
"Dira mama mau ngomong!"
Dira yang sedang meneguk segelas air putih cepat-cepat menghabiskan minumannya.
"Ada apa, ma?"
Mama dewi mengajak anak tengahnya duduk di kursi ruang makan. Tatapan mama Dewi seakan ingin menyampaikan sesuatu.
"Ma, Ada apa?"
"Mama nggak nyangka kalau anak mama bakal dipinang seseorang. Paling tidak jika mama sudah tidak ada nanti, mama bisa pergi dengan tenang."
Dira menggaruk kepalanya. Bingung dengan ucapan mama yang mendadak melow.
"Mama ngomong apa, sih? mama sakit keras? Kok nggak cerita sama kami. Belum nyampai stadium berat kan, ma." Desak Dira.
PLETAAAK!
"Kamu ngedoain, mama?"
"Lah, abis omongan mama aneh. Kayak orang mau mati besok." jawab Dira.
"Mama cuma pengen lihat anak mama bahagia, itu saja. Mama juga tidak mau mati sebelum melihat kamu, Feri dan Vira ngasih cucu." Oceh mama Dewi sambil menyambar cemilan yang ada didepan matanya
Huuuuhh hhhaaah ....huuh haaaah.
Dira langsung mengambil segelas air putih lalu diminumkan pada mamanya.
"Lagian bukannya baru mama letakkan dari penggorengan. Kan masih panas, ma." Protesnya yang kesal lihat tingkah mamanya.
"Makanya kamu nikah, biar mama nggak pusing lagi."
__ADS_1
"Kenapa sih? Mama kekeuh pengen aku nikah. Mama nggak mau ngurusin aku lagi. Tenang,ma. Aku dah gede jadi bisa urusin diri sendiri." Dewi melotot mendengar ucapan putrinya.
"Nak, Bukan begitu maksud mama."
"Mama nyuruh aku nikah karena nanti beban mama akan pindah ke suami Dira kan. sekarang Dira masih jadi beban buat mama, Iya kan." Suara Dira terdengar seperti hendak menangis.
"Bukan begitu, Nak. Soalnya tadi Rian sms mama. Katanya dia mau datang membawa orangtua kesini. Buat ngelamar kamu Dira. Mama yakin Rian itu serius sama kamu. Udahlah, Terima saja Rian, mama suka kalau kamu sama Rian."
Dira mencelos mendengar ucapan mamanya. Sms? Bukankah terdengar tidak sopan jika seorang lelaki melamar melalui ponsel. Mamanya masa tidak paham dengan adab yang seperti itu.
"Ma, lelaki yang baik nggak akan bicara seperti itu melalui ponsel. Nggak sopan namanya, kalau dia memang serius sama aku. Kenapa tadi dia nggak langsung ngomong sama mama? Dia malah langsung pergi gitu saja. Mama selalu menanamkan adab sopan pada kami bertiga. Tapi mama langsung buta melihat seorang lelaki yang pamit melamar melalui ponsel." omel dira.
Dira meninggalkan mamanya masuk ke kamar. Kenapa sekarang dia merasa tidak betah dirumah? karena dia bosan dengan pembahasan itu itu saja. Tangannya meraih coklat yang disimpan dalam lemari. Sambil mendengarkan lagu di radio. Namun konsentrasinya buyar ketika handphonenya berdering sebuah nama tertera. Dira menatap rasa tidak percaya melihat nama siapa yang menghubunginya.
"Del..." Jawab Dira.
"Apa kabar, Dira?" Terdengar sapaan itu dari seberang.
"Ba...ik." Entah dia merasa gugup saat Delia tiba-tiba menelponnya.
"Hey, Non Dira. Kita lagi di rumah Ayu sekarang. Lo cuz kesini."
"Eka?"
Tanpa basa basi Dira langsung keluar rumah dan berjalan menuju rumah yang bersebelahan. Sampai diruangan tampak Delia duduk berdua dengan Arjuna sambil berpegangan tangan. Eka pun segera menarik Dira bergabung dengan mereka.
"Kamu apa kabar, Del?" Tanya Dira saat sungkeman dengan Delia.
"Alhamdulillah, Baik, Ra. Maaf ya aku nggak pernah ngabarin saat masih disana. Aku tuh bukan hanya kuliah di London, Aku juga kerja di instansi disana." Jelas Delia.
"Kak Juna kayaknya cerah lagi, tuh. Kemarin tuh, Del dia galau banget saking kangennya sama kamu." Goda Dira.
__ADS_1
Juna hanya tersenyum kecil saat Dira mengganggunya. Lelaki itu memang awalnya galau saat Delia hilang tanpa kabar. Tetapi sekarang dia sudah tidak galau lagi, mungkin karena apa yang dia risaukan tidak terbukti.
Dira beranjak ke dapur, membuka kulkas apa yang bisa dicemil. Sejak dulu Dira selalu bersikap seolah sudah seperti rumah sendiri. Itupun dia lakukan ketika kedua orangtua Arjuna sedang bekerja. Jadi ketika bermain bersama Ayu, Dira bisa bebas di sana.
Dira melihat cake yang mirip marmer. Tapi dia lebih penasaran dengan botolan jus orange, dengan cepat dira memindahkan jus tersebut ke gelas.
Dira membalikkan badan dan kaget melihat siapa dibelakangnya. Saking kagetnya jus yang dipegangnya tertumpah di kemeja Juna. Dira mengambil tisu membersihkan bekas jus yang mengotori kemeja Juna.
"Ra..."
"Hmmmm..."
"Ra..." Juna mendekatkan tubuh hingga membuat gadis itu salting.
"Aku ..."
"Kak, maaf ya. Gara-gara aku kemeja kakak kotor."
Aduh, Dira kenapa kamu jadi salting begini,sih.
"Delia ..." Sontak Juna merenggangkan tubuhnya dari hadapan Dira.
Juna hanya tertawa kecil saat dia sedang dikerjai sama Dira.
Dira langsung kembali dimana dua temannya menunggu. Tak lama di susul Juna yang duduk di dekat Delia.
Keriuhan acara temu kangen membuat suasana rumah Arjuna menjadi ramai. Banyak cerita yang mengalir dari bibir Delia. Termasuk pengalaman kerja di sebuah perusahaan asing. Dimana banyak budaya disana berseberangan dengan tradisi indonesia.
"Tapi, lo nggak kesengsem kan sama bule disana." Goda Eka.
"Enggak, dong. Aku harus menjaga hati seseorang." Delia mengelus wajah Juna.
__ADS_1
"Tapi kan kamu dan Juna nggak ada tercetus hubungan apapun. Bukannya saat kamu berangkat, Kamu nolak kak Juna." Dira tiba-tiba bersuara.
Astaga Dira kenapa kamu nanya gitu, sih.