Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 101


__ADS_3

Hanya denganmu aku berbagi


Hanya dirimu paling mengerti


Kegelisahan dalam hatiku


Yang selama ini tak menentu


Tak ada ragu dalam hatiku


Pastikan aku jadi cintamu


Seiring waktu yang tlah berlalu


Mungkin kau yang terakhir untukku


Akan kulakukan semua untukmu


Akan kuberikan seluruh cintaku


Janganlah engkau berubah


Dalam menyayangi dan memahamiku


Pegang tanganku, genggam jariku


Rasakan semua hangat diriku


Mengalir tulus untuk cintamu


Tak ada yang lain di hatiku


Dira membereskan barang-barang untuk keberangkatannya ke Bengkulu. Terdengar ocehan Vira yang mencari beberapa barangnya, padahal mobil sudah siap, tinggal berangkat. Feri dan Dira hanya menggeleng melihat kelakuan adiknya. Mereka memilih mempersiapkan barang masing masing daripada mendengarkan kehebohan adik bungsunya.


Setelah selesai mereka pun masuk ke dalam mobil. Vira masuk terakhir dengan beberapa barang yang dia tenteng.


"Itu apalagi, Ra." Tanya Dira pada adiknya.


"Sunblock, kacamata hitam, tongsis, krim malam khusus. Terus apalagi, ya." Vira masih memeriksa barang-barangnya.

__ADS_1


"Aduh, Vira. kita ini bukan mau ke pantai. Tapi ke acara opa." omel Dira.


"Ya kan buat jaga-jaga, kak. siapa tahu kita bisa bikini di pantai."


"Itu Bengkulu bukan Bali, nggak ada disana orang jemur pake bikini. Kamu jangan aneh-aneh deh. Kayak nggak pernah pergi liburan saja." Dira masih mengeluarkan ocehannya.


"Kak Dira sejak dapat cincin tadi malam sudah sembuh kayaknya." sahut Vira.


"Apaan sih, anak kecil sok tahu!"


"Nah, kan. Beberapa waktu yang lalu kakak cantikku ini sendu banget. Tapi hari dia sudah normal lagi."


"Eh, Vira jangan ganggu orang yang lagi kasmaran. Macam bangunkan singa yang sedang tidur kamu itu."


"Kak Feri aku bukan singa, enak saja dibilang singa." sungut Dira memalingkan wajahnya kearah kaca mobil.


"Sudah! sudah! kita ini mau happy-happy bukan saling adu argumen. Kamu juga feri, suka sekali mengganggu adiknya sendiri. Kamu itu sudah tua harusnya jadi penengah." omel mama Dewi.


"Tuh, dengar! sudah tua nggak boleh banyak tingkah," balas Vira.


Mama Dewi menggelengkan kepalanya melihat kehebohan ketiga anaknya. Momen ini sangat langka semenjak masalah sayembara jodoh mencuat. Jujur, Dewi merindukan kekompakan keluarganya seperti dulu. Dimana tawa canda selalu mengiringi bahan obrolan mereka. Meskipun kedua anaknya sudah berusia matang, tetap saja sikap kekanakan mereka meramaikan suasana.


Perjalanan mereka menuju ke bandara diiringi dengan saling berbagi cerita. Mengenang masa kecil yang penuh bahagia. Banyak kesan dari kisah tiga bersaudara tersebut. Dewi pun merasa terharu melihat kebahagiaan ketiga anaknya. Apalagi Dira sebentar lagi akan menjemput jodoh. Dewi sudah tidak sabar melihat reaksi Dira ketika tahu siapa calon suaminya.


"Jeng Dewi," Mama Dewi langsung menoleh kearah pemilik suara.


"Aaaa... kalian mau kemana,Jeng."sapa mama Dewi.


"Kami dapat undangan pak Burhan. Kalian sendiri mau kemana?"


"Kami juga dapat undangan om eh pak Burhan."


