
Pukul tiga sore, Delia dan Rian sampai dirumah sakit. Meskipun saat di mobil Delia mengancam akan lompat, namun tak menyurutkan Rian untuk tetap melajukan kendaraannya.
Beberapa saat kemudian mereka memasuki sebuah ruang rawat. Nadia, istrinya Alex mengantarkannya menemui suaminya.
"Aku senang kalian bisa datang." Alex menyambut dua temannya semasa di London. Tangan Alex menerima pelukan dari Rian. Sementara Delia mengalihkan pandangannya ke sudut lain.
"Del, kamu tidak merindukanku. Aku teman baikmu ini." Alex memanggil Delia yang sudah masam menatapnya.
"Oke, kamu apa kabar? kejutan sekali kalian berdua membawaku kesini. Buat apa? mau mempermalukan aku. Mau buka masa lalu bersama bajingan ini!"Delia mengarahkan telunjuknya ke Rian.
"Del, dengar dulu penjelasan saya. Saya justru ke Indonesia mau mencari kalian berdua. Saya mau minta maaf atas kesalahan saya yang menjebak kalian berdua dengan obat perangsang." Alex mengalihkan pandangannya kearah Rian.
Lelaki yang baik dimatanya, lelaki yang sudah mau berbagi tumpangan dengannya. Lelaki yang selalu membelanya setiap ada yang menghina kehidupannya.
"Apa, Lex? setelah yang kalian buat terhadapku kamu dengan gampangnya minta maaf. Setelah kesucianku terenggut kamu dengan gampangnya bilang maaf!" Amuk Delia.
"Del, aku sekali lagi minta maaf. Atas semua yang terjadi padamu. Sebenarnya Rian saat berangkat ke Indonesia, dia mau mencoba bertanggungjawab atas dirimu. Hanya saja karena aku menyukaimu, aku mengatakan kalau kamu menghilang tanpa kabar.
Del, aku jatuh cinta padamu saat itu. Aku menunggu kamu menawarkan menjadi ayah sambung snow saat itu. Aku rela selalu berada disampingmu, bahkan sampai menyewa polisi gadungan untuk menggerebek tempat aborsimu."
__ADS_1
Rian berulang kali mengalihkan pandangannya dari Alex ke Delia. Aborsi? snow? Kata-kata itu masih menjadi pertanyaan di benaknya. Apa yang sebenarnya terjadi? apa Delia sempat hamil? atau Sudah melahirkan?
Delia mengalihkan pandangannya kearah Rian. Tatapan yang sangat membunuh. Sementara Rian merasa sedang di sidang setelah mendengar ucapan Alex. Bagaikan penjahat yang menunggu giliran hukuman gantung.
"Jelaskan padaku, Del! apa benar kata Alex? Apa kita ada anak? Jawab Delia!"
Nadia yang mendengar suara Rian yang menggelegar langsung terkejut. Dia merasa tidak enak karena masih berada di rumah sakit.
"Delia kamu itu manusia, kan? Kamu tidak membuang anak kita, kan? katakan sesuatu Delia Shahab jangan diam saja!" Mata Rian seakan memancarkan kemarahan yang tinggi. Apalagi saat tahu kalau Delia sempat memaborsi anak mereka.
"Iya! anak itu sudah mati! mungkin sudah membusuk di panti. Itu lebih baik daripada dia hidup di dunia mengetahui kalau dirinya anak haram. Puas! bukankah kamu juga menginginkan hal itu supaya bisa menikah dengan Dira. Dan aku bisa bahagia dengan kak Juna."
"Itu anakmu, Rian. Aku sudah tes DNA rambutmu dengan Roger. Dan hasilnya bacalah" Alex menyerahkan sebuah surat pada Rian.
Rian langsung membuka kertas tersebut secara perlahan, dan dengan rasa penasaran hasil tes DNA tersebut. Jantungnya berdegup kencang, pelan-pelan dia membaca isi surat tersebut.
"Setelah kami melakukan tes DNA melalui sampel rambut milik saudara Rian dan mencocokkan melalui sampel rambut Roger Snowden. Hasil tes DNA menyatakan cocok 99,9 % sebagai anak kandung."
Rian merasakan sesak yang menderanya. Tubuhnya runtuh seketika, sesekali dia menujamkan kepalan tangannya ke dinding. Nadia sedikit takut, pasalnya ada Roger yang sedang beristirahat.
__ADS_1
"Delia tidak pernah melakukannya dengan orang lain. Hanya sama kamu dia melepaskan keperawanannya. Dan kamu, Delia, saya minta maaf baru menceritakan sekarang. Yang memasukkan obat perangsang di minumanmu adalah Jaye, dia cemburu pada keakraban kita. Makanya dia melakukan itu, Jaye meninggal saat di dalam tahanan." Alex menceritakan tentang yang sebenarnya terjadi.
"Mungkin ini terdengar berat buat kamu, Rian. Tapi itu faktanya, Roger itu anak kalian. Anak kamu dan Delia. Kamu harus bertanggungjawab anak Roger, aku sengaja membawa Roger ke Indonesia untuk mengembalikan pada kalian."
Delia langsung pulang tanpa pamit pada Rian atau Alex. Tubuhnya di sandarkan pada dinding rumah sakit.
Malam semakin larut, namun dia tetap tak kunjung pulang. Bukan tak pulang lagi melainkan singgah di sebuah diskotik. Hingar-bingar suara musik di klub tak membuatnya risih. Teriakan beberapa lelaki yang menyoraki seorang penari diatas meja menggema di ruangan klub. Tubuh yang semok berlenggok diantara tangan beberapa pria. Namun, tak menyurutkan semangat si penari yang sudah di bawah kendali alkohol tersebut.
Tak berapa lama seseorang menarik tubuh itu turun. Teriakan yang mengamuk memukul punggungnya tak membuatnya berhenti melangkah. Dengan kasar dia menghempaskan tubuh wanita itu ke kursi belakang. Tangannya mengebut dengan kencang.
"Turunkan aku!" pekik Delia dalam keadaan mabuk.
"Rian, kamu brengsek! kamu yang menghancurkan hidupku, kamu yang membuat aku harus melahirkan bayi laknat itu!kamu dan anak itu adalah pembawa sial! seharusnya aku sudah menikah dan bahagia bersama kak Juna. Tapi gara-gara kamu, semuanya hancur!"
Mobil berhenti di depan kediaman milik tuan Shahab. Dengan gesit Rian mengangkat tubuh Delia yang masih setengah sadar. Aroma tubuh wanita itu membuat Rian sedikit mual. Dia baru sadar, wanita yang melahirkan anaknya mempunyai kehidupan seperti ini.
"Ya Allah, Delia!" Pekik mamanya.
"Maaf, Tante, saya terpaksa membawanya seperti ini. Dia sangat mabuk, nama saya Rian. Saya tunangannya Dira.
__ADS_1
Saya pamit, assalamualaikum." Rian pamit meninggalkan kediaman Shahab.