Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 56


__ADS_3

Dira menatap lekat lelaki depannya. Debaran jantungnya semakin kencang. Beberapa kali dia merutuki diri sendiri, menyesali kebodohannya menikmati apa yang diberikan pada Arjuna.


Hujan masih terasa deras. Sayangnya Juna dan Dira masih terlena dengan tatapan mata mereka. Sekali lagi lelaki itu kembali menarik dagunya, sekali lagi Dira pun kembali terbuai dengan apa yang dilakukan lelaki itu.


Dia cinta pertamaku


Tapi aku punya calon suami


Kenapa harus mengambil ciuman pertamaku.


Kenapa bukan Rian yang jelas-jelas calon suamiku.


"I love you. Aku mohon jangan siksa aku dengan sikapmu seperti. Aku tidak kuat Dira. Aku tidak akan kuat.


Selama ini aku berdiri sendiri atas cinta yang di bangun untuk Delia. Aku sering mempertanyakan. Apakah Delia merasakan hal yang sama? Aku selalu berusaha untuk menghubungi Delia. Sekedar mendengar kabarnya. Meskipun pada akhirnya Delia hilang tanpa kabar."


Dira melepaskan dirinya dari sisi Arjuna. Semakin jelas kalau dirinya hanyalah pelarian. Tubuhnya berbalik namun lagi-lagi Juna menahannya. Kepala Dira menunduk, rasanya sakit saat Juna membahas Delia. Sama seperti 10 tahun yang lalu saat dirinya melihat Juna bahagia menerima surat dari Delia.


"Lepaskan aku, kak. Jangan berharap padaku. Aku akan menikah dengan Rian, kakak juga akan menikah dengan Delia. Jadi tolong jangan bahas lagi soal kita. Karena memang tidak ada yang istimewa diantara."


Aku mencintaimu, kak. Itu sudah lama aku rasakan sebelum kak Juna mencintai Delia. Sejak kecil kak, aku selalu berharap punya suami seperti kakak.


Tapi seiring berjalannya waktu aku mulai melupakan perasaan itu. Dengan fokus sekolah dan bekerja aku melupakan rasa itu.


Sejak kak Juna menyatakan ingin menikahiku duniaku berubah. Aku diberi perhatian yang sebenarnya membuat aku berbunga. Meskipun di depan kak Juna aku tetap sok cuek.


Pada akhirnya aku menyadari, ada Delia yang ku hormati perasaannya. Entah ada cinta atau tidak diantara mereka itu bukan urusanku. Tapi kenapa banyak hal yang membuat aku semakin terarah padanya.


Kehadiran Rian membuat aku semakin yakin kalau cinta tak harus saling memiliki. Toh, nyatanya Delia sudah kembali dan kak Juna tetap memilihnya. Jadi buat apa aku bertahan. Buat apa aku masih berharap. Tidak ada gunanya, Dira.


"Aku tidak peduli bagaimana reaksi Rian pada kita. Asalkan kita berjuang bersama, Ra. Kita kejar restu dari mama dan papa, kita kejar restu dari tante Dewi. Bahkan di coret dari daftar keluarga aku rela! itu buat siapa, Ra? buat kita! buat aku dan kamu." Juna tetap memeluk tubuh Dira.


Dira masih terdiam. Dia lelah mendengarkan janji-janji Arjuna. Rasa sesak terus membelenggu dadanya. Dulu dia sempat berbunga dengan sikap Arjuna. Tapi ternyata dia harus menerima kenyataan Juna belum memberi ketegasan.

__ADS_1


Dira menatap cincin yang sudah disematkan Rian di jarinya. Sekali lagi dia menyadari kalau sekarang sudah terikat dengan Rian. Dira melepaskan tangan Juna dengan kasar.


"Aku minta kak Juna dan Delia angkat kaki dari Vila ini. Atau aku akan bilang ke Rian kalau kakak mencoba melecehkanku dengan ciuman. Supaya Rian bisa menghajar kakak habis-habisan.


Asal kak Juna tahu, aku tidak pernah suka sama kakak. Paham!"


"Lakukan, Ra! Jika itu memang membuat kamu bahagia. Tidak apa-apa kamu menyiksaku habis-habisan aku rela. Asalkan kamu tidak jauh dariku lagi."


