
Sebuah kediaman kecil terletak di sudut kota Jakarta. Sepasang suami istri sedang sibuk membereskan barang-barang ke dalam koper.
Sang suami hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap istrinya.
"Mau kemana, ma?" tanya Wandi
"Kita akan ke luar kota, pa. Menghilangkan jejak dulu. Papa tahu kalau keluarga Dira sudah melaporkan hilangnya si pelakor itu. Huh! meribetkan!"
"Mama yang meribetkan, kenapa kamu mau terlibat dengan urusan mereka. Urusan rumah tangga kita saja tidak kelar-kelar kamu malah lebih sibuk dengan urusan mereka. Sekarang kamu mau mengajak kabur dari polisi."
"Sekarang bukan waktunya mengeluh, tadi Santi sudah siapkan keperluan Radit. jadi kita tinggal berangkat. Sementara ini Radit aku titipkan sama mama dulu."
"Tapi Radit bukannya masih ASI?"
"Aku sudah menyiapkan stok ASI buat Radit. Jadi kamu tidak usah khawatir."
"Tetap saja kamu lari dari tanggung jawab, Eka. Tidak ada yang pergi dari rumah ini." Wandi memberikan ultimatum kepada istrinya.
"Tapi---"
"Tidak ada tapi... saya disini kepala rumah tangga bukan kamu! saya yang akan urus semua. Lagipula kita juga tidak salah, kita hanya dijebak sama ayah temanmu itu. Salah kamu malah membius Dira lalu memindahkan ke mobil lain.Itu semua usul kamu, tega sama sahabat sendiri."
Eka menghela nafas berat, dia cuma merasa Dira mengganggu hubungan antara Juna dan Delia. Tadi pagi dia sudah mengirimkan surat resign dari kantornya Rian. Meskipun kantor itulah yang membuatnya sukses saat ini.
Awalnya Eka juga enggan melakukan hal ini. Tapi karena rasa kesalnya pada Dira. Temannya itu mengambil kesempatan cari muka pada Arjuna. Padahal kalau saja Dira mau mengalah dari Delia semua ini tidak akan terjadi.
"Delia itu rapuh. Dia tertekan dengan kehidupannya, Sejak kecil gerak-geriknya saja sudah diatur, dari berpakaian, bergaul, bahkan mau ke WC saja diawasi. Maka sejak itu aku merasa Delia perlu seseorang yang dijadikan tempat cerita. Akhirnya kami akrab, kami punya jalan hidup yang hampir mirip." cerita Eka.
"Tapi kamu terlalu jauh masuk dalam masalah pribadi mereka, Ma. Apalagi tadi katanya Tante Dewi melaporkan hilangnya Dira ke polisi. Tadi keluarga Dira datang ke sini menanyakan soal hilangnya Dira." adu Wandi.
__ADS_1
"Waktu Yanti bilang suaminya sedang punya perempuan lain. Aku tidak berpikir kalau lelaki itu Wawan. Mas tahu? Yanti sempat depresi ketika Wawan dan mertuanya malah melamar Dira. Saat itu aku tidak bisa menyalahkan Dira. Karena aku tahu Dira tidak salah. Dia juga tertipu dengan Wawan. Seandainya dulu aku bilang ke Dira kalau istri Wawan adalah sepupuku mungkin persahabatan kami sudah hancur. Tapi kupikir Dira belajar dari pengalaman, ternyata tidak. Dia kembali mengulangi kesalahan yang sama. Dia masuk ke jalinan asmara Delia dan Arjuna. Sejak itu aku benci sama Dira. Aku tidak bisa memaafkan Dira atas apa yang dia lakukan pada Delia. Oke dia memang dulu cinta sama kak Juna. Tapi apa dia tidak kasihan pada Delia yang mati-matian setia pada Arjuna."
Wandi tahu betapa sayangnya Eka pada almarhum Yanti. Seketika ingatannya berputar saat mendengar Yanti memilih menenggak Baygon. Akibat kabar saat Wawan melamar Dira yang masih kuliah saat itu. Setelah tahu kalau ternyata Wawan beristri, Wawan di hajar habis-habisan sama Arjuna. Terlihat lelaki itu lebih murka daripada Feri sebagai kakaknya Dira.
