
Beberapa rombongan ibu-ibu berada di bandara. Rombongan yang di komando sama ibu Asma Susanti pun berdiri di depan bandara Fatmawati Bengkulu.
"Apa semua sudah berkumpul?" ibu Asma memeriksa rombongan yang berjumlah delapan orang.
"Kyara Manda!"
"Ada!"
"May's"
"Ada!"
"Dhani Haikal"
"Ada!"
"Lisstyfadhila Rindiyana!"
"Hadir!''
"EziaEzia"
"Hadir!"
"Dara!"
"Hadir!"
Merasa sudah memeriksa para undangan. Bu Asma pun mengintruksikan para undangan duduk menunggu jemputan datang. Sebagian dari mereka mengeluh udara panas di kota raflesia itu. Sepertinya mereka tidak menyangka bakal datang ke kota tersebut. Kalau tidak demi ketemu Juna dan Dira mereka juga enggan meninggalkan kota masing-masing. Tapi ternyata mereka cukup kaget dengan perubahan suhu di sana.
"Panas banget, ya!" keluh kyara Manda. Tangannya tak berhenti mengibaskan kertas koran yang dia beli di pesawat tadi.
"Iya, kirain tadi nggak udaranya rada enak kayak di Jakarta tadi." keluh yang lain.
"sudah kalian jangan mengeluh!" sahut ibu Asma. "Kita harus bersyukur pak Burhan dan keluarga membiayai tiket kita PP. Soalnya kalau Othornya nggak punya duit. Novel ini aja masih sedikit gajinya."
__ADS_1
"Kok bisa ya? padahal kita mampir terus ke karya kak Mel." sahut Dara.
"Kalian mampir pernah nggak vote novelnya. cuma kasih like saja. Biar kak Mel semangat kasih bunga kek, kopi kek, vote sekalian biar dia semangat nulis."
"Iya, iya nanti kami kasih dukungan full." sahut yang lain.
Setelah semua sudah berkumpul, satu persatu koper pun sudah dimasukkan ke dalam mobil. Ada dua mobil yang akan mengantarkan mereka. Tampak sosok wanita bertubuh gempal keluar dari mobil tersebut.
"Assalamualaikum semuanya, saya Melisa selaku othor novel sayembara jodoh mengucapkan terimakasih. Karena kalian sudah bersedia datang ke acara walimah pernikahan Dira dan Juna. Saya disini tidak sendiri.
Ada teman saya ayu Widia, Mbak Rasti Yulia, kak Mel Rezki, ada Aulia rahim yang akan memandu kalian untuk jalan-jalan ke lokasi wisata Bengkulu." sahut Melisa.
"Oh ya, di hotel sudah ada bunda Salma yang sudah sampai semalam. Jadi kalian bisa beristirahat terlebih dahulu. Nanti malam kita akan pergi ke acara walimah pernikahan Juna dan Dira.
Oke sekarang kita berangkat ke hotel peristirahatan kalian. Sudah di cek semua Bu Asma."
"Sudah, Mel. Semua sudah hadir." kata Bu Asma kepada Melisa.
Untuk pertama kalinya mereka mendapatkan pengalaman liburan ke kota Bengkulu. Kota yang terkenal sebagai tanah kelahiran ibu Fatmawati istri presiden Soekarno. Sebagian dari mereka tidak merasa takjub melihat kota Bengkulu. Sebab ternyata itu masih kota kecil yang tidak terlalu padat seperti Jakarta atau kota kota besar lainnya.
Mobil yang mereka kendarai melewati pantai panjang. Dimana pantai tersebut terkenal pantai paling panjang se-Indonesia. Sebagian dari mereka pun sudah tertidur di mobil karena tidak semuanya kota besar.
"Aku kira bakal di hotel mewah." keluh Dara.
"Iya,nih. Gimana sih kak Melisa?" omel Kyara Manda.
"Kalian nggak menghargai banget sih! ini tempat sudah keren, Lo. kolam renangnya langsung menghadap pantai. Otomatis dari jendela kalian bisa lihat pantai."
sore ini pemandangan hotel Grage horizon Bengkulu tampak cantik. Cahaya matahari yang akan tenggelam tampak menjadi pemandangan langka bagi mereka yang melihat.
Beberapa dari mereka sudah bersiap untuk mengikuti sholat magrib berjamaah di mesjid Al Taqwa. Mesjid ikon Bengkulu yang terletak di dekat kediaman Pak Burhan. Para undangan pun berbondong-bondong memasuki mobil yang mengantarkan mereka ke tujuan. Mereka memakai gamis putih seragam. Tentu saja seragam sudah di siapkan panitia.
