Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 42


__ADS_3

Kediaman Anca


Pagi ini secangkir kopi terhidang di depan mata. Tampak Anca berjalan ke halaman rumahnya yang dipenuhi beberapa tanaman berjejer di dinding. Langit masih terang benderang, Anca memandang beberapa pot yang menempel dinding. Namun pikirannya mengarah ke kejadian lamaran tadi malam. Seharusnya dia lega, karena lamarannya lancar. Hanya saja, kejadian tadi membuatnya memberi kesimpulan bahwa akan ada pertama dari yang maha kuasa.


Anca memejamkan mata sembari menikmati teriknya matahari di pagi hari. Netranya beralih pada jam tangannya, ada gurat kecemasan dalam dirinya.


"Ma, apakah Rian semalam pulang?" Tanya Anca sambil menyambit kue basah yang ada di meja.


"Belum, pa. Semalam Rian telepon dia nginap di tempat jeng Dewi. Menunggu kondisi Dira, kata Rian ada yang sengaja mencelakai Dira." Jelas Arumi.


"Iya, kah. Aku punya beberapa kenalan yang bisa membantu kasus semalam, sayang. Mungkin aku akan menemui besan kita untuk membicarakan hal ini." Ucap Anca.


Arumi hanya manut saja. Dia mengambil gelas milik suaminya yang sudah kosong. Tak lama dia kembali ke teras belakang dimana suaminya masih disana.


"Mas, kemarin aku bertemu dengan gadis yang cantik di acara tersebut. Anaknya cantik seperti orang india, terus ramah dan sopan. Sayang, Rian sudah punya pilihan. Dira juga gadis yang baik, kok, pa. Tapi aku suka saja melihat gadis yang semalam."


Arumi tak tahu nama gadis itu, tapi dia yakin gadis itu masih bagian dari keluarga calon besannya. Entah kenapa dia sangat tertarik padanya sosok manis tersebut. Anca mendengar cerita istrinya hanya menggeleng kecil. Tak seharusnya istrinya membicarakan gadis lain seakan merestui Rian dengan gadis itu.


"Ma, tolong jangan bahas ini di depan Rian nanti. Dia sudah punya pilihan hati. Bahkan mereka akan menikah nantinya. Jadi biarkan Rian menjalani dengan pilihannya bukan dibandingkan dengan gadis lain."


"Papa tenang saja, mama tidak akan membandingkan Dira dengan gadis itu. Mama hanya mengagumi gadis itu karena parasnya cantik dan anaknya santun. Itu saja, Pa.


Mama tidak akan menjadi mertua yang dzolim seperti ibumu lakukan dulu." Jelas Arumi sambil menunduk.


Netra Anca menoleh pada wajah istrinya. Dia memahami yang dulu terjadi antara istrinya dan mamanya menyisakan luka. Meskipun Arumi lebih berada dari dirinya, hal itu tak menyurut sang mama untuk menolak keberadaan Arumi.


Kebencian sang mama di masalalu terhadap keluarga Arumi. Merupakan salah satu faktor kenapa mereka tak direstui. Tapi hal itu tak menjadi masalah bagi mereka, setelah perjuangan panjang akhirnya restu didapat setelah kelahiran Rian. Benar kata orang, anak atau cucu adalah jembatan mendamaikan perseteruan yang pernah terjadi.


Anca berharap, apa yang terjadi dimasalalu tidak akan terjadi pada anak cucu mereka. Dia juga berharap ada pelajaran yang diambil istrinya terkait masalah yang pernah dialaminya. Tentu saja dengan harapan tidak akan mengulangi hal yang sama.

__ADS_1


Lelaki itu melangkah ke depan rumah. Tampak sosok lelaki yang sedang membersihkan mobil sambil bernyanyi riang. Anca hanya tersenyum kecil melihat lelaki yang sudah lima tahun bekerja dengannya..


"Pak." Sapa Pak Andre melihat sang majikan sudah berdiri di dekatnya.


"Kamu kelihatan bahagia sekali, Andre."


