Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 11


__ADS_3

POV Dira


Jodoh itu seperti apa sih? Apa seperti salju yang turun mendinginkan hati? Apa seperti api yang datang membakar semua rasa? atau mungkin seperti angin yang lewat begitu saja? Aku rasa tidak untuk semua. Jika seperti salju dinginnya akan bersifat sementara lalu mencair menjadi air yang mengalir lalu hilang. Jika seperti api pasti akan ada percikan yang akan padam jika diberi air. Kalau jodoh seperti angin, dia akan berhembus kemanapun tanpa tujuan dan hilang begitu saja.


Aku merasa terhimpit diantara salju yang membeku lalu mencair ketika diberi api dan debunya terbang terbawa angin lalu hilang tanpa bekas. Ketika memintaku mencari pasangan karena Vira mau menikah. Rasanya aku yang tadinya beku berubah menjadi panas. Bagaimana tidak? Yang mau nikah siapa? Yang didesak cari pasangan siapa? Aku tidak pernah permasalahkan kalau Vira mau melangkah. Aku juga tidak minta pelangkah sama Satria atau pun Vira.


Tapi kenapa sikap mama terkesan menumbalkan aku.


"Sudahlah, Dira. Turutin saja kata mama. Ini untuk kebaikan kamu." Sahut Kak Feri yang nongol di depan pintu kamarku.


"Tapi, kak. Aku belum mau nikah."


"Mama itu sayang sama kamu. Dia nggak mau kamu minder kalau dilangkahi Vira."


"Lah, aku nggak merasa minder kok." Sahutku.


"Dira, Mama cuma ingin kamu punya pasangan karena usia mama tidak muda lagi. Mungkin sewaktu-waktu bisa dipanggil tuhan."


Aduh omongan mama kok jadi mellow,sih. Aku sayang sama mama, pasti itu! Tadinya jangan paksa aku mencari pasangan dalam waktu darurat. Slow aja, biar semuanya mengalir begitu saja. Bukannya sesuatu yang dipaksa-paksa tidak bagus juga untuk kedepannya.


"Ma, Dira juga sayang sama mama. Dira mau mama sehat selalu sampai kak Feri dapat istri baru, sampai Dira menikah nanti, sampai Vira dan Satria juga menikah dan punya. Kami cuma punya mama saat ini, aku, kak Feri dan juga Vira tidak akan pernah meninggalkan mama. Jika kami semua menikah lalu siapa yang akan menemani mama? Dimana kebanyakan seorang istri pasti ikut suaminya kemana pun perginya.


Dan sekarang mama minta aku untuk menikah secepatnya. Menemukan pasangan yang pas tidak mudah,ma.


"Ma, usia Dira memang masih 25 tahun. Dira juga baru dua tahun tamat S2. Pastinya Dira menikmati masa lajang dengan sebaik mungkin. Masa yang belum pernah Dira rasakan selama kuliah dulu. Dira mau kerja dulu sesuai ilmu yang aku dapat selama kuliah.


Aku mencoba menata kata agar tidak menyinggung perasaan mama. Mama berjuang sendiri membangkitkan perusahaan yang hampir bangkrut karena ulah papa. Papaku yang seharusnya menjadi pelindung bagi anak-anaknya, malah menjadi monster yang menakutkan bagi kami semua. Papa yang seharusnya dicintainya keluarganya, malah menjadi ladang kebencian bagi anak-anaknya.


"Dira mau sekarang atau nanti kamu tetap akan menikah, nak. Kalau sudah ada yang mendekati kita itu artinya sinyal buat kamu untuk segera menikah. Karena Allah telah menuliskan dalam suratan takdirmu, Nak. Dan mama yakin si Rian ini bisa menjadi pasangan kamu yang baik."


"Ma, Dira aja baru kenal sama Rian. Bagaimana mama begitu yakin sama lelaki yang baru datang."


Ya Allah bagaimana aku bisa menjelaskan pada mama kalau zaman sekarang menikah cepat bukan solusi yang pas. Bagaimana bisa aku langsung minta sama Rian untuk menikah, padahal kami baru saja saling mengenal.


Malam ini aku pengen tidur nyenyak, tapi ternyata gagal. Pikiranku dipenuhi dengan permintaan mama untuk mencari pasangan sebelum Vira menikah. Dan mama minta dipertemukan dengan Rian. Gila?


Aku menghempaskan tubuh diatas ranjang. Mataku terfokus pada pintu yang menghubungkan ke balkon. Dari balik jendela kamar sosok bayangan berdiri seakan mengintip ke kamarku. Siapa lagi kalau bukan kak Juna.


Akhir-akhir ini aku merasa dia mulai kepo dengan kehidupanku. Apalagi saat aku mulai dekat dengan Rian, dia selalu muncul seperti satpam yang siaga menjagaku. Tapi memang sejak kecil kak Juna selalu menjadi satpam buatku.


