
Tina baru saja pulang dari rumah sakit. Dimana mamanya kembali drop dan dirawat lagi. Beruntung ada pamannya yang membantu biaya rumah sakit. Apalagi mamanya di letakkan di ruang VIP. Bagi Tina, ruang itu termasuk mahal. Untuk keuangannya tidak akan bisa memenuhi. Apalagi sekarang dia tidak kerja semenjak berhenti dari kantor Feri.
Baru saja dia akan membuka pintu, telepon genggamnya pun bergetar. Lama dia mengabaikan telepon itu. Bukan tidak mau mengangkatnya, tapi saat otak dan tubuhnya sangat letih. Banyak hal yang harus dia urus termasuk kasus perusahaan orangtuanya.
Dan tiba azan ashar pun terdengar. Tina memilih tidak mengangkat telepon itu. Dia merasa azan itu mengingatkan untuk mendahulukan yang lebih penting. Yaitu shalat.
Tina memasuki kamarnya untuk mengambil mukena. Dia memilih pergi ke mesjid daripada shalat di rumah. Sementara beberapa hari ini Amar tinggal sama Jamal. Tina yakin kalau sama Jamal, adik kecilnya terurus. Bukan dirinya tak mau mengurus, tapi karena dia harus bolak-balik rumah sakit dan kantor polisi.
"Tina!" suara manis menyapa dirinya di salah satu jalan menuju masjid.
"Kak Mayka," Tina menyalami kakak sepupunya.
"Bisa kita bicara."
"Soal apa,kak? tapi maaf aku mau shalat ashar dulu. Kakak mau menunggu di rumah. Ini kuncinya." Tina menyerahkan kunci rumah pada Mayka.
"Yasudah, aku tunggu dirumah." Mayka dan Tina berpisah di jalan.
Beberapa saat kemudian Tina pun selesai sholat dan langsung pulang ke rumah. Mengingat kakak sepupunya itu, pasti sudah menunggu dirinya. Tina membeli beberapa makanan tradisional yang di jual di dekat mesjid. Mengingat di rumah tidak ada stok makanan.
"Maaf buat kak Mayka menunggu lama?" Tina muncul saat Mayka melihat photo SMA adik sepupunya.
"Kamu sekelas sama Feri?" tanya Mayka.
"Iya, kak. Aku sekelas sama Feri." kata Tina sambil meletakkan teh hangat untuk tamunya.
"Diminum, kak, teh nya mumpung masih hangat." tawar Tina sambil tersenyum.
Mayka menyeruput teh hangat yang disajikan adik sepupunya. Matanya mengedarkan ke sekelilingnya sudut rumah. Sudah banyak atap yang lepas dari tempatnya.
"Kamu dan Tante sudah berapa lama tinggal disini?" tanya Mayka.
"Delapan tahun sejak aku pergi dari rumah mertuaku."
"Jadi kamu beneran nikah sama si Glen itu?" Tina mengangguk.
__ADS_1
"Kamu masih ingat kan saat papamu menentang hubungan kalian. Kamu sampai kabur dari rumah hanya karena seorang Glen."
Tina tidak lupa itu. Bagaimana papanya menganggap Glen bukan lelaki yang baik. Saat itu dia sudah dibutakan dengan cinta. Hanya saja dia tidak sampai menyerahkan kehormatannya pada lelaki itu. Bahkan saat menikah pun Glen tidak pernah menyentuhnya. Dia tidak pernah sekamar dengan suaminya itu. Malahan diperlakukan seperti pembantu.
"Iya, aku masih ingat." jawab Tina menunduk.
"Kalaupun perusahaan orangtuamu tumbang saat dipimpin Glen. Kenapa kamu naikkan kasus ini, malah menuduh Feri? lagian buat apa dia melakukan ini?"
"Maaf, kak Mayka. Bukan aku yang menuduh Feri. Tapi bukti kuat yang mengarah ke dia. Aku juga tidak pernah menaikan kasus ini. Tapi Om Amran sendiri yang membuka kasus ini." jawab Tina lantang.
"Berarti ini bukan murni kesalahan Feri. Melainkan banyak oknum yang tidak suka dengan Glen. Jadi aku mohon cabut tuduhan kamu kepada Feri. Kamu tahu kalau Feri itu suami Meyra. Kamu bukannya dekat dengan Meyra, dia pasti sedih diatas sana."
