
Assalamualaikum
Juna berdiri di depan pintu ruangan atasannya.
Mencoba ramah dengan lelaki yang sudah memberinya pekerjaan. Kulit Juna yang putih pun menjadi sorotan pegawai lain yang melintas di depan pintu ruangan atasannya. Lelaki berusia 28 tahun tersebut tak mempedulikan tatapan demi tatapan mengarah pada dirinya.
Decitan pintu terdengar, seakan meminta sang penamu untuk masuk ke ruangan tersebut. Tangannya terus mengepal mengalihkan rasa groginya. Dia sudah mantap menolak permintaan untuk menikahi cucu atasannya. Alasannya simpel, karena ada hati yang dia jaga. Meskipun dia tahu pemilik hati tersebut telah memilih lelaki lain. Tapi dia percaya kalau segala sesuatu perlu perjuangan. Sama seperti saat dia berjuang mendapatkan cinta Delia. Meskipun Delia tak pernah membalas apa yang dilakukannya.
"Duduk."
Juna melabuhkan bokongnya di kursi besi yang ada didepannya. Tampak seorang lelaki berpenampilan rapi duduk di hadapannya. Lelaki itu membenarkan kacamata sambil membaca beberapa berkas tanpa menoleh ke arah Juna.
"Arjuna Bramantyo, kamu tahu kenapa saya memanggilmu kesini?"
Juna menggeleng. Dia memang tidak tahu apa tujuan atasannya memanggilnya. Juna hanya menunduk kebawah.
"Kamu tidak lupa tawaran saya?" Juna kembali menggeleng. Dia tidak pernah lupa tawaran yang di berikan kepadanya. Namun untuk menerimanya Juna jelas menolak. Dia sudah terpaut dengan seorang wanita. Untuk saat ini dia yakin tak akan goyah seperti saat bersama Delia.
"Saya tidak lupa pak. Saya berterimakasih dengan tawaran bapak. Tapi maaf, pak. Saya tidak dapat menerimanya. Saya siap jika bapak mau pecat saya, saya siap dengan apapun yang bapak hukumkan kepada saya. Tapi tetap tidak menggoyahkan hati saya."
"Sebutkan alasan kamu menolak tawaran saya."
"Saya punya seseorang yang di jaga hatinya. Saya bekerja disini supaya bisa mandiri, dan membuktikan padanya kalau saya tidak akan bergantung pada orangtua."
Burhan tersenyum mendengar ucapan pemuda di hadapannya. Dia salut mendengar ada pemuda yang mau mandiri tanpa embel orangtua.
"Arjuna Bramantyo putra dari Johan Bramantyo, betul bukan. Pengusaha pengolahan teh, papa kamu pernah mendapat penghargaan dari gubernur Jawa barat, Ridwan Kamil. Karena mampu menghimpun warga, menekan pengangguran di sekitar kebun teh.
Papa kamu itu keren, nak. Itu menurut saya, jarang ada pengusaha yang memberikan peluang kerja bagi warga disana.
Saya tahu sama papamu, sama juga dengan tuan Shahab, mantan atasan papamu. Saya mengenal kalangan pengusaha tersebut, lalu kenapa kamu mengaku warga desa ini?
Apakah kamu tidak berminat meneruskan usaha papamu?"
"Bapak kenal dengan papa saya?" Juna masih tidak percaya kalau pak Burhan bisa tahu jati dirinya. Padahal dia sudah merahasiakan hal ini, tapi sekarang malah orang lain yang membongkarnya.
"Kan saya tadi sudah bilang, saya tahu orangtuamu. Apalagi mantan atasannya yang sok berkuasa itu. Saya kenal sekali dengan Shahab. Jadi jangan kamu kira saya tidak tahu apa-apa. Saya bisa melakukan apapun untuk mendapatkan yang diinginkan. Termasuk mencari tahu wanita-mu itu.
__ADS_1
jadi bagaimana? apakah kamu menolak cucu saya. Juna?"
Juna menunduk, dia ingin terlepas dari jeratan tuan Shahab. Tapi dia pun menyadari, kalau pak Burhan bukan orang sembarangan.
"Maaf, pak. Saya mencintainya, sangat mencintainya. Saya rela di coret dari daftar keluarga. Bahkan membatalkan perjodohan yang di pilihkan orangtua saya. Itu demi wanita yang saya cintai, pak. Saya mohon maaf."
Burhan tersenyum melihat keteguhan hati Juna. Ada rasa salut melihat perjuangan cinta Juna pada wanitanya. Pemuda seperti inilah yang dia cari.
"Pak, apakah masih ada yang di bahas."