Dari kakakku Feri dan adikku, Vira, aku memang beda sendiri. Kakak dan adikku putih sedangkan aku sawo matang. Banyak yang bilang aku malah menurun wajah papa. Sedangkan kakak dan adikku mirip wajah mama yang putih.

__ADS_1


Setiap aku di bully teman-teman karena kulitku beda dari keduanya, kak Juna dan Ayu selalu muncul sebagai pahlawan. Mereka selalu ada disetiap aku merasa tersudut. Mereka selalu menjadi pembelaku.


Hingga saat aku SMA, kulitku nggak sehitam saat masih anak-anak dan yang membully pun sudah berkurang. Tapi setiap ada yang dekatin aku selalu saja membelok ke Delia. Pastinya ketika ada yang mendekati Delia, Kak Juna akan menjadi satpam buat Delia.


POV author


Pagi Ini Dira bersiap-siap joging pagi. Mumpung Sabtu dia libur kerja. Tangannya siap menggeretakkan urat tubuhnya setelah lima hari bergulat dengan komputer. Dira memilih jalan pagi demi mengenyahkan stress karena tuntutan sang mama.


"Pagi,cantik."


Dira yang sedang olahraga membungkukan badan melihat tamu nya dari lobang kedua kakinya. Seorang lelaki memakai baju training berdiri di belakangnya.


"Rian" Sapa Dira pada lelaki di hadapannya.


"Hehehee... Iya. Maaf kalau aku mendadak datang." Ucap Rian malu-malu.


"Eh, ada tamu. Dira, masa tamunya cuma diajak ngobrol di pagar. Ajak masuk dong." Sapa mama Dewi yang muncul di tengah pertemuan Dira dan Rian.


"Eh, maaf tante ini masakan buatan ibu saya. Bubur sumsum." Rian menyerah sekotak tempat makan Tupperware pada mama Dewi.


"Wah, kamu repot-repot bawa beginian. Bilang sama ibu kamu, terimakasih. Dari wanginya kayaknya enak banget ini." Mama Dewi masuk ke dalam meninggalkan Dira dan Rian.


"Hmmm.. tumben pagi-pagi kamu dah nongol." Dira langsung to the point.


"Oh, aku nggak masalah kok." Dira hanya membalas senyuman kecil di depan Rian.


"Kamu sibuk nggak?" Tanya Rian.


"Enggak kayaknya."


"Mau temenin aku jalan sambil cari sarapan"


Tapi aku masih kenyang tadi mama masak bakwan." Elak Dira.


"Dira!"


"Kak Juna?"


"Iya, laptopmu sudah aku benerin. Kamu ikut aku biar kamu bisa mengecek sendiri."


"Titip aja sama mama. Aku mau jalan sama Rian." Elak Dira.

__ADS_1


Juna hanya menatap punggung Dira yang sudah berjalan menjauhinya. Helaan nafas berat terdengar pelan. Tangannya mengepal keras seakan menahan luapan emosi.


Juna merasa sejak kejadian makan ramen saat itu, Dira sering menghindari dirinya.


Apakah kamu punya perasaan sama denganku, Dira?


Kalau memang tidak kenapa kamu terus menghindari aku?


Padahal biasanya kamu nggak kayaknya gini?


klik


Siang ini Juna berencana menemui keluarga Shahab. Tentu saja mengoreksi keberadaan Delia yang setahun belakangan hilang tanpa kabar. Sosmed, kontak dan semua berkaitan dengan calon istrinya hilang seketika. Entah apa yang terjadi pada calon istrinya itu, kalaupun terjadi sesuatu yang buruk pasti dirinya di kabari.


Sekarang Juna bagaimana pungguk merindukan bulan, menanti kepastian hubungan mereka. Kalau ingin selesai, dia dengan senang hati menerimanya.


Tapi tidak seperti ini caranya. Dia mau menyelesaikan dengan cara baik-baik. Juna tanpa sadar sudah berdiri di depan pintu rumah calon mertuanya.


"Assalamualaikum." sapanya memberi salam pada pemilik rumah.


Seorang wanita berusia 30-an muncul di hadapan Arjuna. dengan senyum ramahnya wanita berdaster batik membalas sapaan Arjuna.


"Waalaikumsalam." jawab si pembuka pintu.


"Eh, den Juna. Mau cari siapa den? mas Oka lagi di Lembang sama bapak dan ibu. Sudah seminggu perginya." jelas bibi.


"Kok bibi tahu saya cari mereka? bibi peramal, ya?"


"Ya sudah pasti mas Juna cari mereka. Masa nyari bibi, hehehehe."


"oh gitu ya, bi. huft sebulan yang lalu saya kesini, mereka juga pergi ke Bandung."


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2