
Pukul 00.30 di gudang milik tuan Shahab
"Disini!" Bisik Juna ketika sampai di depan gudang milik tuan Shahab.
"Kenapa kamu begitu yakin kalau dia dalangnya?"Feri masih belum yakin.
"Karena dia pernah mengancamku saat aku membatalkan perjodohan dengan Delia." jawab Juna mantap.
"Berarti ini ada sangkutannya dengan kamu, Juna." tuduh Feri.
"Iya, kak Feri. Maafkan aku." Juna merasa Feri menuduh dirinya penyebab Dira di culik.
"Maafnya nanti kalau Dira selamat. Dan kalau terjadi sesuatu pada Dira. kamu orang pertama yang aku salahkan." ucap Feri sinis.
"Maaf, kak. Aku juga tidak menyangka tuan Shabab senekat ini. Aku juga tidak mau terjadi sesuatu pada Dira." jawab Juna lirih.
"Jadi apa yang mesti kita lakukan?" tanya Feri.
Feri dan Juna masih asyik berdiskusi padahal sedang dalam persembunyian. Feri seakan mengancam Juna karena penyebab adiknya diculik karena lelaki itu. Juna merasa tidak enak pada Feri, takutnya akan ada hambatan lagi antara dirinya dengan Dira.
"Kita kesana."Juna menarik Feri untuk berpindah tempat. Keduanya berjalan ala TNI yang sedang berperang. Feri manut saja mengikuti arah jalan Juna, walaupun dia juga kesal karena harus menelusuri alang-alang dan tanah yang becek.
Feri menatap jijik ketika sepatu mahal sudah berlumur tanah becek. Menatapnya saja sudah bikin dia malas apalagi ini sudah diinjak. Juna hanya bisa tertawa dalam diam, dia hapal sifat Feri yang rada jijikan. Semakin lama mereka terus bersembunyi, mata Feri memandang sosok kecil yang berjalan tak jauh darinya.
"Hush .. hush .." Feri mengusir makhluk kecil bercangkang.
"Kak Feri jangan berisik, kita ini sedang bersembunyi." Bisik Juna. Dari tadi dia merasa Feri sangat berisik.
"Kamu lawan saja, Juna. Masa juara taekwondo se-jabodetabek nggak berani lawan mereka."
__ADS_1
"Aduh kak Feri, butuh strategi nggak langsung gitu aja." Juna masih mencoba sabar menghadapi Feri.
"Tapi, Juna. Ini tempatnya becek, gelap, huh serem."
"Iya, kak Feri jangan nengok kebelakang."
"Kenapa? apa ada sesuatu yang menakutkan?"
"Katanya sering jadi tempat buang mayat." Juna semakin menakuti Feri.
"Satu poin berkurang untuk dapat restu jadi ipar." balas Feri.
Feri dan Arjuna memasuki areal gudang berdinding kayu. Dua lelaki bertubuh tegap berjalan mengendap-endap melalui jalan samping gudang. Bukan pertama Juna datang ke gudang itu, tapi sudah beberapa kali. Feri masih bersembunyi dibelakang Arjuna. Tentu saja dengan nyali yang masih ciut. Tangan Feri tak lepas dari ujung kaos Juna. Entah kenapa dia menyesal menerima ajakan Juna untuk datang ke gudang milik tuan Shahab. Tapi demi adiknya dia rela bertaruh nyawa. Feri yakin mama dan Vira menunggu Dira di rumah. Mereka masih meneruskan rencana untuk menggerebek gudang tersebut.
Sementara Dira merasa tak punya daya lagi. Mulutnya kembali di tutup sedangkan tubuhnya masih terasa tidak nyaman. Kaki dan tangannya kembali terikat. Memberontak pun sudah tak bisa.
Dihadapannya si plontos duduk sambil memegang kulit wajah Dira. Senyum nakal pun terbit di wajah lelaki itu. Meskipun Dira sudah tak berdaya namun tak menyurutkan si plontos untuk menggerakkan gairah di kobaran nafsunya. Tubuh Dira yang di nilainya sexy membuat lelaki itu tak sabaran menikmatinya. Lelaki itu membuka kaosnya, menggerakkan otot tubuhnya, seakan memperlihatkan keperkasaannya. Dira memilih membuang muka.
