
Masih Flashback
PLAAAAAK
"Beraninya kamu mengambil keputusan sendiri!" Berang pak Johan, papanya Juna.
Juna menyampaikan keinginannya membatalkan perjodohan pada orangtuanya. Dia sudah paham reaksi yang akan diberikan papa dan mamanya. Namun tak menyurutkan semangatnya memperjuangkan Dira.
Semua yang dia lakukan bukan untuk pelarian semata. Juna merasakan debaran berbeda saat bersama Dira. Debaran yang semakin kencang setiap bertemu di kantor, Debaran yang kencang setiap Dira bersikap jutek padanya. Dan itu bukan terjadi dalam setahun ini, bahkan saat masih berkomunikasi dengan Delia dia sudah merasakannya.
Juna tahu kalau orangtuanya pasti menentang keinginannya membatalkan perjodohan. Usaha yang dimiliki orangtuanya adalah full modal dari Tuan Shahab, papanya Delia.
Tuan Shahab di kenal gampang membantu oranglain. Baik memang, tapi jika kecewa dia akan menghancurkan orang tersebut tak bersisa. Tuan Shahab pernah menanamkan modal pada seorang pengusaha kuliner kecil, asalkan anak gadis pengusaha itu di jodohkan dengan salah satu putranya. Sayangnya anak gadis tersebut menolak dengan alasan sudah punya pilihan.
Tuan Shahab marah tidak terima penolakan. Dia mencabut saham besar pengusaha tersebut, mencabut beasiswa anak gadis tersebut. Sadis memang! Tapi begitulah yang Juna dengar tentang Tuan Shahab.
Saat ini Juna mencoba meyakinkan kedua orangtuanya agar menyetujui keinginannya. Dia capek jadi boneka keluarga Shahab. Setiap gerak-gerik atau keputusan harus dari Tuan Shahab. Dia juga punya kehidupan sendiri.
"Pa, aku tidak bisa meneruskan hubungan dengan Delia. Kami tidak sejalan, pa. Seandainya papa di posisiku pasti akan melakukan hal yang sama." Jawab Juna.
"Posisimu? kamu dikasih kehidupan yang enak kamu malah bilang begitu." Berang Mamanya Juna.
"Apa yang enak, ma? aku belum nikah saja sudah diatur ini itu. Aku melakukan ini harus lapor dulu sama tuan Shahab. Aku mau Dinner sama Delia dia juga yang mengatur lokasi dan biayanya. Aku merasa jadi pecundang disini." Adu Juna.
"Yang buat kamu seperti pecundang itu diri kamu sendiri, Juna. Kamu dan Ayu dikasih fasilitas hidup mewah oleh keluarga Shahab. Dari biaya sekolah kamu sejak SD hingga tamat kuliah. Kamu dikasih calon istri yang bibit bebet bobotnya jelas. Tapi kamu malah menolaknya." beber Pak Johan.
"Apa karena Dira?" Mamanya Juna mendadak memberi pertanyaan.
"Jawab Juna! apa karena Dira kamu membatalkan perjodohan ini. Apa dia mempengaruhi kamu atau menjebak kamu, sehingga kamu hilang akal memilih mana yang bagus mana yang tidak." Desak mamanya Juna.
"Ma, ini nggak ada sangkut pautnya terhadap Dira. Ini masalah harga diriku sebagai laki-laki ma. Yang memecatku di kantor Tante Dewi adalah Tuan Shahab. Mama tahu nasib perusahaan Dira sama seperti usaha mama dan papa. Dulu aku juga sempat marah ketika mereka meresign-ku sepihak. tapi sekarang aku tahu alasannya."
"Pokoknya kamu temui Tuan Shahab. Tarik kembali pembatalan tersebut. Papa tidak mau tahu! Kamu mau hidup miskin lagi. Hah!" Amuk Pak Johan.
Juna berdiri di depan papanya. Seakan bersikap menentang keinginan papanya. Dia tidak akan menyerah dengan keputusannya. Dia akan memperjuangkan Dira. Karena selama ini dia sudah memperjuangkan Delia namun serasa seperti benalu.
"maaf aku tidak bisa meneruskan keinginan papa. Kalau papa mau tetap bertahan dengan bekerja pada Tuan Shahab silahkan. Tapi jangan jadikan aku tumbal dalam keegoisan kalian."
