita."


"Oh, yang ada tulisan barendo Bengkulu ya,ma." Mama Dewi mengangguk.


"Emang Juna nggak ada bilang sama kamu, Ra?" Dira menggeleng. Jangankan bilang lokasi akad. Ngajak nikah aja dia baru tahu saat malam itu. Dira sempat protes pada calon suaminya. Tapi jawaban Juna cuma bilang begini.


"Mau dimana pun akadnya, yang penting sudah sah. Dulu juga aku sudah siap, kamu nya aja yang jaim." Dira hanya bisa menggaruk kepalanya saat itu. Dia bukan jaim, tapi menjaga perasaan Delia. Kan, waktu itu Juna juga belum tegas pada hubungannya dengan Delia.


Hari ini adalah masa dimana statusku bukan Dira yang single. Kalian tahu rasanya tidak karuan. Dari sejak tadi malam sampai saat ini, aku hanya di landa gelisah. Entah apa sebabnya, apa mungkin karena aku akan berganti status menjadi nyonya Arjuna Bramantyo.


Siapa yang tidak ingin menikah. Semua pasti ingin merasakan momen indahnya menjadi ratu sehari. Walaupun cuma akad saja. Karena belum ada omongan kearah resepsi. Hanya wacana akad saja. Kata opa, wacana resepsi bakal di bahas saat di Jakarta.


Aku tetap saja hanya mengikuti rencana mereka saja. Kalau nanti ada rencana sendiri pasti akan disampaikan kak Juna.


Kak?


Apa aku harus belajar memanggilnya dengan sebutan Mas.


Tapi kak Meyra tidak pernah memanggil kak Feri dengan sebutan Mas. Aku sering dengar di hanya memanggil kakakku dengan sebutan hubby kadang dipanggil sayang.


Entahlah, mungkin secara umum kata Mas itu lebih sakral di bandingkan sebutan lain.

__ADS_1


"Kak Dira," terdengar suara Vira dari luar kamarnya.


"Iya," Dira langsung beranjak dari depan meja riasnya.


"Itu periasnya sudah datang. Kakak di kamar saja." Vira menuntun Dira kembali ke kamar.


Semua yang ada di kediaman opa Han sangat sibuk. Pagar rumah milik Opa-nya di letakkan janur kuning. Tampak disepanjang jalan dari pertigaan daerah anggut di hiasinya umbul umbul warna warni. Opa Han mengundang semua staf khususnya termasuk Ical dan kawan-kawan. Padahal Ical dan teman-temannya hanya buruh biasa. Itu juga karena Juna yang meminta. Tentu saja semua sudah di fasilitasi oleh opa Han.


Karena hanya mengadakan akad. Maka pihak penyelenggara hanya mendirikan tenda untuk tamu. karena lokasi dekat dengan masjid Al taqwa, kota Bengkulu. Tenda yang didirikan sederhana, kini sudah berdiri tegak di depan rumah tinggal milik almarhum istrinya Opa Han. Tenda yang berdiri di halaman rumah tersebut sudah dipenuhi beberapa orang yang datang. Meskipun sebagian dari mereka tidak mengenal pengantinnya. Sejak Juna menyatakan akan langsung menikahi Dira di kota raflesia tersebut. Opa Han langsung mengerahkan RT dan RW setempat untuk ikut berpartisipasi. Termasuk keterlibatan pemuka adat, sebab istrinya adalah asli daerah itu.


Dira baru saja selesai di dandani. Dengan balutan gaun kebaya putih serta mahkota pengantin yang lumayan berat di kepalanya. Dira tampak begitu cantik mempesona. Bak ratu dari negeri dongeng.


Tampak Juna sudah bersiap di depan kaca kamarnya. dengan jas pengantin berwarna putih. Senada dengan pakaian Dira. Tito, sang adik ipar ikut mendampingi Juna di kamar. Sementara Jamal akan di daulat menjadi pendamping pengantin sudah siap dengan atribut muslim Melayu plus dengan peci bermotif songket.


Tepat pukul sembilan pagi Juna dan rombongan datang. Mereka di boyong langsung ke mesjid Al taqwa. Dira pun menyusul kemudian, Juna tampak terpesona melihat kecantikan calon istrinya. Tampak Delia dan Rian ikut rombongan bersama Andreas, ayah kandung Dira.


Feri memilih tidak mau berbarengan dengan rombongan. Karena dia masih enggan menerima kedatangan ayah kandungnya. Beda dengan mama Dewi yang menyambut mantan suaminya sekedarnya saja.


"Saudara Arjuna Bramantyo, anda sudah siap?" Juna mengangguk.


Tak berapa lama tangannya sudah berjabat dengan Andreas.


"Saudara Arjuna Bramantyo saya nikahkan dan kawinkan putri saya yang bernama Medhira Utami binti Andreas Dermawan dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai."


"Saya terima nikahnya Medhira Utami binti Andreas Dermawan dengan seperangkat alat sholat di bayar tunai."


"Sah!"


"Saaah!" .


Wali nikah membacakan doa doa setelah ijab Kabul selesai. Juna memandang Dira yang berjalan kearah dirinya. Keduanya saling melempar senyum lalu menunduk malu-malu.

__ADS_1


Cincin pernikahan pun disematkan di jari masing-masing. Dira menyalami tangan lelaki yang sekarang resmi menjadi suaminya. Sementara Juna melabuhkan kecupan di kening wanita yang sudah sah menjadi istrinya.


__ADS_2