"Tidak. Silahkan kembali ke pekerjaanmu." Juna akhirnya pamit dari ruangan atasannya.
"Pikirkan lagi, nak. Jangan sampai kamu menyesal."
Juna hanya tersenyum kecil. "Insyaallah saya sudah mantap dengan pilihan hati, pak. Saya permisi dulu, pak."
Burhan menyilakan Juna keluar dari ruangannya. Tangannya menari di layar pipih, berapa saat kemudian layar itu berpindah indera pendengarnya.
"Dewi, kamu siapkan pertemuan Dira dengan lelaki pilihan saya. Ingat! jangan sampai Dira tahu soal ini."
"Kita buat mereka bertemu dulu, Dewi. Kalau di rasa mereka cocok, lanjut. Kalau Dira menolak juga. Nggak apa-apa, saya tidak akan memaksa lagi."
"Baiklah, om."
"Oh, ya. Saya sudah tahu dimana keberadaan Andre. Jadi mau tidak mau kamu harus bertemu dengan Andre."
"Om, jangan bahas itu dulu" Terdengar Dewi tidak suka diungkit soal mantan suaminya.
"Oke, om paham perasaanmu. Tapi ingat Dira dan Vira butuh wali nikah. Ayahnya masih hidup, jadi buang ego kalian sebagai orangtua." Ucap Burhan menasihati keponakan tunggalnya.
Burhan menutup komunikasinya dengan sang ponakan. Dia paham kalau Dewi masih trauma bertemu mantan suaminya. Bagaimana tidak, seorang ayah yang harusnya jadi panutan anak-anaknya malah mencoreng citranya sendiri.
Alasannya simpel, karena Dewi sibuk kerja, Andre melampiaskan dengan bermain dengan wanita malam. Bukan hanya itu, satu hal yang membuat Feri naik pitam, saat Andre mengajak Vira menemani tidurnya di kamar. Gadis kecil yang tidak tahu apa-apa hanya menurut saja. Saat itu usia Vira baru 9 tahun. Feri yang melihat tingkah papanya itu langsung menghajar habis-habisan. Bukan itu saja, Feri pun tanpa takut mengusir papanya dari rumah.
Burhan yang saat itu berkunjung ke rumah Dewi menyaksikan langsung. Dimana dia melihat Andre babak belur dihajar anaknya sendiri. Setelah tahu ceritanya versi Feri, dia pun turun tangan menghajar lelaki yang dia pilihkan untuk Dewi.
Saya harap Juna bukan lelaki seperti itu. Saya tahu bibit bebet bobotnya keluarga Bramantyo. Saya pernah bekerjasama dengan perusahaan milik Johan. Sebelum saya menjatuhkan pilihan, saya sudah menyelidiki latar belakang Arjuna. Makanya saya mantap memilih dia.
__ADS_1
klik
Sore ini Feri memilih duduk di depan laptopnya. Beberapa file yang harus di selesaikan untuk kerjasama dengan perusahaan Spencer. Feri pernah mendengar cerita tentang anak sulung tuan Bobby Spencer yang saat ini sudah menikah lagi. Apalagi dengan gosip yang beredar kalau rekan bisnisnya itu menikah dengan adik mertuanya.
Seketika dia menghela nafas. Kalau dengan adik mertua saja jadi bahan omongan, apalagi dirinya yang di dekatkan dengan kakak iparnya. Permintaan mantan mertuanya untuk turun ranjang dengan Mayka membuatnya kalut. Dia tidak punya perasaan apapun pada Mayka.
"Pak kopinya.." Lamunan Feri buyar saat melihat sosok wanita dihadapannya.
"Tina," Seketika wanita itu menoleh merasa namanya disebut.
"Iya, pak."
"Duduk saya mau ngomong." Titahnya.
Tina duduk di kursi depan Feri. Wanita dengan rambut sebahu duduk menunggu instruksi atasannya.
"Tina, kamu mau kan menolong saya?"
"Kalau saya bisa bantu, pamrihnya apa, pak?"
"Kamu mau pamrih? saya pikir kamu tulus."
"Saya tulus, tapi pamrihnya saya tidak mau uang. "
"Lalu apa?"
"Saya mau bapak cabut kontrak kita sebagai asisten bapak. Saya tidak enak jadi bahan omongan orang-orang dikantor. Mereka kira kita punya hubungan karena sering bolak-balik ruangan bapak. Saya mau disamakan dengan karyawan lain, itu saja."
"Oke, saya akan cabut tuntutan itu. Tapi dengar syarat, kamu harus jadi kekasih saya untuk membatalkan perjodohan saya dan Mayka."
Tina membulatkan matanya ketika mendengar permintaan atasannya.
visual Arjuna
.
__ADS_1