
"Sebelum Vira menikah mama mau melihat kamu nikah Dira. Mama sudah tua harapan mama hanya sama kamu, nak."
"Tapi Dira belum mau nikah, ma. Banyak hal yang masih Dira kejar."
"Umur kamu sudah berapa Dira? 25 tahun kan. Sudah waktunya menikah. Kalau kamu terus mengejar ambisi yang ada kamu bakal ketinggalan kereta. Menurut kamu gimana, Feri." Mama Dewi meminta pendapat anak sulungnya.
"Ada benarnya kata mama. Kamu harusnya belajar dari yang terjadi sama Meyra, istriku. Kalau saja ketika hamil dia tidak disibukkan dengan urusan pekerjaan. Mungkin aku masih bisa merasakan menjadi suami dan ayah. Kamu tahu kan, Mey itu kalau soal pekerjaan ambisinya tinggi. Saat itu, aku juga tidak tegas sama Mey, ma, karena tadinya aku pikir selama yang dikerjakan itu bersifat positif dan nggak bikin dia keluyuran itu nggak masalah. Tapi ternyata aku salah, dia sampai lupa memikirkan kesehatannya hingga kena covid dan meninggal bersama bayinya.
Dan kakak mau kamu kebahagianmu sendiri."
Dira pergi ke lantai atas untuk menenangkan diri. Keputusan mamanya mencarikan dirinya pasangan sungguh sangat meresahkan. Dia bisa saja memilih lelaki yang dia sukai, masalahnya dia belum menemukannya. Helaan nafas berat terdengar dari rongga bibir tipisnya.
"Gue harus gimana, Yu?" Dira menelepon Ayu sahabatnya.
"Kamu sabar, Ra. Aku yakin ada jalan keluarnya. Apa yang mamamu lakukan karena dia sayang banget sama kamu. Percayalah nggak ada orangtua yang mau melihat anaknya susah." Bujuk Ayu.
Dira tadinya enggan curhat sama Ayu. Dia paham Ayu atau pun Eka sudah punya kehidupan masing-masing. Tapi dia juga bingung harus cerita sama siapa. Pilihan nya jatuh pada Ayu. Karena Ayu belum punya anak jadi kesibukannya tidak sebanyak Eka. Kenapa tidak curhat sama Delia. Sudah hampir satu tahu Delia jarang berkomunikasi dengan dirinya. Entah kalau sama yang lain, pastinya dia tidak pernah dengar kabar terbaru dari sahabatnya.
Sambil menghirup udara malam yang terasa sejuk di balkon rumahnya. Dira menutup komunikasi gawainya dengan Ayu. Tatapannya masih ke arah gawai tersebut, rasanya bicara dengan Ayu belum menemukan solusinya. Deringan kedua kembali terdengar, Dira mengeksperikan wajah saat tahu siapa peneleponnya.
Lama dia merespon deringan telepon yang terus bernyanyi.
Pada akhirnya layar tersebut meredup, lalu layarnya mati dan terkunci. Dira juga nggak mau meladeni telepon tersebut. Lalu menyimpannya di dalam kantong celananya. Di hirupnya nafas dalam-dalam. Rasanya permasalahannya semakin menghimpit beban kepalanya.
__ADS_1
"Aku cuma nggak suka kamu dekat dengan lelaki itu" Kata Arjuna saat pulang dari kantor tadi sore.
"Kenapa?"
"Ya, nggak suka aja. Saya sudah menganggapkan kamu, Eka dan juga Delia seperti adik saya sendiri. Apalagi aku, Ayu, kamu dan Feri sudah tumbuh bersama sejak kecil. Jadi wajar, dong kalau saya ..."
"Kak Feri saja yang kakak kandungku sendiri nggak ngelarang aku. Lah kak Juna kok...."
Dira turun dari mobil Juna dan lebih memilih mencari angkutan lain.
Dira menghela nafasnya dengan berat. Perubahan sikap Juna padanya akhir-akhir ini, masih menjadi pertanyaan baginya. Karena dulu Pemuda yang usianya 3 tahun diatas dirinya tersebut tergolong cuek. Juna hanya lelaki yang menyibukkan diri demi kesetiaannya pada Delia. Karena semua orang tahu kalau Juna dan Delia saling mencintai. Dira juga tahu kalau Delia terkukung aturan keluarga yang pengen anaknya fokus kuliah.
"Jangan melamun!" suara mengagetkannya.
"Ngagetin aja!" Dira menguutkan dadanya.
"Makanya aku bilang, jangan melamun malam malam. Nanti kesambet wewe gombel."
"Hahaha ... sok nakutin, padahal dulu siapa yang paling penakut." Balas Dira.
"Dira, boleh nanya sesuatu nggak?"
"Kalau kakak menanyakan Delia sama aku. Jawabanku nggak tahu! Kakak kan bisa hubungi dia. Katanya cinta mati, tapi masa nanya kabar saja nggak berani."
__ADS_1
"Kamu belum jawab pertanyaanku!" sahut Arjuna.
"Kan kakak belum nanya, kan."
"Oke-oke. Kuberi satu pertanyaan? Nona Medhira, Jika ada seorang lelaki yang ingin move on karena seorang cewek yang sudah hampir satu tahun nggak ada kabar. Apakah lelaki harus mendekati cewek lain."
Dira hanya mengerucut bibirnya mendengar pertanyaan Arjuna. Tangannya terus menggaruk-garuk kepala, meskipun tidak terlalu gatal.
"Hemm .. Gimana ya? tergantung si cowoknya sih. Dia mau benar-benar move on atau cuma pelarian doang. Kalau saran aku mending si cowok sendiri dulu, daripada ada yang tersakiti."
"Oh, begitu. Makasih sarannya, cantik."
Blush
Wajah Dira memerah bak buah tomat ketika di puji Arjuna.
"Kak emang Delia selama itu nggak ada kabari kakak." Arjuna mengangguk pelan.
"Atau Ini hanya alasan kakak saja"
"Dira, aku ....."
"Kak, aku dipanggil mama!" Dira meninggalkan balkon tanpa mendengar ucapan Arjuna.
__ADS_1
Padahal Aku cuma mau bilang sama kamu, Dira. Kalau aku mulai jatuh cinta sama kamu.