Setelah sholat magrib, mereka di boyong ke tempat acara. Walaupun acaranya sudah isya, mereka menyempatkan diri untuk bertemu sang pengantin. Namun sebelumnya mereka disambut mama Dewi, Vira dan Feri sebagai tuan rumah.
__ADS_1
"Neng Vira ternyata aslinya cantik ya?" kata bunda Salma saat bertemu Vira.
"Terimakasih, bu." jawab Vira.
"Hoooh, cantik banget. Beda cantiknya dengan Dira. Kalau Dira manis." timpal Dara.
"Terimakasih atas pujiannya." jawab Vira.
"Kak Dira ini ada yang mau ketemu." Vira mengajak rombongan ke ruang rias pengantin.
"Mereka siapa?" Dira merasa asing dengan tamunya.
"Sayang, ini pasukan yang di komando kak Melisa. Merekalah yang selama ini mendukung kisah kita. Ini ada ibu Asma Susanti, Dara, Kyara Manda, bunda Salma, lisstyfadhila Rindiyana, Nimah bunda, Rasti Yulia, Ayu Widia, May's, Aulia rahim, Mel Rezky dan masih banyak lagi."
Pesta walimah pun di gelar. Acara yang di gelar memakai adat Melayu. seperti serah terima pengantin. Dira menggunakan baju pengantin adat Melayu. Pengantin perempuan Bengkulu Melayu memakai baju kurung beludru bertabur, baju panjang beludru bertabur dan kebaya pendek serta panjang yang dari kain sutera tipis bertabur.
Baju betabur berupa baju kebaya yang ditaburi dengan bermacam-macam tabur.
Pakaian ini terbuat dari kepingan perak bersepuh emas yang terdiri dari tabur-penabur yang dipasang di seluruh permukaan baju.
Sementara, tabur rendo dipasang pada setiap pinggiran baju dan pada kedua lengan baju. Selain rendo, ada juga tabur karang patu yang dipasang di sekeliling pinggiran baju pada tabur rendo dalam bentuk segitiga sama kaki.
Sementara Juna menggunakan baju adat pengantin pria melayu. Juna menggunakan pakaian Bengkulu Melayu memakai baju jas hitam kemeja tangan panjang dan berwarna putih.Pada pakit baju jas sebelah kiri bagian atas, diselipkan selembar saputangan segi tiga, seuntai rantai emas, dan dibawahnya dipasang sejenis bunga yang disebut bunga dada.
Hiasan kepalanya berupa songkok dan sunting. Sama halnya dengan mempelai wanita, pengantin pria juga mengenakan beberapa perhiasan. Juna pun terlihat lebih tampan.
Untuk mewakili tamu pembaca, mereka meminta ibu Asma Susanti yang memberikan kata sambutan.
"Kata orang jodoh itu seperti sayembara. Kita dihadapkan beberapa pilihan mana yang terbaik. Mana yang baik dan paling baik. Baik saja tidak cukup, tapi baik dalam bagaimana membuat seseorang itu terlanjur sayang pada kita. Bagaimana kita memperlakukan seseorang bukan sebagai pasangan hidup saja. Tapi melebihi pasangan hidup. Bisa seperti saudara, keluarga dan sahabat.
Saya cukup mendengar perjalan cinta Dira dan Juna. Lumayan pelik, tapi penuh perjuangan. Kalau saja Dira jadi sama pasangan sebelumnya mungkin akan beda ceritanya. Tapi kalau Juna tetap sama pasangan sebelumnya mungkin saya dan teman-teman yang lain tidak akan berdiri di sini. Tidak mendapatkan undangan khusus disini." Bu Asma Susanti memberikan kata sambutan sebagai perwakilan tamu. Di sambut tepukan tangan dari para undangan.
Upacara berlangsung begitu khidmat. beberapa tokoh penting pun datang memenuhi undangan. Seorang lelaki datang bersama anak buahnya. Matanya sedikit kaget melihat siapa yang menikah.
"Dira! jadi kamu adalah cucu pak burhan." kata lelaki itu.
__ADS_1
Pak Burhan melihat tamu pentingnya langsung datang menyambut.
"Wawan, terimakasih kamu sudah bersedia datang ke pernikahan cucu saya. Saya doakan kamu segera dapat pengganti almarhumah istrimu." ucap pak Burhan.