
Setelah pengantin sampai dirumah. Jamal mulai bisa duduk santai disambut para tamu yang menunggu kedatangan mereka. Jamal pun memilih mencari tempat untuk melepaskan penat. Seharian dia merasakan haus, karena udara sangat panas. Bengkulu terkenal dengan udara yang cukup tropis. Daerah pantai barat beriklim tropis. Suhu udara yang terendah yang pernah terjadi adalah 10°C, hakikatnya dipengaruhi oleh angin musim dan angin pasat tenggara.
Jamal pun memilih duduk di dekat kipas angin. Bukan hanya dirinya saja, beberapa teman yang lain juga mengeluh masalah suhu udara yang bikin mereka matang.
Jamal melihat Juna masih sibuk dengan tamu tamunya. Dia memilih kembali duduk di dekat kipas angin.
"Mal," sapa Feri yang dia kenal atasan Tina.
"Iya, mas." jawab Jamal sambil mengibaskan peci nya.
"Tina apa kabar?" tanya Feri.
"bentar, bukannya mas Feri sudah melamar Tina. kenapa malah nanya ke saya?"
"Anu, saya di tolak sama Tina." jawab Feri.
"Oooo .." hanya itu yang bisa dia jawab.
"Dia apa kabar?" Feri masih melanjutkan pertanyaannya.
"Tinanya baik, sebelum berangkat ibunya masuk rumah sakit. Ternyata yang merusak perusahaan orangtua Tina, masih orang terdekat. Kasihan dia." kata Jamal.
"Dan saya senang kalau Tina menolak anda. Karena ada kesempatan saya mendekati Tina." Jamal penuh percaya diri.
Feri tercekat mendengar penuturan Jamal. Kata kata Jamal seakan menampar dirinya. Dia memang benci pada Tina dan Glen, namun yang dia lakukan juga untuk memberi syok terapi buat lelaki itu. Feri duduk melemas di salah satu kursi. Jika suatu saat dia benar-benar tertangkap, apa kata orang-orang nantinya. Kejadian itu bahkan sudah terjadi beberapa tahun yang lalu. Kenapa sekarang di buka lagi. Pikiran-pikiran itu selalu menghantuinya.
Dira dan Juna duduk di kursi menyerupai singgasana. Bukan untuk resepsi tetapi untuk tamu-tamu yang sudah mau datang jauh melihat akadnya. Andre dan Dewi berdiri disamping Dira sementara Johan dan istrinya berdiri di samping Juna. Mereka ikut mendampingi pengantin untuk menyalami para tamu. Vira masih duduk berbaur dengan Ayu. Meskipun sebenarnya dia malah duduk disana karena ada Delia dan Rian.
"Mereka masih punya muka datang setelah menyakiti kak Dira." umpat Vira dalam hati.
Setelah beberapa saat tamu mulai sepi. Dira pun memilih duduk di kursi. Kakinya mulai terasa pegal setelah beberapa jam menahan sakit karena sepatu yang tinggi. Juna melihat kegelisahan istrinya langsung membuka sendal milik Dira.
"Kakimu yang mana sakit, sayang?" tanya Juna memeriksa pergelangan kaki istrinya.
"Kok kak Juna tahu kaki ku sakit?" tanya Dira.
"Lah, kan kamu memang dari dulu alergi sama sepatu tinggi. Dari mukanya kelihatan kalau istriku ini tidak nyaman. Jadi mana yang sakit?"
__ADS_1
"Yang ini, tapi nanti saja, kak. itu masih banyak tamu." Dira tidak enak Juna jadi tontonan orang-orang.
"Tidak apa-apa, sayang. Ini sudah kewajiban aku sebagai suami." kata Juna terus memijit kaki Dira. Lelaki itu tidak peduli jadi tontonan banyak orang.
"Mulai sekarang kamu panggil saya dengan sebutan, mas. Jangan kakak lagi, kita kan sudah suami istri." Juna menoleh sesaat sambil mengedipkan matanya.
Dira menunduk beberapa saat. Jantungnya berdegup kencang saat suaminya memberikan senyum terbaiknya. Pijitan Juna ternyata manjur, karena itu adalah pijitan penuh cinta.
"Bagaimana sayang, pijitanku enak kan?" Dira hanya mengangguk.
"Terimakasih, m..mas." Dira menyebut kata Mas dengan terbata-bata.
"Sama-sama istriku."