"Waaaah, kok bisa sama gini, ya." ucap mamanya Juna.


Dira memperhatikan rombongan keluarga Juna. Hanya ada sepasang suami istri paruh baya tersebut. Tak ada Ayu dan suaminya, Juna pun tak nampak batang hidungnya. Dira mendengus kesal saat sang mama lebih sibuk bergosip dengan mamanya Arjuna.


"Cari aku, ya!" sebuah suara mengagetkan Dira. Wajah manis melewati tubuh sang kakak sambil tertawa. Puas rasanya memainkan perasaan kakaknya.


"Viraaaa!" Yang di teriakin hanya menjulurkan lidahnya pada kakaknya.

__ADS_1


"Awas kamu, Vira!"


Setelah mengambil boarding pass, dua keluarga berjalan menuju ruang keberangkatan. Dua gadis muda tersebut lebih sibuk dengan gawainya. Beda dengan Feri yang masih menerima telepon soal pekerjaan kantornya.


Tak berapa lama dua keluarga sudah duduk manis di dalam pesawat. Dira, Vira dan Mama Dewi duduk dalam satu tempat, beda dengan Feri yang duduk di kursi eksekutif.


"Kak Feri curang. Dia ngambil tempat khusus. Sementara kita di letakkan yang umum." gerutu Dira.


kursi kelas bisnis



Sekitar tujuh puluh lima menit garuda besi itu mengantarkan mereka.Bengkulu merupakan bagian dari Nusantara yang patut dibanggakan. Pasalnya, bumi Rafflesia ini memiliki kontur alam mengagumkan. Tak hanya alam pantainya, tetapi juga air terjun, bukit, hingga pegunungan.


Terdengar instruksi dari operator kalau sebentar lagi akan mendarat. Dira hanya tersenyum memandang lautan luas sudah di lewati. Karena ini bukan kunjungan yang pertama kali bagi Dira dan Feri. Beda dengan Vira yang baru pertama kali ikut. Pesawat pun mendarat dengan sempurna di bandara Fatmawati, Bengkulu. Setelah pesawat berhenti, para penumpang mulai mengoreksi barang-barang mereka.


Pak Johan dan istrinya sudah turun terlebih dahulu. Sementara tiga wanita beda generasi itu pun juga masih menunggu berkurangnya penumpang. Setelah itu mereka pun menuruni tangga yang di sediakan maskapai.


Dira memandang di sekitar ruang bagasi. Rasa penasaran pada siapa yang menjemput pak Johan dan istrinya. Apalagi kedua suami istri tersebut tidak nampak lagi.


"Selamat sore nona, saya Joko yang di amanatkan untuk menjemput kalian."


Dira masih asyik dengan gawai tak memperdulikan sapaan Joko.


"Barangnya dimana, nona?" tanya Joko.


"Itu masih di tunggu sama mama. Belum keluar." jawab Dira.


"Dira kamu duluan sama sopir. Mama masih menunggu barang."


"Loh, kok." Dira kaget saat disuruh berangkat duluan.


"Kamu itu belum benar-benar sehat, nak. Jadi istirahatlah." Dira mengikuti kemauan mamanya untuk pulang duluan.


Udara Bengkulu yang lumayan tropis. Membuatnya harus mengeluarkan kipas kecil. Joko menuntun Dira masuk ke dalam mobil. Gadis itu hanya terdiam memandang ramainya aktivitas bandara satu-satunya di propinsi Bengkulu.


"Terimakasih, Joko." Sebuah suara menyapa sang sopir. Kunci mobil pun telah berpindah tangan.


"Yuk,---" suara sapaan itu langsung membuyarkan konsentrasi Dira.

__ADS_1


Dira menoleh pada sosok di sampingnya. Lelaki yang menggantikan Joko, lelaki yang memberikan secercah harapan di hatinya.


Mereka saling bertatapan lama, sesekali kepalanya menunduk.


__ADS_2