
Jangan hanya bicara
'Ku tak perlu kata-kata
'Tuk mengerti yang kau rasakan
Karena 'ku hanya butuh
Separuh hatimu
Di dalam hidupku
'Tuk buatku bahagia
Sebut yang kau inginkan
Apapun itu 'kan kuberikan untukmu
Andai kau bersamaku
__ADS_1
Di tempat dan waktu yang sama
Kau akan tahu perasaanku
Yang telah lama terpendam
Inilah yang kurasakan
Lagu yang berjudul bicara dinyanyikan the overtunes menggaung di dalam mobil vans milik Rian. Dira memalingkan wajahnya kearah kaca mobil. Setemlah beberapa menit terjebak macet, akhirnya mobil pun berjalan melenggang di jalanan.
Waktu terus bergulir, langit mulai menampak kilauan jingga. Cahaya matahari mulai bergulir menghilangkan jejak. Namun sedikit sinarnya masih terasa sebelum berganti dengan penerang malam.
Dua hari yang lalu dan tepatnya pagi ini, Dira melihat kamar Juna gelap. Seperti tak berpenghuni. Meskipun dia sudah mencoba masa bodoh, tapi ada sedikit rasa bersalah. Bukan rasa bersalah karena menolak Arjuna, tapi rasa bersalah karena menduduki posisi jabatan lelaki itu. Karena Dira tahu, Juna mulai bekerja dari staf biasa hingga menduduki jabatan manajer. Menjadi orang kepercayaan kakaknya, Feri Andreas.
Tapi melihat postingan Delia, hatinya sedikit tenang. Dira yakin kalau Juna sedang berbahagia bersama Delia. Apalagi pertunangan mereka tinggal hitungan hari. Pasti Juna sedang menikmati masa bahagianya bersama Delia.
Dira membuka IG story milik Delia, tampak dia di dampingi Eka melakukan fitting gaun. Dira berdecak kagum melihat sahabatnya menggenakan gaun yang begitu anggun. Rambut Delia yang ikat bergelombang di sanggul long hairstyle.
"Kamu lihat apa?" Suara Rian mengagetkan Dira yang memandangi style Delia.
__ADS_1
"Oh, ini aku lihat fitting temanku. Dia cantik banget dengan penampilan princess. Kamu mau lihat?siapa tahu bisa buat referensi pernikahan kita nanti."
"Nanti aku lihat. Tapi aku nyetir dulu. bentar lagi kita sampai di tempat angkringan. Mana lapar dari tadi didiemin"
"Lah kamu juga diemin aku. Saya kan menunggu dari tadi, masa cewek yang ngomong duluan."
"Ra, kamu mau dandan bagaimana pun dimataku kamu sudah cantik. Nggak usah ikutin style orang lain. kamu jadi diri sendiri saja, Ra. Aku yakin seperti apa pun style kamu di pernikahan kita nanti, kamu tetap cantik tanpa harus menor.
Kita tidak perlu pakai pesta besar hanya untuk tunangan. Buang-buang waktu, karena tunangan belum tentu jadi menikah. Tapi kalau pernikahan, itu sifatnya sakral. Tidak ada yang bisa memisahkan kecuali maut yang memisahkan."
Dira lagi-lagi merasa tertampar dengan ucapan Rian. Dia membenarkan ucapan Rian, buat apa pesta mewah kalau hanya untuk tunangan. Pernikahan Feri saja digelar mewah tanpa melalui pertunangan.
Rian terus melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah. Matanya melirik kearah Dira yang duduk bersandar di kursi dalam mobil.
Mereka berhenti di rumah makan Padang sebelum mereka pulang ke rumah. Rian memberhentikan mobilnya di pinggiran jalan, lelaki itu mempersilahkan Dira turun dari mobil dengan membukakan pintu mobil.
Keduanya berjalan memasuki rumah makan yang tak jauh dari halte senen.
Dira turun dari mobil dituntun oleh Rian. Sesekali keduanya saling melempar senyum. Mereka berjalan melenggang memasuki rumah makan tersebut. Sementara Dira dan Rian sudah duduk di meja makan dekat kasir.
__ADS_1