Mama Dewi mengintruksikan agar kedua pengantin istirahat di dalam kamar pengantin. Dira langsung bertanya apakah hanya mereka berdua di kamar. Juna mendengar pertanyaan Dira langsung tersenyum kecil.
"Sudah pasti dong sayang? kenapa, kamu sudah tidak sabar, ya?" goda Juna.
"Apaan, sih?" Dira kesal Juna bisa menebak pikirannya.
Dira hanya bisa menelan salivanya. Sekelebat rasa takut pun menyergap, dia ingat Ayu pernah bilang kalau malam pertama itu sakit. Bahkan berkisar tiga sampai empat hari baru bisa berjalan.
"Apa aku tidur sama mama saja nanti malam? masa tidur sama mama saja di larang juga. Kan sama orangtua sendiri. Bukan orang lain." batin Dira.
"sayang?" Dira terkejut saat suaminya menyapanya. Lebih kaget lagi mereka sudah di kamar berdua saja. Juna membuka peci akadnya dan menghidupkan AC. Tubuhnya merasa gerah karena udara semakin panas.
"Mas, mau ganti baju ya? atau?" Dira mencoba membantu suaminya melepas kancing baju pengantinnya.
"Atau...." Juna terus berjalan mendekati Dira. Semakin Juna berjalan maju Dira pun terus berjalan mundur. Untung saja dia sudah melepas heelsnya. Kalau tidak mungkin dia akan terjungkal.
Jarak Juna dan Dira hanya satu centi saja. Tangan Juna membelakangi punggung Dira. Dira memejamkan mata seakan yakin suaminya akan melancarkan aksinya.
"Aku haus." Juna mengambil gelas dan menuangkan air putih. Cangkir dan Cerek kebetulan berada di belakang Dira.
"Apa ada acara lagi setelah ini?" tanya Juna.
"Kata mama nanti malam walimah." Jelas Dira sambil melepaskan sunting mahkota yang memberatkan kepalanya.
__ADS_1
"Oh, kemarin aku dengar mama mau pulang ke Jakarta." jelas Juna.
"Pulang!" jawab Dira kaget.
"Iya, kenapa?"
"Enggak apa-apa." kilah Dira.
"Apa karena kamu takut ditinggal?" tebak Juna.
"Aduh, kenapa dia selalu tahu sih apa yang aku pikirkan."
"Ra," Juna duduk disamping istrinya.
"Kalau kamu belum siap tidak apa-apa,sih. Aku nggak maksa, lagian kita kan sudah sah. Bisa kapan saja. Cuma ...."
Juna menggenggam tangan Dira dengan erat. Keduanya saling bertabrakan pandangan. Jantung serasa berdegup kencang. "Cuma apa, mas?" Dira mencoba mengalihkan rasa degupan jantungnya. Mungkin dengan mengobrol jadi tidak terasa.
"Kamu ikut mereka pulang, ya. Aku masih ada pekerjaan disini, dan mungkin minggu depan bisa pulang. Kalau kamu disini, takutnya bakal sendirian di rumah. Soalnya aku harus berbaur dengan warga. Kamu mau kan menunggu aku pulang di Jakarta?"
"Mas, bukankah tugas seorang istri berada di dekat suaminya. Kemanapun suaminya pergi istri harus ikut. Jadi aku tidak apa-apa kalau harus ikut kamu, mas. atau aku bilang sama opa untuk meminta orang lain menggantikan kamu."
"Sayang, please jangan pernah meminta sama opa tentang pekerjaanku. Biar aku mengikuti alur yang diperintahkan opa tanpa ada campur tangan dari orang dalam. Tolong ngerti keadaanku saat ini, aku bekerja dari bawah untuk membuktikan pada mama dan papa kalau aku bisa mandiri. Ya, meskipun aku tahu papa dan Opa Han sudah saling berkaitan."
Dira mengangguk kecil. Dari dulu Juna memang anti bekerja melalui orang dalam. Itu sebabnya dia enggan bekerja di pabrik teh papanya. Juna lebih memilih bekerja di kantor Feri yang rata-rata tidak ada yang tahu siapa dirinya.
*
*
*
Assalamualaikum... mendekati ending nih.
yang mau request cerita sekuel tentang mereka silahkan kasih komennya.
Season 2 nanti bukan kisah Dira melainkan kisah Savira yang dapat kenalan baru dan menempati rumah Juna yang lama. Termasuk kisah kasus Feri dan Tina.
__ADS_1