BRAAAAAK!
"Dira!"
"Heh! siapa kamu! ganggu kesenangan orang saja." Si plontos marah ketika pintunya di gebrak. Dia kesal gagal menjamah tubuh Dira.
"Aku adalah malaikat maut kamu"sahut Juna.
"Aaaa...bacot!" Si plontos mulai beraksi menghajar Juna. Namun lelaki itu bisa menangkis tangan lawannya.
Dengan cepat Juna mengayunkan kakinya ke perut milik si plontos. Lelaki itu tersungkur hingga ke sudut lantai. Masih tanpa ampun Juna menghajar lawannya. Kakinya kembali diayunkan saat salah satu rekan si plontos ikut membantu. Juna dengan sigap melawan musuhnya.
__ADS_1
Perkelahian antara si plontos dan Arjuna semakin sengit. Juna terus menujamkan kepalan tangannya ke wajah dan perut lawannya. Emosi yang tinggi ketika melihat pujaan hatinya akan di sentuh lelaki lain.
Feri langsung memapah Dira untuk dibawa keluar. Terlihat Dira sangat pucat seperti mayat. Kakinya sudah tak bisa di gerakkan. Tak lama polisi datang mengepung lokasi penculikan. Bukan hanya polisi yang datang tetapi juga mobil ambulan pun ikut datang. Feri memberitahukan keadaan Dira ketika sudah membawa adiknya keluar dari gudang penyekapan.
"Kamu harus kuat Dira, ada kakak datang bersama Arjuna. Ingat kamu harapan kami. Harapan mama supaya bisa memberi cucu. Harapan kakak supaya bisa menghidupkan suasana rumah. Kamu harus kuat."
Juna masih menghajar si plontos tanpa ampun. Namun suara sirine polisi menghentikan adegan baku hantam tersebut. Juna menarik baju si plontos untuk di seret ke hadapan polisi.
"Aku pastikan agar kamu tidak akan pernah keluar dari penjara." ucap Arjuna.
"Rian!" batin Juna saat melihat Rian ada di lokasi kejadian.
"Kak Feri biar aku yang menemani Dira di dalam ambulan." pinta Rian.
"Kok kamu tahu kalau Dira di sekap disini?" tanya Feri.
"Panjang ceritanya, kak. Yang pasti tuan Shahab sudah di tangkap sore tadi. Dan menurut hasil pelacakan handphone saya Dira ada di tempat ini." jelas Rian.
"Aku yang akan menemani Dira dalam ambulan." sahut Juna.
Rian dan Juna saling menatap sengit. Dimata Rian, Juna-lah yang membuat Dira sampai di culik tuan Shahab. Dia memang sudah mengikhlaskan Dira membuka hati. Namun, dia tidak ikhlas kalau lelaki itu adalah Arjuna. Pada akhirnya keduanya masuk ke dalam ambulan mendampingi Dira. Sedangkan Feri membawa mobil yang mengantarkan mereka ke gudang.
"Dira kamu harus kuat! biar aku bisa mewujudkan cita-citamu. Bukankah kamu dulu bilang ingin jadi istriku. Please Dira, kamu harus sembuh." Juna terus menggenggam tangan Dira dengan erat. Rian yang berada di depan Arjuna tampak sinis melihat Arjuna.
Setelah perjalanan panjang akhirnya mobil sampai di pelataran rumah sakit. Rumah sakit yang sama di mana Delia di rawat. Semua petugas rumah sakit sibuk menyambut pasien barunya. Mereka memasangkan Dira alat infus karena denyutnya melemah. Juna bersikukuh tetap di rumah sakit, tapi Feri meminta Juna pulang saja.
Juna menatap pilu saat melihat tubuh Dira dibalut alat medis. Ditemani suara komputer pendeteksi jantung disamping gadis itu. Tangannya mengepal keras mengingat apa yang dilakukan mantan calon mertuanya.
"Kenapa harus Dira? kenapa bukan aku saja yang mereka culik." batinnya.
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan jam subuh. Juna berjalan gontai di lorong-lorong rumah sakit. Rasanya separuh hatinya sedang berduka. Apalagi melihat pujaan hatinya berjuang melawan maut. Tiba dia berdiri di depan ruang mushola, Juna pun menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Berdoa untuk kesembuhan Dira.