Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 7


__ADS_3

Rumah bergaya eropa classic yang terlihat kokoh dan mewah. Tampak aura positif yang tersirat dari siapa pun yang terlihat. Terletak di kawasan elite kuningan, itu adalah rumah kediaman keluarga Dewi Savitri.


Di depan pintu, seorang pemuda berkepala plontos dengan seragam kebanggaannya. Tangannya melipat-lipat tanda kegelisahan melandanya. Empat tahun sudah dia mengenyam pendidikan di sekolah pemerintahan. Lima tahun sudah dia menjalin hubungan dengan gadis itu. Baginya sekarang waktunya menunjukan keseriusan hubungan mereka. Ya, Walaupun dia tahu kekasihnya masih kuliah semester tiga. Ya, walaupun dia tahu jarang ada orangtua setuju kalau ada yang mau melamar anak gadisnya yang masih sekolah apalagi kuliah.


Satria Putra Nugraha, itulah nama pemuda itu. Satria dan Vira sudah berpacaran lima tahun, saat itu Vira masih kelas dua SMP dan Satria kelas 3 SMA. Awalnya hubungan mereka sempat di tentang karena usia Vira yang masih di bawah umur. Sementara saat itu Satria menunggu ujian akhir dan memang bercita-cita kuliah di STPDN BANDUNG.


"Kamu serius dengan adik saya?" Tanya Feri saat pertama kali dirinya malam mingguan di rumah Vira.


"Serius, kak." Jawabnya mantap.


"Kamu tahu kan kalau usia Vira lebih cocok jadi adikmu. Kamu tahu kan kalau pacaran sama anak dibawah umur itu termasuk pedofil. Tau kan arti pedofil?"


"Tapi, kak saya tulus kok sama, Vira. Cinta kan nggak mandang umur, nggak mandang fisik." Jawab Satria.


"Tapi adik saya masih 13 tahun, Satria! masih kelas dua SMP! Sedangkan kamu sudah 18 tahun! Kamu pikirkan masa depan adik saya!" omel Feri yang mulai emosi.Satria hanya menunduk takut saat itu.


Pertemuan pertamanya dengan Vira diawal saat diminta memandu sebuah ekstrakurikuler sekolah Vira. Dimana Satria juga alumni SMP 1 Nusa Bangsa. Pertemuan diawali saat Vira sering melakukan kesalahan setiap latihan. Satria dengan telaten mengajari Vira Basket dengan benar. Nggak mudah sih, apalagi saat Satria tahu tujuan Vira masuk kesana demi dekat dengan sang ketua Basket, Dion.


"Kalau kamu nggak dapat Dion? berarti kamu keluar dari tim ini gitu?" Tanya Satria saat itu.


"Iya, kak."


"Makanya kamu latihan yang bener biar Dion mengelirik kamu." Satria masih menyemangati Vira.


Tapi setelah pertandingan final, Satria menemukan Vira sedang menangis di pinggir kelas. Pemuda itu mencoba menenangkan Vira.


"Kak, Sindy jahat! Dia tahu aku suka Dion! Dia yang nyaranin aku masuk ke klub Basket. Tapi nyatanya ....hiks hiks


Dion malah nembak Sindy .... huaaaaa.." Satria menerima pelukan dari Vira.


Entah kenapa jantungnya berdetak lebih kencang saat Vira melabuhkan tubuhnya di dadanya. Tangan Satria membelai rambut pendek gadis muda itu.


"Vira, kalau seandainya ada orang lain yang mau menggantikan Dion kamu mau?" Tanya Satria tiba-tiba.


Satria sendiri tidak menyangka pertanyaan itu keluar dari mulut. Spontan saja.


"Emang ada? Ganteng nggak?"


"Nggak ganteng sih. Tapi dia tulus sama kamu, ya dia cuma takut kamu nggak mau sama dia."


"Kenapa?"


"Karena dia sudah SMA dan kamu masih SMP."

__ADS_1


"Siapa?"


"Aku"


"Hahahaha... kak Sat... jangan gila deh! Masa aku pacaran sama om om."


"Aku belum om om kali. Umurku masih 18 tahun. masih muda. Jadi gimana?" Vira hanya mengangguk mantap.


"Jadi saya diterima." Wajah Satria berbinar saat Vira mengangguk.


Kembali ke masa sekarang, Beberapa menjelang wisuda Satria pulang ke Jakarta. Menjemput kedua orangtuanya untuk menemaninya saat Wisuda nanti.


