Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 80


__ADS_3

Hari sudah senja matahari pun sudah mulai menyembunyikan diri. Dira yang tadinya bersembunyi di balik tirai balkon kini menampakkan diri menatap sunset. Meskipun hanya terlihat cahayanya saja, langit yang kemerahan terlihat jelas. Dira menyunggingkan senyumnya. Sambil menenteng handuk kakinya bergerak meninggalkan balkon. Sesekali menatap balkon seberang, sudah gelap gulita. Dira yakin Juna pasti sudah pulang.


Ah, ngapain mikirin kak Juna!


Nggak penting banget! Mending aku mandi, makan terus istirahat. Mana badan udah bau keringat.


Beberapa waktu kemudian Dira sudah membersihkan diri sekaligus sholat Maghrib. Memanjatkan doa karena masih diberi kesehatan dan kebahagiaan dalam hidupnya. Selesai sholat Dira melipat mukena dan turun kebawah.


Dahinya mengkerut melihat Vira sudah bergaya santai menenteng tas. Sesaat dia mengacuhkan adik bungsunya. Dira yakin Vira sudah move on dari Satria. Serta pastinya adik bungsunya akan jalan bareng cowoknya. Apalagi ini malam minggu.


Kaki Dira terhenti melihat siapa yang bergabung makan malam bersama keluarganya. Seketika dia menghela nafas panjang dengan menghembuskan pelan. Matanya membulat melihat kursi yang tersisa hanya di sebelah si tamu. Dia melangkah dengan malas duduk di sebelah tamu itu.


"Loh, kok ikut makan. Katanya mau jalan?" sahut Vira yang ikut nimbrung di meja makan.


"Ya kan aku lapar, Sayang! kita makan dulu, ya. Kayaknya enak nih."


Sayang? Mata Dira membelalak mendengar ucapan Arjuna pada adiknya.


"Jadi kamu mau jalan sama dia?" tanya Dira sambil menyendokkan nasi kepiringnya.


"Tolong, dong ambilin nasi ku," Juna menyodorkan piringnya ke arah Dira.


"Ambil sendiri, punya tangan kan?" Sahut Dira ketus.


"Sini biar aku ambilin buat kak Juna." Vira memindahkan sesendok nasi ke piring Arjuna.


"Terimakasih, sayang." Juna mengedipkan matanya kearah Vira.


Hueeeeeek... sayang .... sayang ... Lebay banget sih mereka.


Suasana makan malam berlangsung meriah. Feri dan Juna saling berbagi cerita. Apalagi mereka sudah lama tidak berkumpul karena masalah yang dulu. Mama Dewi pun tak ketinggalan menanyakan kabar Arjuna dan keluarganya.


"Jadi sekarang kamu tinggal di Bogor, nak Juna?"


"Enggak, yang di Bogor itu mama dan papa. Soalnya papa mau buka pabrik baru di areal Bogor. Sedangkan aku saat ini tinggal di kontrakan sama teman. Soalnya aku sudah punya pekerjaan juga. Ya, hitung-hitung cari pengalaman."


"Jangan keseringan cari pengalaman, Jun. Nanti tua di jalan, kelangkah sama Dira dan Vira." Feri ikut menimpali obrolan mama Dewi dan Arjuna.


"By the way, sayembara jodohnya kan sudah selesai. Dira sama Rian, Vira sama Satria, tinggal kamu Feri yang belum" sejenak suasana di ruang makan menjadi tegang. Namun Vira mencoba mengalihkan suasana.


"Ini jalannya jadi nggak sih? nanti keburu malam." Vira mengingatkan.


"Ah, iya, maaf keasyikan ngobrol. Tante saya ajak Dira eh salah Vira jalan boleh kan?"


"Ajak aja dua-duanya, Juna. Kasihan anak Tante yang satu lagi dirumah saja."

__ADS_1


"Ogah! ngapain juga jadi nyamuk." Dira meninggalkan ruang makan dan menutup pintu keras.


"Yaudah, ma. Kami berangkat dulu." Vira dan Juna bersalaman pamit dengan mama Dewi.


Juna dan Vira sudah berada di dalam mobil. Mereka tertawa mengingat ekspresi Dira di ruang makan. Vira merasa sandiwara mereka berhasil memancing reaksi Dira. Walaupun Vira yakin beberapa hari ke depan Dira bakal jutek padanya "Kak Juna lihat sendiri kan? Kak Dira cemburu abis melihat kita."


