Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 96


__ADS_3

"Juna," sapa Burhan.


Juna yang baru saja sampai ke pabrik memutar haluan tubuhnya menuju arah suara tersebut.


"Iya, pak. Ada yang bisa saya bantu?"


Burhan mengajak Juna masuk ke ruangannya. Lelaki muda itu ikut saja tanpa tahu apa yang mau dibahas atasannya.


"Saya ada kerjasama dengan pabrik gula di Bengkulu. Hanya saja, cucu saya sedang sakit. Saya tidak bisa meninggalkannya. Jadi saya minta kamu yang gantikan saya kesana."


Juna menelan salivanya. Bagaimana mungkin dia bisa pergi sementara kondisi Dira belum ada perubahan. Gadis itu masih asyik dengan tidurnya setelah dua hari di rawat ke rumah sakit. Juna mengendurkan nafasnya, dia tidak enak menolak permintaan atasannya. Namun dia juga ingin tahu perkembangan Dira.


Tangan Juna menari di sebuah layar pipih. Tak berapa lama terdengar nada menandakan sambungan telepon masuk. Helaan nafas terus bergulir, netranya memandang jalanan luar pabrik. Beberapa karyawan sudah mulai keluar dari gedung pabrik, artinya jam makan siang sudah datang.


"Mas Juna, makan yuk?" ajak Ical yang melihat teman kerjanya masih bertahan di gudang.


"Kamu duluan saja, dulu. Saya ada urusan sebentar." Ical meninggalkan Juna sendiri di gudang.


"Juna, saya bukan hanya minta kamu yang datang. Tapi ini ada tiket untuk keluarga besarmu."


"Tiket?"


"Iya, kamu tidak lupa dengan rencana saya tentang perjodohan itu. Kebetulan nanti acaranya disana. Jadi kamu dan keluargamu datang, ya."


"Baik pak. Terimakasih atas undangannya." Juna menyalami lelaki paruh baya di hadapannya.


Juna mengulangi sambungan teleponnya. Lama deringan tersambung tapi tetap tidak diangkat. Dan akhirnya..


"Halo, assalamualaikum,"


"waalaikumsalam,.Juna." suara teduh itu membalas teleponnya.


"Tante Dewi, bagaimana kondisi Dira?"


"Dira, baik sekarang sudah mendingan. Cuma sampai sekarang belum ada tanda dia akan sadar." Jelas mama Dewi.


"Alhamdulillah kalau dia sudah mendingan. Maaf Tante dalam beberapa hari ini Juna belum bisa datang kesana. Tadi atasan Juna minta untuk pergi ke luar kota untuk urusan kerja. Saya cuma mau mastikan apakah kondisi Dira sudah ada perubahan apa belum."


"Terimakasih, Juna. Kamu masih perhatian pada Dira. Tante senang kalau Dira dapat lelaki seperti kamu. Maafkan Vira dan Feri ya, mereka masih kesal sama kamu. Tante rasa mereka hanya khawatir pada Dira.


Kalau kamu ada urusan pekerjaan selesaikan saja. Tante akan kabari jika ada perkembangan Dira."

__ADS_1


"Terimakasih, Tante Dewi. Terimakasih atas lampu hijau-nya. Saya janji akan menjaga Dira sepenuhnya hati." jawab Juna mantap.


"Tante pegang janji kamu."


Juna menutup sambungan telepon antara dirinya dan mama Dewi. Ada rasa lega ketika mendengar kabar gadis pujaannya sudah lebih baik dari sebelumnya. Hanya saja saat ini dia harus menerima resiko di jauhi dua sosok yang tadinya pendukung.


Lelaki itu melangkah meninggalkan gudang menuju kantin pabrik.


Juna memandang suasana kantin pabrik yang ramai. Pabrik yang mayoritas memiliki pekerjaan pria ketimbang wanita. Setelah seharian kerja, membuat mereka membutuhkan tenaga lebih. Mereka duduk bersama grup yang lain. Namun tak jarang mereka memilih keluar hanya untuk merokok.


Juna berbaur di meja grupnya Ical. Ada pak Dono yang ikut bergabung dengan para pria muda. Usia pak Dono yang paruh baya tak membuat minder lelaki itu.


"Pak Dono dengar-dengar mau ambil pensiun,ya?" tanya Ical sambil melahap nasi kucingnya.


"Iya, saya mau istirahat." jawab pak Dono sambil tersenyum.


"Sepi kalau tidak ada pak Dono." sahut Juna.


"Ada juga kamu jarang ngobrol sama saya. Kamu malah lebih memilih sama pak Burhan ketimbang sama saya."


