
Sekarang ini fasilitas dan standar gaya hidup semakin meningkat, sehingga tidak semua orang bisa mencapai kondisi yang diharapkan atau yang dicapai oleh orang lain. Misalnya, ada orang yang melihat tetangganya punya harta, itu bisa mempengaruhi kondisi psikisnya. Saat ini, lingkungan sosial menuntut masyarakat untuk memiliki dan menginginkan hal yang lebih.
Ketika segala sesuatunya tidak sesuai tujuan. Muncullah pemikiran yang dianggap sebagai penyelesaian masalah mereka. Salah satunya dengan percobaan bunuh diri. Mungkin terdengar konyol, tapi sebagian dari mereka menganggap hal itu sudah paling terbaik. Karena itu perlu ada keterbukaan pada orang lain, terlebih pada keluarga. Karena apa pun masalahnya jika di pendam semakin besar rasa keputusan-asaan, maka angka bunuh diri pun semakin tinggi.
Delia pun merasakan demikian. Sejak dia mengetahui kalau statusnya adalah anak di luar nikah. Rasanya dunia sudah menolaknya, hidup terasa tidak ada artinya. Entah kenapa pikiran-pikiran buruk terus berputar di otaknya. Rasanya dunia ini gelap, semakin jauh rasanya dari kebahagiaan. Seakan tidak ada motivasi untuk hidup.
Delia duduk meratapi nasibnya. Di yakini apa yang terjadi pada dirinya adalah karma perbuatannya pada Dira dan Juna. Namun, sebagian isi hatinya menolak menyalahkan Juna. Karena dia merasa Juna-lah yang sudah mengobarkan api amarah dalam hidupnya. Tangan Delia gemetar memegang handphone. Tatapannya menerawang ke langit-langit.
Sebuah tiang kecil di dalam kamar menjadi inspirasinya. Tak berapa lama sebuah kursi pun sudah menjadi tangga buat dirinya. Tangga memuja dunianya yang baru.
Ooeeeeee .... oooooeeeee...
Delia tersentak ketika suara tangisan pun menghentikan aksinya. Tatapannya nanar kearah sosok kecil tersebut. Lama dirinya termenung membiarkan tangisan itu berhenti sendiri. Meskipun hati kecilnya ingin merengkuh sang anak supaya tenang kembali.
Maa... maaaa....
Suara itu lagi-lagi membuyarkan konsentrasinya. Tubuh Delia melemas. Namun tak beranjak dari tempat kursi dan tali yang siap mengantarnya ke dunia barunya. Delia melihat tali itu seolah memanggil dirinya untuk ikut. Delia malah melihat seorang wanita yang seakan mengajaknya ikut bersamanya.
"Maafkan mama, nak. Mama tidak pantas menjadi orangtuamu. Mama hanya akan membuat kamu malu nantinya, mama doakan kamu menjadi anak yang lebih baik dari kami berdua. Mama yakin, papamu bisa mendidik dengan baik. Selamat tinggal, nak.
Mama sayang sama snow, maafkan mama yang dulu sempat membuang kamu. Bukan mama tidak sayang sama snow. Mama hanya belum siap menjadi seorang ibu." Delia memeluk Roger yang tadinya menangis keras. Di kecupnya malaikat kecil yang berusia dua tahun tersebut.
__ADS_1
Kaki Delia kembali ke atas kursi. Bagaimana seperti yang direncanakan dia akan pergi meninggalkan semua masalah yang menderanya. Seperti ada keraguan yang menyelimutinya, pandangannya beralih antara tali yang ada di hadapannya hingga ke arah Roger yang menontonnya. Tangannya gemetaran sembari memasukkan kepalanya ke dalam lobang yang terbuat dari selendang.
BRAAAAKKK!
"Ya, Allah Delia... jangan!" pekik semua yang di kamar.
Delia merasa ada yang menahan kakinya. Pandangannya beralih saat melihat Rian menaiki kursi untuk melepaskan dirinya.
"Biarkan aku mati, Rian. Percuma aku hidup kalau hanya membuat kalian malu." Pekik Delia.
PLAAAAAAAK!
Tangan kekar itu melayang di wajah mulus Delia. Wanita itu sontak kaget. Terdengar bentakan dari Yasmin seakan tak terima dengan yang dilakukan Rian.