__ADS_1
"Juna! Kalau kamu tetap seperti itu kamu bukan anakku lagi! Kamu pergi dari rumah ini!"
"Baik! aku pergi dari rumah ini! Aku bisa mandiri tanpa campur tangan kalian." Juna bangkit dari ruang tamu keluargnya.
"Juna! Jangan pergi, nak!" Mama menahan putra sulungnya. Tubuh wanita paruh baya tersebut beralih ke lelaki halalnya. Memohon agar suaminya agar tidak mengusir Arjuna." Biarin, ma. Jangan dimanjakan! Dia yang mau keluar dari keluarga kita. Dia sendiri yang akan tanggung resikonya. Jangan di bantu! Kalau mama ikut campur papa akan ceraikan kamu!" Jawab Pak Johan.
Juna meninggalkan rumah tanpa membawa mobil pribadinya. Dengan langkah mantap dia memesan taksi untuk pergi ke rumah temannya. Terdengar teriakan mamanya dari luar. Tapi Juna tak menggubrisnya.
Sebuah gang kecil dia berdiri. Melangkahkan kaki dengan mantap. Tampak anak-anak berlarian bahagia, memenuhi ruas jalan gang yang muat motor saja.
"Jamal!" Panggil Juna melihat seorang lelaki yang sedang bermain busa bersama kuda besinya.
"Mas Juna! Masya Allah mimpi apa saya kedatangan menantu Tuan Shahab." Sahut Jamal.
"Mimpi durian runtuh, Mal." Juna memutar pandangannya ke arah sekelilingnya.
"Ella mana, Mal?" Tanya Juna.
"Ella kan sudah nikah mas Juna. Dia ikut suaminya di Surabaya, dapat suami pemborong."
"Pemborong? Muda atau tua suaminya. Setahu aku kalau pemborong usianya paling 45 keatas."
"Ya ampun, mal. Ella kan masih 18 tahun. kamu kok tega, sih kasih adikmu sama bangkotan."
" Ella-nya juga mau, kok. Aduh, mas kita kok ngobrol diluar. Masuk ke dalam mas Juna." Ajak Jamal.
Rumah sederhana yang berlantai ubin merah pun menyambutnya dengan baik. Wangi lantai dengan aroma jeruk pun membuatnya betah dan nyaman. Juna kagum sama Jamal walaupun sekarang tinggal sendiri tapi rumah bersih seperti terurus.
"Duduk, mas. Maaf sofa nya rada bolong. Maklum mas namanya kuli panggul." Jamal merendah.
Juna mengenal Jamal sebagai salah satu pegawai di restoran milik keluarga Shahab. Juna sering menemani Jamal saat menjadi kurir mengantar catering pesanan usaha resto-nya tuan Shahab.
Dari situ mereka akrab hingga Jamal resign hubungan pertemanan mereka masih terjalin.
"Ini mas tehnya. Maaf, cuma ada hidangan seadanya."
"Kamu belum nikah, mal?"
__ADS_1
"Belum mas Juna."
"Tapi calonnya sudah ada kan?"
"Ada tapi belum tahu dia mau sama saya apa enggak."
"Di perjuangkan mal. Gimana kamu bisa tahu kalau kamu nggak coba."
"Assalamualaikum." Terdengar sapaan dari depan rumah Jamal.
"Wah, umur panjang, mas. Baru diomongin dia udah datang."
Seorang wanita muda berdiri sambil menenteng rantang 3 tingkat.
"Kak Jamal, ini ada masakan buatan mama. Soalnya Amar ulangtahun yang ke delapan." Jawab wanita itu.
Juna bangkit karena penasaran siapa gadis incaran Jamal. Matanya membulat pada sosok gadis yang dikenalnya.
"Tina!"
*
*
*
*
Assalamualaikum semuanya.
Terimakasih masih mau mampir ke karya recehku. Ya, meskipun beberapa hari ini nggak ada yang komen. Ada yang like sudah syukur asal jangan boomlike saja.
Tapi pengennya mampir langsung komen sih.
Aku masih minta saran kalian tentang kelanjutan kisah Dira. Sebenarnya mau hiatus lihat persentasinya menipis. Tapi demi kalian aku tetap lanjut.
Rencananya Dira mau pindah buku abis lebaran. Tapi masih dengan judul yang sama. Bagusnya gimana, nih pindah buku apa revisi saja.
__ADS_1
Ditunggu pendapatnya.