Juna sedikit kaget mendengar ucapan pak Dono. Ada rasa tidak enak karena kesannya dirinya milih bergaul. Padahal tidak setiap hari pak Burhan mendatangi dirinya.


"Juna kan calon mantu pak Burhan. Dia bakal nikah dengan cucu pak Burhan." sahut Ical.


Juna bingung bagaimana harus menjelaskan pada mereka yang menganggap dirinya matre. Tubuhnya disandarkan ke Kursi besi. Sedikit menunduk ketika mereka masih asyik makan. Selama ini dia tidak pernah memilih pertemanan.


"Tapi kayaknya kamu orang mampu. Kenapa tinggal di kontrakan Jamal yang kecil dan sempit." kata Ical.


"Nah, apa kamu suka sama seorang wanita? apa tidak di setujui, kamu pergi dari rumah. Begitukah?" tebak pak Dono.


"Iya," jawab Juna.


"Alasan klasik orang kaya." sahut dede.


Jam makan siang sudah habis. Semua pekerja sudah membubarkan diri. Termasuk Juna dan karyawan lainnya. Selama bekerja Juna kepikiran ucapan teman-teman kerjanya. Seburuk itukah dirinya dimata mereka.


Ting!


"Tiketnya sudah siap. Malam ini kamu berangkat. Saya sudah kabari keluargamu." pesan yang dikirim pak Burhan pada Arjuna.


Juna mengacak rambutnya. Semua terasa dibuat buru- buru. Seakan yang dialaminya semasa bersama Delia kembali terulang.

__ADS_1


bisakah aku bernafas sebentar saja?


Juna sudah mempersiapkan barang untuk keberangkatan ke Bengkulu. Tak banyak barang yang dibawanya. Hanya satu tas ransel yang ada dipundaknya. Karena di rumahnya ada koper jumbo sedangkan bajunya hanya ada lima setelan yang dibawanya. Sebentar dia melirik jam sudah menunjukkan pukul 14. 00 sedangkan pesawatnya pukul 19. 00.


"Sudah siap?" tanya mamanya.


"Sudah, ma." jawab Juna.


"Maaf, ya mama dan papa tidak jadi ikut. Sepertinya papamu kurang sehat." jawab mamanya Juna.


"Yah, ma. Ini tiketnya bagaimana? nanti hangus."


"Nggak kok, nak. Tadi mama sudah konfirm sama pak Burhan. Kamu tahu kan sejak tuan Shahab di penjara aset pabrik jadi menurun. Papamu pusing dengan permasalahan yang mendadak di pabrik."


Juna tahu dampak disita nya aset perusahaan tuan Shabab juga berimbas pada pabrik teh milik papanya.


"Apa Juna batalkan saja perginya?"


"Jangan, nak. Teruskan saja pekerjaanmu. Lagian kami sekarang bertumpu padamu, nak.


Oh ya bagaimana keadaan Dira?"


"Sudah lumayan, ma. Cuma dia belum sadar."


Juna mendengar suara mobil menandakan akan berangkat ke bandara Soekarno-Hatta. Juna pamit pada kedua orangtuanya. Mamanya mengecup kening putranya.


"Hati-hati ya, nak."


Juna pun meninggalkan rumahnya di Bogor. Setelah perjalanan jauh dari Bogor ke Cengkareng akhirnya dia berdiri di depan bandara Soekarno-Hatta.


Sambil menunggu boarding, Juna beberapa kali menghubungi Dewi untuk menanyakan tentang Dira. Namun sambungan telepon tak kunjung masuk. Juna menutup handphonenya untuk segera naik ke pesawat.


klik


Sementara itu di sebuah rumah sakit, tepatnya dalam sebuah kamar rawat. Tampak dua wanita dan satu laki-laki sedang duduk di sebuah kursi. Di samping mereka sosok cantik masih terbaring lelap bersama alat medis. Wanita paruh baya itu memijit pelipis jari putrinya yang sudah tertidur selama tiga hari.


"Ra, mama kangen sama kamu. Diantar kamu dan Vira, cuma kamu yang masih mau bantu mama didapur. Mama juga tidak menyangka si Abdullah senekat itu menculik kamu."


Vira mendengus kesal, disaat genting seperti ini mamanya masih sempat mengabandingkan dirinya. Namun kekesalan itu hanya bisa disimpan dalam hati. Vira kembali fokus pada gawainya.


Pelan-pelan mata itu terbuka. Mama Dewi yang melihat anaknya sudah sadar langsung memeluk Dira. Diganti dengan Vira dan Feri. Dira memandang di sekelilingnya. Berputar melihat satu per satu yang ada di dalam ruangan.

__ADS_1


Dimana dia?


Terbersit rasa kecewa yang di cari tak ada di ruangannya.


__ADS_2