
Tina menatap tajam kearah lelaki di depannya. Mimpi apa dia semalam lelaki itu tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Tina, kamu masih ingatkan sama Feri? Temanmu yang dulu sering datang ke rumah."
"Ingat kok, ma." Jawab Tina dingin.
"Dia bos aku,ma." Tina menyambungkan ucapannya.
Wajah mamanya langsung berbinar "Wah, keren nak Feri. Kamu hebat, nak bisa jadi bos. Andai papanya Tina tidak kena kasus dulu, mungkin Tina sudah sekolah tinggi."
"Ma, Feri ini suaminya Meyra. Mama tahu Mey kan, keponakan papa."
"Iyakah, ya Allah. Kamu sudah beristri ternyata." Terdengar suara mama seperti kecewa.
"Iya, tante, saya..."
"Anda kenapa kesini? Ini di luar jam kerja." Tina tetap memperlihat ketidaksukaannya dengan kedatangan Feri.
"Saya kesini mau bertemu M mama kamu, Martina." Jelas Feri.
"Buat?"
"Ada deh. Mau tahu saja urusan orang." Feri berjalan meninggalkan Tina sambil menuntuk mamanya Tina masuk ke dalam mobil.
Tina hanya menatap punggung Feri dengan perasaan kesal. Lelaki itu tiba-tiba saja muncul tanpa permisi, dia yakin ada maksud tertentu yang akan di lakukan pria itu.
Setelah meletakkan Mamanya Tina ke dalam mobil. Tina pun ikut naik ke dalam. Masih dengan perasaan dongkol Tina memilih duduk di belakang berdampingan dengan mamanya.
"Terimakasih atas pembayaran rumah sakitnya. Nanti saya ganti atau potong saja gaji saya. Saya ikhlas." Jawab Tina sambil memandang jalanan.
Tatapannya beralih pada sebuah gedung menjulang tinggi. Tampak gedung tersebut seperti tak terawat. Ada nada sesak yang dirasakannya. Mencoba menahan bulir tetesan bening.
__ADS_1
"Kamu kenapa, nak?" Sang mama melihat wajah putrinya muram.
Tina menunjuk gedung ya
ng menjulang tinggi seakan menuntun mamanya untuk ikut melihat. Keduanya tampak tenggelam dalam setumpuk kenangan. Bulir bening membasahi wajahnya yang sudah berkerut itu.
"Mereka tega membuat usaha papa hancur. Gedung perusahaan papa menjadi terbengkalai. Ini semua karena ulah mereka." Sahut Tina memalingkan pandangannya kearah punggung Feri yang ada di depannya.
"Itu perusahaan orangtua Glen kalau tidak salah." Sahut Feri seakan tahu gedung mana yang di bicarakan penumpangnya.
"Mereka bangkrut, Glen masuk penjara karena judi. Aku dengar orangtua Glen tinggal di perumahan kecil." Tambah Feri.
"Kamu tahu dari mana?"
"Sebelum covid, sekolah ngadain reuni angkatan. Dari acara tersebut aku mendengar cerita itu. Apalagi banyak yang menanyakan kalau kamu dan Glen tidak datang. Makanya mulai dari hal itu cerita itu berhembus."
"Itu adalah karma mereka." Jawab Tina ketus.
Dan sebentar lagi kamu akan menemukan karma juga, Martina.
Adakah kamu tahu? Saat keluar dari penjara stigma narkoba melekat dalam diriku.
Aku hampir di keluarkan dari sekolah.
Feri terus bermonolog dalam hatinya. Sakit hatinya pada Glen dan Tina semakin menjadi. Sejak Tina bekerja di kantornya, Feri mencoba melupakan rasa dendamnya pada wanita itu. Wanita cinta pertamanya, dia bahkan mengabaikan ucapan Juna saat itu.
Terlebih amukan Andre padanya di depan petugas polisi seakan malu dengan kasusnya. Tangisan sang mama yang dimaki papanya dengan tuduhan terlalu memanjakan anak-anaknya.
Feri menggenggam ujung bajunya dengan erat. Dia akan berjanji membalaskan sakit hatinya pada Tina dan Glen.
Mobil pun berhenti di depan kompleks gang kecil menuju rumah Tina. Beberapa anak berlarian kecil memenuhi gang sempit tersebut. Tina hanya menggeleng melihat kelakuan anak-anak tersebut.
__ADS_1
Tampak rumah kecil yang berdempetan dengan rumah yang lain. Bahkan beberapa ayam wara wiri diteras rumahnya. Tina membuka pintu rumahnya disusul mamanya dan Feri yang memasuki rumah. Mata Feri mengernyit melihat kondisi rumah Tina. Ada senyum kemenangan melihat keadaan Tina, seakan mensyukuri kondisi mantan teman sekolahnya.
"Sudah selesai kan, pak. Saya minta anda pulang, saya takut nanti anda sakit kalau lama-lama disini." Usir Tina.
"Tina, kamu jangan begitu. Bukankah dia atasanmu? Masa sama atasan ngomong seperti itu." Tegur mamanya Tina.a
"Heuuh, sekarang di luar jam kantor, ma. Jadi dia bukan atasanku saat ini. Dan anda pak Feri, saya yakin anda ada maksud tertentu hingga bisa muncul di depan mama saya."
"Saya..." Mata Feri membelalaki saat ada makhluk kecil melompat kearahnya. Makhluk berwarna abu gelap dengan ekor panjangnya bertengger di atas lemari tamu.
"Aaahhh..." Tubuh Feri tertabrak dengan tubuh Tina.
Keduanya terdiam saat tubuh mereka terhempas dilantai.
Kenapa jantungku begini. Batin Feri.
"Lepasin! Kamu mau cari kesempatan?Hah!" Amuk Tina.
Feri hanya tersenyum kecut tidak menanggapi omelan Tina. Lelaki itu hanya sibuk membersihkan bajunya dari debu lantai semen tersebut.
"Tante, saya pamit dulu. Soalnya ada acara keluarga." Pamit Feri menyalami mamanya Tina.
"Kok cepat sekali, nak. Kita baru saja sampai, apa kamu malu masuk ke rumah kami yang jelek ini." mamanya Tina merasa tidak enak pada tamunya.
Feri tersenyum mendengar ucapan mamanya Tina. Lelaki itu menggenggam erat tangan wanita paruh baya tersebut.
"Enggak, tante. Saya nggak dengan rumah ini. Saya memang ada urusan lain, paling tidak saya tahu tempat tinggalnya Tina. Lagian, kapan-kapan saya boleh kan main ke sini."
"Tentu saja, nak. Pintu saya terbuka untuk siapa pun yang mau bertandang."
Tenang Feri, kita buat Tina melayang dengan perlakuanku. Dan nanti saat Tina sudah jatuh cinta, aku akan membuat dia sakit hati. Sama saat dia lakukan dulu kepadaku. Tunggu saja.
__ADS_1
Feri meninggal rumah milik Tina. Sambutan Tina yang dingin membuat lelaki itu semakin penasaran. Tentu saja dengan rencananya membalaskan sakit hatinya dimasa SMA.
"Tunggu saja, Tina. Aku akan buat kamu mengejarku dan bertekuk lutut padaku. Sama seperti saat aku di buat mengejarmu, hingga kamu mempermalukan aku di depan kelasmu. Kamu dan Glen akan menerima ganjaran yang setimpal."