Saat meninggalnya Yanti, Eka adalah orang paling down. Sempat tak ingin menegur Dira dan sempat menyalahkan Dira. Namun orang-orang disekitar menjelaskan Dira juga korban dalam hal. Lambat laun mereka kembali akrab. Melupakan kekisruhan yang pernah terjadi. Sampai saat ini pun Eka masih menyembunyikan statusnya sebagai sepupu Yanti.
"Assalamualaikum," terdengar sapaan dari depan pintu.
Pintu rumah memang tidak di tutup hanya di pasang terali pintu. Itu supaya Radit bisa melihat luar.
"Waalaikumsalam," jawab Eka dan Wandi bersamaan.
Eka menelan saliva saat tahu siapa tamunya. Sejenak mereka saling berpandangan. Wandi pun meminta Eka untuk membuka pintu.
Pasukan berseragam coklat pun masuk ke dalam rumah. Mereka mengutarakan apa yang membuat rombongan tersebut bisa datang ke rumah.
"Saudara Eka dan Wandi, anda kami tahan atas kasus hilangnya saudari Dira. Sekarang kalian ikut kami ke kantor polisi."
"Istri saya tidak bersalah. Saat yang membawa mobil berdua dengan Dira. Saya yang membius Dira lalu memindahkannya ke mobil lain. Istri saya tidak tahu kejadian ini."
"Pa," Eka kaget suami malah mengakui perbuatan dirinya.
"Mama, papa titip Radit, ya. Maafkan papa belum bisa jadi suami yang baik. Pak, silahkan bawa saya." Wandi pun ikut bersama para polisi.
Suasana di rumah milik Eka berlangsung tegang. Wandi, suami Eka di tahan polisi karena dia yang membawa mobil saat Dira hilang. Eka terpukul melihat suaminya di giring polisi, bahkan suaminya malah mengakui perbuatan yang tidak di lakukan lelaki itu. Tangis Eka pecah diiringi suara sirine polisi.
"Maafkan aku, mas."
klik
__ADS_1
"Tuan ada yang mencari anda." ucap staf restoran.
"Siapa?" tanya tuan Shahab.
"Saya!" ucapan Arjuna dengan lantang.
"Ada apa kamu kesini." jawab tuan Shahab dengan santai.
BUUUUUUGHH!
Juna langsung menghujam bogem ke wajah lelaki paruh baya. Padahal baru semalam dia menghajar lelaki itu habis-habisan. Akibat karena orangtuanya di rendahkan. Tuan Shahab memegang wajahnya yang terasa nyeri. Juna tetap tak berhenti menghujamkan tangannya ke wajah lelaki itu.
"Dasar tua bangka! aku tahu kamu dalang dari hilangnya Dira. Saya tahu kamu di balik semua ini! Dimana kamu sembunyikan wanitaku!"
Tuan Shahab mencoba bangkit. Menahan pedih di wajah dan perutnya. Namun itu tak membuatnya takut pada pemuda didepannya.
"Kau lihat diatas sana. itu cctv yang akan menjeratmu karena membuat kerusuhan di tempat orang."
"Oh, ya. Apa tidak terbalik? anda juga akan di kenakan pasal berlapis tentang penculikan dan KDRT. Kalau masa itu datang tamatlah riwayatmu tuan."
"Oh, ya. ada bukti?"
"Pastikan bukti itu datang tuan yang terhormat. Karena Eka dan suaminya sudah di tangkap."
klik
BRUUUUKKKK!
Dira hanya bisa pasrah saat tubuhnya di dorong ke dalam sebuah gudang. Tangan dan kakinya diikat. Sementara mulutnya di tutup dengan lakban. Yang bisa dia lakukan hanya meronta, menendang dinding yang berlapis kayu. Matanya memutar mencari celah supaya bisa kabur.
__ADS_1
Dadanya terasa sesak, hanya air mata yang tumpah. Dalam pikirannya mungkin esok belum tentu dia bisa melihat matahari. Terbayang saat masih kecil, papanya lebih sayang dengan Feri dan Vira, apalagi kedua saudaranya memang lebih unggul dari dirinya. Setiap ada masalah yang selalu menjadi penyelamat adalah Arjuna.
"Kak Juna, tolong aku!" batinnya.