Lelaki itu hanya tersenyum simpul lalu menghentikan aktivitasnya "Iya, pak saya bahagia. Anak saya sudah ada yang meminang.Saya senang sekali mendengarnya."


"Kemarin saya sudah menawarkan sama kamu untuk menjenguk keluargamu. Kenapa tidak kamu ambil kesempatan itu. Seorang ayah harusnya ada di dekat putrinya saat momen seperti itu."


Andre hanya menunduk mendengar ucapan majikannya. Hanya saja tidak punya keberanian untuk datang menemui anak-anaknya. Setelah kesalahan fatal yang dia lakukan pada keluarganya. Andre pernah terbuai surga dunia karena kekayaannya. Namun Tuhan menegurnya dengan tamparan keras, indehoy dengan wanita malam langsung kepergok dengan putra sulungnya.


Karena adanya perubahan yang sangat besar dalam hidup dan mengalami culture shock, tak sedikit dari mereka yang kemudian jatuh sakit baik secara fisik maupun mental. 


Sejak saat itu Andre luntang-lantung di jalanan. Dia tak membawa sepeser uang, makan dari makanan sisa. Itupun terkadang mendapat usiran dari beberapa warga tempat dia menumpang tidur. Bahkan dia sempat hampir mati saat asmanya menyerang. Beruntung dia dipertemukan dengan Anca yang membawanya ke rumah sakit.


"Saya malu, pak. Mereka pasti masih benci sama saya. Kesalahan saya pada mereka sangat fatal. Dan yakin seyakin-yakinnya mereka pun tidak akan pernah memaafkan saya."


"Andre, setiap perjalanan hidup tidak akan berjalan mulus. Pasti akan ada ujian yang akan dilalui meskipun berat ataupun kecil. Dan kamu sedang menjalani ujian berat dari Tuhan. Saya yakin suatu saat mereka akan mencarimu, ingat! Anakmu butuh wali saat mereka menikah nanti."


Pencapaian semua tatanan kehidupan yang lebih baik pasti kita dihadapkan pada kesalahan-kesalahan. Namun karena akal pikiran mengendalikan hawa naf?su, maka kita selalu disadarkan untuk belajar adari setiap kesalahan-kesalahan yang ada. Tentu saja kesadaran itu akan mudah muncul bila dalam diri manusia ada suatu pemahaman bahwa selain ada kita masih ada Tuhan.


"Bertobatlah, Andre. Dekatkan dirimu pada Allah. Niscaya, Allah akan meringankan bebanmu. Allah pun akan menuntunmu e jalan yang benar serta membuka hati anak-anakmu." Nasihat Anca sambil menepuk pundak sopirnya.


"Terimakasih, pak."


Ya Allah beruntungnya anakku mendapat besan seperti keluarga ini. Semoga mereka benar-benar berjodoh.


"Andre saya ada urusan,kamu tolong jaga rumah. Biarkan saya bawa mobil bersama istri saya." Titah Anca.

__ADS_1


"Baik, pak." Andre menyerahkan kunci mobil pada majikan.


Saat dirinya hendak mengontrol rumah, sosok lelaki berdiri di depan pagar. Andre mengenal lelaki itu sebagai sahabat putranya.


"Om, Andreas." sadari itu.


"Maaf, anda cari siapa, ya?" Andre berpura-pura tak mengenal pemuda di depannya.


"Om ini aku, Arjuna. Om masih ingatkan sama aku."


"Maaf anda salah orang!" Andre menutup keras pagar rumah.


"Om Vira dan Dira akan menikah! Dia butuh, om." Pekik Arjuna.


Arjuna membalikkan badan saat melihat sebuah mobil mengklakson dirinya. Matanya terbelalak saat melihat siapa yang keluar dari mobil.


Si pemilik mobil tak kalah terkejutnya melihat siapa yang berdiri dihadapan.


"Ngapain dia disini?" batin Rian.


"Jadi pemilik rumah ini adalah..."batin Juna.


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate

__ADS_1


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah


Bersambung


__ADS_2