Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 5O


__ADS_3

MASIH FLASHBACK


Delia terduduk di tanah, isakan tangisnya yang pelan terdengar semakin.


"Hay, Delia ini London! yang kamu rasakan saat ini adalah hal yang lumrah disini. Pacaran bebas, one night, tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan itu hal yang biasa disini. Kalau kamu mau curhat bukan disini tempatnya. Kalau kamu cerita sama orang lain yang ada kamu akan ditertawakan. jadi please, jangan berlebihan. Nikmati kehamilanmu, disini banyak wanita yang punya anak tanpa menikah." Jawab Alex dengan santai sembari menghidupkan cerutunya.


Delia hanya terdiam mendkaengar ocehan alex. Dia tetap tidak bisa menerima semua yang terjadi dalam hidupnya. Tangannya memegang perut, tanda pergerakan bayi itu semakin nyata. Tubuhnya lemas setelah emosi yang mempengaruhi psikisnya. Tak berapa lama tubuhnya ambruk.


Dia hanya mendengar suara Alex memanggilnya dan Gelap.


Masih dalam diamnya Delia hanya termenung di kamar apartemennya. Tak mau makan, tak mau melakukan apapun. Itu terjadi selama tiga bulan. Kuliahnya tetap berjalan hanya saja Delia enggan berbaur dengan orang lain. Setiap ada yang ramah padanya termasuk laki-laki Delia selalu menghindar. Ketakutannya jika ada yang tahu dirinya hamil semakin menjadi. Apalagi dia melampiaskannya melalui si jabang bayi.


"Dasar bayi laknat! kenapa kamu nggak mati-mati! Kenapa kamu hadir menyiksaku! Aku benci kamu! Aku benci Rian!


Aaaaaaarrrgggg!" Delia melampiaskannya dengan memukul janinnya melalui gagang sapu.


"Aku benci! Aku nggak mau hamil! Aku nggak mau kak Juna ninggalin aku karena anak ini! hiks .. hiks..." Delia menyudut di pojokan ranjang.


"Jika suatu saat aku bertemu Rian kembali.Akan aku buat hidupnya tidak tenang. Bukan hanya itu saja, pasangannya akan merasakan apa yang aku alami. Tunggu saja Rian!" Delia mengepal tangannya penuh dendam.


Delia memutuskan untuk cuti sementara waktu. Dia mengabari orangtuanya untuk izin cuti dengan alasan dapat kerja disana. Awalnya Tuan Shahab keberatan, tapi Delia meyakinkan papanya kalau dia ingin mandiri.


"Kenapa kamu harus bekerja, nak? Kalau kamu mau mandiri pulanglah ke indonesia. Bantu papa di perkebunan." Ucap Tuan Shahab yang heran dengan keputusan cuti putrinya.


"Tidak apa-apa, pa. Aku diajak teman bekerja bukan di kota, tapi di sebuah daerah kecil disini. Aku ingin mandirin, pa. Kalau aku pulang ke indonesia itu bukan mandiri namanya. Lagian papa kan bisa minta tolong kak Oka."


"Nak.." Suara merdu dari seberang ikut nimbrung dalam saluran udara antara ayah dan anak.


"Mama.." Jawab Delia sambil menekan perasaannya mendengar suara mamanya.


"Kalau mama setuju saja asal kamu benar-benar menekuni semua kegiatanmu. Supaya kamu cepat selesai dan meresmikan hubungan kamu dengan Arjuna. Bukankah kamu sangat mencintainya.


Ingatlah, nak perempuan yang bisa menjaga dirinya akan mendapatkan lelaki yang tepat."

__ADS_1


Delia terkunci mendengar ucapan mamanya. Rasa nyilu di hatinya semakin terasa karena telah melukai perasaan mama dan papanya. Delia mencoba kuat agar tidak cengeng.


"Amin, ma, pa. Terimakasih doanya."


"Kami akan selalu mendoakanmu, nak. Tidak akan pernah berhenti berharap yang terbaik buat anak mama. Kamu jugwajahn lupakan sholat, meskipun kamu sedang berada di negara orang.


Kepulanganmu adalah segudang harapan buat kami."


Terdengar isakan kecil dari bibir mungilnya. Mamanya terkejut dengan suara isakan tersebut.


"Anak mama nangis? Apa ada yang menyakitimu?" Tanya mama.


Delia menyusut hidungnya yang mancung. Tampak selembar tisu menari di wajahnya. Membersihkan tetesan buliran bening yang meluntur make up tipisnya.


