
Rasanya ingin sekali melarikan diri dari kerumitan hidup. Sesak mendera bagaikan batu datang dari langit yang menghujam kepalamu bertubi-tubi.
Tina duduk di depan ruang pantry, setelah mengurusi permintaan aneh bosnya. Di suruh fotokopi berkas di daerah kramat jati yang katanya langganan atasannya. Di suruh bikin kopi yang lebih 7 kali tidak cocok di lidah Feri. Bahkan Feri malah menyemburkan ke wajahnya.
"Kalau aku tidak mikir pengobatan mama, mungkin sudah resign dari sini." Batin Tina.
"Tin..." Wanita itu berdiri saat ada yang menyapanya.
"Ada apa, mbak Indah?"
"Saya minta kamu buatkan kopi sekitar untuk tiga orang ke ruangan saya. Oh, ya ini ada cemilan non sugar kamu salin ke toples dan bawa juga ke ruangan saya."
"Baik, mbak ada lagi?"
"Itu saja. Saya tunggu di ruangan." Indah meninggalkan Tina kembali ke ruang kerjanya.
Sementara itu Tina menyiapkan apa yang diminta Indah. Tubuhnya yang tinggi bak seorang model tidak merasa kesulitan mengambil barang yang letaknya tinggi.
"Tina, tolong ambil helm suami saya yang di lemari atas." Sahut Mini yang muncul tiba-tiba.
__ADS_1
"Tinggi banget itu mbak. Saya mana sampai? Eh, tapi saya coba dulu deh." Tina mengambil kursi untuk menggapai barang tersebut.
Kakinya mencoba keseimbangan, akhirnya tangannya bisa menggapai barang tersebut.
"Hati-hati, Tin. Tadi si Yadi hampir kepeleset pas mau turun."
"Kamu tenang saja." Tina tadinya mencoba hati-hati. Namun, ternyata dia mulai hilang keseimbangan lalu terjatuh.
Tina merasa seperti ada yang empuk mengenai tubuhnya. Mencoba membuka mata, tubuhnya terlipat dalam gendongan seorang laki-laki.
"Untung saya sigap. Kalau kamu kenapa-kenapa kami juga yang repot." Omelnya.
Tina sudah hapal sikap Feri yang ketus padanya. Wanita itu mengucapkan terima kasih pada atasannya. Feri tampak tidak memperdulikan ucapan Tina. Lelaki itu tampak sedang gusar dengan permasalahan perusahaan.
"Pak, ini tehnya." Sapa Tina.
"Terimakasih." Jawab Feri.
Tina kaget. Pasalnya selama dua minggu dia bekerja pada atasannya belum mengucapkan terimakasih. Namun hari ini, entah kesambetan apa lelaki itu tidak bersikap ketus padanya.
__ADS_1
"Kenapa begitu liatnya?" Feri merasa sedari tadi di tatap oleh Tina.
"Nggak papa, saya.."
"Siapa suruh kamu keluar dari ruangan saya? Haaah!" Langkah kaki Tina terhenti ketika atasannya kembali menjadi galak.
"Pak, saya masih banyak kerjaan yang lain." Tolak Tina.
Feri tidak mau menerima alasan apapun. Dia mengunci ruang kantor lalu meminta Tina membersihkan ruang kerjanya.
Sementara Dira harus menerima nyinyiran dari beberapa staf. Terkait lengsernya Arjuna dan digantikan oleh Dira. Jujur, semua ini juga bukan keinginannya. Dia pun tidak minta jabatan apapun, tapi yang dia tahu Juna memang sudah resign karena akan bekerja di perkebunan keluarga Delia. Sambil mendengarkan sebuah lagu, dirinya mencoba menenangkan diri.
Dira membuka laci paling atas untuk mempelajari beberapa berkas sepeninggalan Juna. Dia menemukan box kecil bertuliskan secret admier.
"Paling juga isinya tentang Delia." Dira mengacuhkan Box tersebut.
Pada akhirnya dia memilih membuka kotak tersebut. Beberapa photo anak-anak kecil memenuhi box tersebut.
Untuk dia yang belum peka pada perasaannya.
__ADS_1
Lagi-lagi Dira menganggap kata itu untuk Delia. Dia ingat benar bagaimana Juna mengejar cinta Delia mati-matian dari SMA hingga delia hendak S2 tiga tahun yang lalu.
Cinta kak Juna hanya untuk Delia.