"Kamu tahu, kan kalau Feri akan turun ranjang sama aku? kamu egois, Tina. Kamu bukan saja menghancurkan perasaan Mey, tapi juga perasaanku."
"Maaf," hanya itu yang bisa Tina ucapkan.
"Aku cuma mau kamu tutup kasus itu. Karena kejadian itu sudah sangat lama. Kalau pun semua sudah kembali tidak akan membuat kamu kaya lagi, Tina."
"Kak, apakah kakak mencintai Feri?"
Setelah Mey meninggal dunia. Papa meminta Feri untuk turun ranjang. Itu berselang lima tahun setelah dia menduda."
"Tapi Feri tidak mencintai kakak. Jangan jatuhkan harga dirimu hanya karena seorang lelaki yang tidak mencintaimu."
"Tahu apa kamu soal kami? sejak kamu kembali ke keluarga tiba-tiba kamu membebankan kasus ini ke papaku. Kalau itu hak mu kenapa bukan kamu saja yang berjuang!"
"Maaf, sekali lagi maaf, kak Mayka. Itu perusahaan milik persaudaraan orangtua kita. Bukan milik aku saja, tapi milik Om Monata juga. Jadi wajar kalau beliau memperjuangkan juga. Sekali lagi saya tekankan, itu bukan inisiatif saya. Tapi inisiatif Om Amran, paham!"
...****************...
Setelah Mayka pulang, Tina memilih duduk di teras rumahnya. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Tina menatap langit. Matahari masih satu jengkal diatas bumi. Senyumnya mengembang. Betapa indahnya mahakarya sang pencipta.
Tina pun menikmati sang fajar yang akan diganti oleh dewa malam. Tak terasa waktu siang begitu cepat.
Matahari pun tak nampak lagi. Diiringi azan magrib bulan pun menampakkan diri. Tina pun masuk ke dalam rumah untuk sholat magrib. Sebenarnya dia sedikit takut sendirian di rumah. Maka dia berniat seusai sholat magrib dia akan ke rumah sakit menemani mamanya.
__ADS_1
Selesai shalat Maghrib, Tina pun mempersiapkan diri untuk ke rumah sakit. Dia pun menahan deringan bunyi perutnya.
"Nanti saja makan dirumah sakit." Tina mengabaikan rasa laparnya.
"Ya ampun, kak Jamal sudah banyak menelepon ternyata." kata Tina saat mengecek banyak panggilan dari Jamal.
Saat hendak mengunci pintu, Tina mendengar suara kaki berjalan ke arah dirinya.
"Kenapa teleponku tidak diangkat? aku sudah siapkan makanan buat kamu. Tadi aku melihatmu lewat, aku lihat kamu pucat sekali. Makanya aku masak untuk makanmu." Jamal terus berceloteh tanpa memberi kesempatan Tina untuk bicara.
"Aku bisa makan dirumah sakit, kak." elaknya.
"Ini sudah malam kamu istirahat saja dirumah. Nanti biar aku yang menjaga ibu."
"Tapi, kak."
"Tina, kalau kamu sakit siapa yang menjaga ibu dan Amar. Apalagi Amar masih kecil, masih butuh perhatian kalian. Ini makanlah." Jamal menyodorkan tempat makan dua tingkat.
"Kak Jamal kapan pulang dari pestanya Juna?" tanya Tina sambil menikmati sop sayur dari Jamal.
"Setelah akad besoknya langsung pulang."
"Oh, ya kamu ditanyain tuh sama mantan bos-mu." cerita Jamal.
"Ngapain dia disitu, di undang juga sama Juna?"
"Mas Juna nikah sama adeknya bos mu eh salah mantan bos-mu.
Ehmmm... maaf boleh nanya? kamu nolak lamaran dia, ya?"
"Iya, aku tahu diri, Kak. Dia siapa aku siapa. Lagian nggak ada angin nggak ada hujan dia datang ngomong sama ibu."
"Kamu punya perasaan tidak sama dia?"
"Astaga! aku lupa, aku harus ke rumah sakit." Tina tiba-tiba teringat rencana awalnya.
__ADS_1