"Heh...Dulu juga waktu sama Delia pasti begitu juga kan? Kakak tidak lupa saat Delia jatuh dari motor. kakak rela menjaganya sampai jatuh sakit. Sekarang kakak akan bersikap yang sama saat bersamaku."


Siapa yang berada di sisi kakak saat jatuh sakit. Aku kak, bukan Delia. Bahkan saat badan kakak panas hanya Delia dalam igauannya.


Dan sejak saat itu aku berusaha mematikan perasaanku.


Dira langsung berlari meninggalkan sendirian. Namun sepasang mata memantau mereka. Guratan bermuram durja pun tak lepas dari pantauannya. Tak lama sosok cantik melintas di depannya. Langkah sang pemilik mata mendekati sosok cantik tersebut.


"Aku minta kamu ajak calon suamimu itu pulang malam ini. Kehadiran kalian hanya akan merusak hubungan ku dengan Dira."


"Kalau aku tidak mau" Delia menantang.


Oh, kalau perlu Tuan Shahab juga perlu tahu seperti apa anaknya selama di London." Ancam Rian.


"Kau mengancamku, Rian? apa kau tidak takut kalau Dira tahu lelaki yang mengambil keperawananku adalah calon suaminya."


"Lalu Dira meninggalkanku dan kembali di dekati Juna. Apa kau mau hal itu, Delia?


Aku rasa Juna akan mencampakkanmu kalau dia tahu tentang kamu." Delia hanya mengepal tangannya dengan erat. Tersimpan emosi yang masih di tahannya.


klik


Assalamualaikum


Sebuah sapaan lembut menyeru di depan rumah sederhana. Suasana rumah yang bertema klasik menyejukkan matanya. Deretan kenangan masa kecil berputar ketika melihat setiap sudut rumah. Tangannya menenteng tas kecil sebagai fasilitas mode pakaiannya.

__ADS_1


Sebuah ayunan kecil menjadi tempat sandarannya. Dimana ayunan tersebut selalu menjadi target utama jika bertandang. Lama dia mencoba menunggu. Rasa lelah pun menerpa. Tubuh semok itu memilih berdiri meninggalkan areal rumah.


Ceklek!


Kakinya terhenti mendengar decitan pintu. Ada rasa lega karena kunjungannya tak sia-sia. Di majukan tubuhnya untuk mendekati pintu.


"Cari siapa, bu?" Tanya seorang wanita sebaya dirinya dengan memakai setelah kencana ungu.


"Bapak ada?"


"Ada bu, silahkan masuk." Wanita itu menyilahkan tamunya masuk ke dalam rumah.


"Siapa?" Terdengar suara bariton menyapa dari dalam.


"Nggak tahu pak. Masih muda cantik." Jawab si mbaknya.


Dia mendengar suara langkah menuju ruang tamu. Masih mode jantungnya berdetak kencang. Dalam benaknya apa kakak papanya ini masih mau menerima dirinya. Entahlah, dia bisa berpikiran seperti itu karena sekarang sudah turun kasta.


"Tina." Sapa suara bariton itu menyapanya.


"Paman, apa kabar?" Sapa Tina menyalami kakak ayahnya tersebut.


"Ya Allah jadi ini beneran kamu, Nak." Pamannya langsung memeluk keponakannya.


"Mama, Mayka, Alif... Tina sudah pulang! Tina sudah kembali!" Seru lelaki itu. Tanda bahagia karena keponakan yang sudah lama dicarinya sekarang ada di depan mata.


Semua keluarga berkumpul menyambut kedatangan Tina. Tidak disangka respon keluarga begitu antusias dengan kedatangannya. Tadinya dia sudah minder. Ternyata dia salah, dalam hatinya bersyukur atas sambutan mereka.


"Meyra mana, Paman?" Mata Tina mencari adik kecilnya.


Semua mendadak hening sesaat mendengar nama itu.  Tina memandang satu persatu mimik wajah semua keluarganya. Perubahan raut wajah pun membuatnya menyimpulkan terjadi sesuatu pada sepupu kesayangannya.


"Mey sudah meninggal lima tahun yang lalu, Tina. Dia meninggal dalam keadaan hamil."

__ADS_1


Tina menundukkan kepalanya sebagai rasa duka yang mendalam. Dari Mayka dan Meyra, hanya Mey yang dekat dengannya.


__ADS_2