"Tapi---"


"Kenapa, kak?"


"Bisa jadi dia jutek karena lagi berantem sama Rian. Biasalah pasangan kalau mau nikah, pasti ada badainya."


"Kak Dira dan kak Rian sudah putus. Sama aku juga sudah putus sama Satria."


Juna membalikkan badannya kearah Vira. Dia kaget mendengar kabar tentang putusnya Dira dan Rian


"Really! Mereka putus!" Vira mengangguk.


"Alhamdulillah!" Juna mengusap wajah dengan kedua tangannya.


"Seneng banget. nggak boleh lo, senang diatas kesedihan orang lain."


"Ya karena aku yang akan menghapus kesedihan di wajah Dira." Jawab Juna dengan percaya diri.


"Aku harap kakak benar benar membuktikan hal itu pada kak Dira. Bukan pelarian karena kakak putus sama kak Delia." Vira memindahkan duduknya di kursi belakang.


"Loh, kok pindah duduknya." Juna kaget melihat Vira sudah selonjoran di kursi belakang.


"Disini lebih bebas, kak." Vira menarik bantal berbentuk Spongebob untuk sandaran kepalanya.


"Ya, udah kita mau kemana?" tanya Juna.


"Terserah kak Juna saja. Aku ikut saja, lagian kita kan cuma pura-pura jalan buat manasin kak Dira."


"Ya, udah duduk di gazebo depan rumah kamu saja. Lagian ini sudah malam, nggak tahu lagi mau kemana?" Juna membuka pintu mobil diikuti Vira.


Langit malam tampak membulat sempurna. Cahaya sang Dewi malam terbentuk sempurna. Tampak Dira lebih memilih membuka beberapa file film. Seperti yang dulu dia lakukan saat belum mengenal Rian. Seperti dulu sebelum Juna heboh mendekatinya.


Scene film Eiffel IM in love season 1


Adit : Kamu punya cita-cita?


Tita : Aku pengin jadi pramugari , aku juga pengin jadi putri kerajaan. Tapi cita-cinta yang paling aku mau, aku nikah, kayak Bunda sama Papa. Aku pengin punya suami yang baik kayak Papa. Dan aku juga pengin dilamar kayak di TV. Nanti kita punya 10 anak dan aku dipanggil Bunda, deh.


Adit : Siapa yang jadi suaminya?

__ADS_1


Tita : Aku juga enggak tahu. Tapi aku pengin punya suami yang baik dan bilang cinta ke aku setiap hari. Dan kita hidup bahagia.


Adit : Itu yang paling kamu mau?


Tita : Iya, kalau kamu cita-citanya apa?


Adit : Enggak tahu


Tita : Masa enggak tahu? Kalau enggak punya cita-cita, kita harus bikin. Apa yang kamu mau sekarang?


Adit : Aku...mau bikin cita-cita kamu jadi beneran


Tita : Iya? Asiiiik! Tapi, cita-citaku yang mana?


Adit : Yang terakhir kamu ceritain


Tita : Janji, ya?


Adit : Janji.


Entah kenapa tiba-tiba dia seperti melihat masa kecil.


Juna: Dira kalau sudah besar kamu mau jadi apa?


Dira: Jadi istri kak Juna.


Juna : Oh, ya kenapa begitu.


Dira : Karena buat Dira kak Juna adalah pahlawan.


Juna: Kakak janji akan selalu ada buat Dira.


Dira: Janji?


Juna : Iya kakak janji.


Dira menutup laptopnya. Tidak tahu apa sebabnya mood menontonnya hilang. Padahal itu baru part awal filmnya. Kakinya melangkah ke pinggir ranjangnya. Membuka kotak kecil berisi koleksi-koleksi aksesorisnya.


Matanya memandang kalung bulan sabit yang dulu diberikan Delia. Dengan alasan tidak suka kalung murahan. Saat itu dia juga tidak tahu kalau ada pasangannya. Yang lebih membuatnya kaget pasangannya ada di Arjuna.


Apakah ini suatu kebetulan?


Dira enggan menebak. Karena kalau berharap yang indah nanti ujungnya sakit lagi seperti sebelumnya.


.

__ADS_1


__ADS_2