"Kamu nggak akan ngerti perasaanku, Rian. Kamu tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan."
"Apa semua orang harus tahu masalah kamu! enggak, Del! kamu bicara seperti ini seakan merasa kamu paling menderita. Kamu lihat Dira, berkali-kali kamu menyakiti perasaannya. Adakah dia pernah membalasnya? adakah dia pernah memamerkan kesedihannya. Enggak, Del! kamu yang buat dia menderita, tapi kamu bersikap playing victim."
"Rian!" amuk Yasmin.
"Maaf, ma. Saya bicara seperti ini supaya dia sadar. Karena apa yang dia lakukan dia depan Roger akan berdampak ke psikologis anakku. Seharusnya dia mikir, bagaimana menjadi lebih bukan menambah masalah baru."
__ADS_1
"Maaf," suara Delia terdengar melemah.
Rian membawa Roger ke tempat lain. Dia meminta Delia merenung sejenak apa yang di lakukan barusan. Delia duduk di pinggir jendela. Dia tidak sendiri, ada Yasmin dan Arumi yang menemaninya. Itu pun atas perintah Rian. Lelaki itu takut calon istrinya nekat lagi.
Delia berjalan keluar rumah. Kakinya terhenti di depan ayunan kursi yang terletak di depan teras rumah. Ayunan itu belum lama di beli Rian untuk tempat bermain Roger. Tatapannya masih kosong sambil mengayunkan kursi Delia mendaratkan bokongnya.
"Maaf," ucap Delia menyadari Rian mendatanginya.
"Setiap orang pasti punya permasalahan baik rumit ataupun ringan. Semua itu adalah perjalanan hidup yang sudah menjadi garis dari yang diatas. Kalau kamu merasa hancur karena masalah papamu, bagaimana dengan orang lain. Banyak orang yang menikah tapi tidak di wali kan ayahnya. Mereka tetap menjalani kehidupan seperti biasanya. Karena mereka yakin, meratapi tidak akan membuat hidup lebih maju. Karena mereka punya optimis yang tinggi.
Sedangkan kamu, punya segalanya, harta, kasih sayang yang melimpah. Tapi pemikiranmu seperti orang yang kesepian. Kamu lihat mamamu, meskipun dia pernah merasakan perlakuan papamu, tapi tidak membuat dia berlarut dalam kesedihan. Karena satu yang buat dia kuat, yaitu kamu, Del."
Anak dapat dijadikan sebuah renungan bagaimana besarnya kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Kasih ibu sepanjang masa tidak dapat dipungkiri merupakan hal yang memang benar adanya.
Mungkin kasih sayang ibu menjadi satu-satunya hal yang abadi sepanjang hidup manusia di dunia ini. Mungkin banyak dari kita yang terkadang merasa jengkel dengan sosok seorang ibu karena sosoknya yang terkadang suka cerewet atau suka marah-marah, dan mungkin jarang terdengar kata bijak ibu untuk anak yang diucapkan langsung.
Namun bagi ibu, tidak ada yang lebih berharga dibandingkan kebahagiaan dan kesuksesan anak-anaknya di masa yang akan datang.
Itu yang menjadi renungan bagi Delia saat ini. Banyak pengorbanan yang dilakukan mamanya selama ini. Namun dia masih buta karena terlalu dimanjakan oleh papanya. Delia sadar, sudah banyak mengecewakan mamanya. Termasuk saat mamanya bersujud melupakan harga dirinya di depan Arjuna. Termasuk saat mamanya mengorbankan diri ikut di cambuk papanya. Itu semua sudah termasuk pengorbanan sang mama.
"Aku banyak menyakiti perasaan mama, Rian." isaknya.
__ADS_1
"Del," Rian menyeka air mata di wajah Delia. Keduanya tersenyum sejenak, lalu menjatuhkan pandangan ke tanah.
"Pantas saja Dira sangat mempertahankan kamu, Rian. Meskipun aku tahu di lubuk hatinya masih ada Arjuna. Karena kamu bukan sembarang lelaki. Kamu lelaki yang baik Rian, aku minta maaf sempat terhasut Alex untuk menjebak kamu. Pada akhirnya aku yang kemakan jebakan sendiri."