"Aku terharu mendengar ucapan mama. Aku rindu sama mama dan papa, kak Oka, kak Rayyan, kak Hafiz dan kak Farhan. Aku rindu rumah, ma. Tapi saat ini aku tidak pulang. Maafkan aku mama dan papa." jawab Delia.


Maafkan aku mama dan papa. Aku tidak bisa pulang ke indonesia. Aku malu sama kalian, aku sudah mengecewakan kalian. Seandaikan aku masih nurut dengan kata-kata papa mungkin kejadiannya tak begini.


Setelah melewati beberapa bulan, Delia akhirnya melahirkan bayi tampannya di sebuah panti. Lokasi panti yang jauh dari keramaian. Sejak melahirkan Delia bahkan enggan menyentuh ataupun memberi ASI pada putranya. Di tambah putranya menyerupai Rian, membuatnya membenci anak tak berdosa tersebut.


Ibu panti memberi nama bayi itu Snow karena kulitnya putih layaknya salju dan lahir di musim salju.


Delia pun akhirnya pulang ke London sementara Snow dia tinggalkan di Panti.


"Bu aku titip Snow disini. Aku akan kembali kuliah karena sempat cuti saat hamil Snow. Mungkin setelah tamat aku akan kembali ke sini menjemput Snow." Pamit Delia pada ibu panti.


Aku tidak akan pernah menjemput anak haram itu. Biarkan saja di sini atau diadopsi oleh oranglain.


Delia menyelesaikan kuliahnya dengan baik. Namun berita tentang dirimnya hamil di luar nikah kembali tersebar. Delia yakin kalau penyebarnya adalah Alex, karena lelaki itu yang tahu masalah itu.


Pasalnya dia pun tak tahu dimana keberadaan Alex. Lelaki itu menghilang sejak dirinya cuti hamil. Delia pun pasrah jika memang dirinya di keluarkan dari kampus.


Delia pun akhirnya di keluarkan dari kampus karena ketahuan hamil di luar nikah. Teringat kata-kata Alex kalau di London pergaulan bebas hal yang lumrah. Tapi kenapa kampus malah mengeluarkan dirinya? Karena kampus adalah instansi berbadan hukum. Memiliki peraturan ketat demi loyalitas kampus.

__ADS_1


"Kenapa kamu dikeluarkan!" amuk papanya.


"Saya di fitnah, pa." Jawab Delia membela diri.


"Ada yang menyebar berita kalau aku hamil di luar nikah. Tapi itu semua tidak benar, pa. Aku tahu aturan itu. Aku tidak mungkin melukai hati kak Juna."


"Kenapa mereka bisa memfitnahmu? Siapa dalangnya?" Tanya mamanya Delia.


"Alex! Dia selama ini mengejarku dan aku tolak. Dia bahkan hampir menodaiku. Untung aku bisa kabur dan selamat." Delia dengan lancar memutar balikan fakta.


"Dan kamu Delia, S2 mu di bandung. Biar papa yang urus."


Delia menyanggupi permintaan papanya untuk kuliah dibandung. Selama satu tahun lebih dia kembali kuliah di Bandung. Selama itulah dia memutuskan tidak mengabari Arjuna.


Flashback Off


Masih berada di vila milik Rian. Delia keluar dari kamar Rian, menemani Arjuna yang pingsan saat di kali. Tangannya terus menggenggam jemari tunangannya. Pertemuannya dengan Rian kembali membuka luka lama. Luka yang tadinya sudah mengering sekarang terbuka lagi.


Sore itu udara mulai beralih. Dari panasnya terik siang berganti menjadi sejuk ditambah embun mulai menampakkan diri.


Delia duduk di gazebo depan vila. Menatap bunga-bunga cantik yang berjejer di dekat gazebo. Menghirup wanginya salah satu bunga berwarna putih.


"Del." Delia tersentak mendengar suara bariton di belakangnya.


Tubuhnya memutar menghadap pemilik suara tersebut. Dia hanya tersenyum, lalu berusaha meninggalkan lelaki itu.


Tangan kekar itu menahan lengannya.


"Mau apa?" Jawab Delia ketus.


"Kemana kamu selama dua tahun ini?" Tanyanya.


"Haaaah! Emang apa urusanmu! Kan diantara kita tidak ada hubungan apapun! Jadi mau dua tahun atau berapa tahun pun bukan urusan kamu!"

__ADS_1


__ADS_2