Terlebih melepas rindu pada sang kekasih yang tumbuh menjadi gadis dewasa yang berusia 18 tahun tersebut. Sebelum mantap menemui kedua orangtua Vira, mereka bertemu di kampus tempat Vira kuliah.


Mereka duduk dikantin sambil melepas rindu, Satria takjub melihat kekasihnya yang tampil modis dan juga cerdas.


"Jadi kak Satria dapat kerja di Kota M?"


"Iya, makanya aku nanya sama kamu?"


"Nanya apa?" sahut Vira sambil menyeruput es campurnya.


"Kamu ... mau .... Nggak nikah sama aku?"


UHUUUUUK UHUUUUK...


"Nggak salah, Kak. Aku masih kuliah kak, masa disuruh nikah. Gila aja!" Protes Vira.


"Ya, kalau kamu takut hamil. Kita pasang KB dulu, kamu tenang aku akan siapkan seseorang buat bantuin kamu dirumah."


"Masalahnya .."


"Masalahnya apa?"


"Kak Dira belum nikah dan mama belum tentu mengizinkan aku menikah sebelum kak Dira menikah."


"Kalau kak Dira mau minta pelangkah aku akan turutin."


"Nggak segampang itu, Kak."


"Kan belum dicoba."


"Lagian kenapa nggak di jakarta aja sih kerjanya."

__ADS_1


"Yang nempatin aku disana itu dari sekolah aku, Vira. Bukan aku yang nentuin." Jawab Satria.


"Terserah, deh!" Vira meningalkan Satria sendiri di kantin kampus.


Dan malam ini Satria pun memberanikan diri menemui Dewi. Melanjutkan niat halalnya masalah di terima atau tidak itu soal belakangan. Yang penting dia sudah mencoba.


"Bismillah." Satria menghempaskan nafasnya.


"Assalamualaikum" Sapa nya didepan pintu rumah pacarnya.


"Waalaikumsalam. Eh, Satria, kamu apa kabar?" Dira muncul sebagai penerima tamu.


"Alhamdulillah kak Dira. Saya sehat wal afiat, saya boleh masuk nggak?"


"Eh, iya maaf. Silahkan Satria, kakak panggilan Savira dulu." Dira meninggalkan Sa


tria yang duduk di ruang tamu.


Beberapa saat kemudian Vira muncul hanya memakai kaos oblong dan celana Hotspant. Mata Satria membelalakan melihat paha mulus pacarnya. Namun dia segera sadar bahwa tak bagus berpikiran seperti itu.


"Kamu ganti celanamu, Vira. Nggak bagus menemui lelaki dengan pakaian seperti itu." Tegur Dewi saat melihat pakaian anaknya.


Dewi pun menemani Satria di ruang tamu. Suasana canggung menyelimuti lelaki itu. Bingung harus memulai dari mana. Pada akhirnya Satria memberanikan diri.


"Maaf, sebenarnya kedatangan saya kesini mau bicara sama tante."


"Saya?" Dewi menunjuk dirinya.


"Ada apa?" Sambung Dewi.


"Saya tahu mungkin ini terlalu cepat buat Vira. Tapi, kalau tidak sekarang kapan lagi tante. Setelah saya wisuda saya sudah dapat penempatan kerja di Kota M.


Jadi maksud saya supaya tidak berjauhan lagi, saya..."


Ya Allah kok aku jadi grogi gini, ya?


"Saya mau melamar Vira menjadi istri saya." Ucap Satria dengan lantang.


Dewi lama terdiam. Dia salut dengan keseriusan Satria pada putri bungsu. Namun, dia masih sangsi dengan putri bungsunya. Keluarga Satria adalah keluarga militer, pasti dengan kehidupan yang disiplin tinggi. Sementara putri bungsu masih menjadi anak manja yang terima beres.


"Terimakasih kamu serius dengan anak tante. Tante pun berharap kamu dan Vira bisa menikah nantinya. Tapi kamu tahu kan, nak kalau Vira belum bisa apa apa. Masak aja nggak pernah, Tante yang selalu beresin kamarnya. Tante takut Vira tidak bisa menyesuaikan diri di keluargamu."


"Tante saya akan membimbing Vira. Insyaallah nanti saya siapin pembantu. Soal Kuliahnya biar saya yang tanggung." Jawab Satria

__ADS_1


"Gini aja, nak Satria. Kami akan rembukkan dulu dengan kakak-kakaknya, Vira. Nanti hasilnya biar Vira yang ngabarin. Gimana?"


"Ba...ik, tante"


__ADS_2