
Cinta itu jika sudah wanginya kuat akan membekas sampai kapanpun. Pikiran terasa terang, Itu yang kini dirasakan Dira dan Arjuna. Pernikahan dadakan yang sudah menghitung hari. Rasanya baru semalam Dira mengiyakan permintaan Juna untuk menjadi istrinya. Feri mendatangi Arjuna untuk menanyakan keseriusan lelaki itu pada adiknya. Sebagai kakak tertua, tentu hal ini adalah tanggungjawabnya. Tugas yang diembannya tidaklah mudah, dia harus memastikan apakah Arjuna itu layak untuk Dira. Juna sangat senang dengan kedatangan Feri. Mereka duduk di depan sebuah penginapan sambil berbincang panjang. Dua lelaki yang sudah akrab sejak kecil. Sekarang duduk bersama menikmati udara malam. Di temani abang bakso yang sedang menyiapkan pesanan.
"Juna, terimakasih kamu sudah membuktikan pada Dira. Tentang keseriusan hubungan kalian. Saya percaya kamu bisa menjaga Dira dengan baik."
"Terimakasih kak Feri, sesungguhnya aku juga manusia biasa yang tidak luput dari salah dan dosa. Tapi kalau urusan asmara aku nggak pernah salah. Karena hati yang menuntun kemana akan berlabuh."
Feri tergelak " Wuidih, sejak kapan Arjuna Bramantyo suka kata puitis."
"Sejak ... tadi."
Juna menghela nafas berat. Dia mau membicarakan soal perusahaan Glen pada Feri. Sudah lama dia mau membahas hal ini. Tapi selalu ada halangannya.
"Kak,"
"Iya,"
"Kak Feri masih ingat kerjasama perusahaan milik Glen."
Tentu saja dia ingat. Perusahaan saingannya. Saat itu Feri yang masih memiliki dendam pribadi dengan Glen. Masih terbayang di benaknya lelaki itu memasukkan barang laknatnya ke mobil Feri. Hal itu yang membuatnya sakit hati pada Glen maupun Tina. Terlebih Feri pernah mendapati Tina ketemuan di hotel bareng papanya. Itu membuat Feri semakin mantap pada dendamnya.
"Kak!" suara Juna membuyarkan lamunannya tentang masa lalu.
"Iya,"
"Maaf, aku boleh cerita sedikit."
"Boleh Juna. apa yang mau kamu ceritakan."
"Ini soal Tina dan mertua kak Feri." Juna mencoba membuka cerita.
__ADS_1
Feri masih mencerna ucapan Juna. Ada apa Tina dengan mertuanya? apakah Tina terlibat hubungan asmara dengan ayah mertuanya. Kalau soal itu bagi Feri bukan hal yang heboh. Kalau wanita itu bisa berduaan dengan papa-nya tidak menutup kemungkinan bisa mengulangi hal yang sama.
"Kak Feri masih ingat, bagaimana kakak menumbangkan perusahaan milik Glen. Masih ingat bagaimana kak Feri mati-matian ingin membalaskan dendam kakak pada Glen."
"Terus?"
"Perusahaan itu milik Tina, lebih tepatnya punya orangtua Tina. Perusahaan itu di bangun bersama dua saudara papanya Tina. Saat perusahaan itu di rebut oleh Glen dan kedua orangtuanya. Papanya Tina sakit-sakitan. Tentu saja usaha yang dirintis sejak nol. Harus hancur di tangan menantu dan besannya.
Kakak tertua dari papanya Tina ini sempat memperjuangkan nasib perusahaan. Setelah papanya Tina meninggal dunia, pamannya Tina memperjuangkan agar perusahaan itu bisa kembali ke pada mereka. Tapi sayang perusahaan itu malah tumbang."
Feri merasa tidak berselera membahas masalah itu lebih lanjut. Dia juga menganggap bukan urusan dirinya tentang perusahaan yang tumbang tersebut.
"Tina saat ini sedang mengusut soal penumbangan perusahaan yang disinyalir di sabotase. Glen pun memilih bungkam atas masalah ini. Padahal yang dia dapatkan dari mantan pengacara. Kalau perusahaan itu tumbang karena ada dendam pribadi."
"Terus urusannya sama aku apa, Juna?"
"Karena yang punya dendam sama Glen cuma satu orang. Yaitu kak Feri. Ya aku tahu kakak masih benci dengan Glen maupun Tina karena kasus pas SMA dulu. Kakak benci sama Tina karena pernah kepergok berdua dengan om Andre.
"Kak Feri apakah tidak ingin tahu siapa paman Tina? dimana beliau ikut membantu mencari pelaku sabotase perusahaan orangtua Tina."
"Siapa?"
"Mertua kak Feri. Ayahnya Meyra, bahkan Alif, adiknya Meyra menjadi pengacara yang ikut menangani kasus ini." Feri menghentikan acara makannya saat mendengar ucapan Juna.
"Mertua saya?" Feri masih tidak percaya kalau masalah yang dulu sekarang di buka lagi.
Feri yang tadi memilih tidak peduli sekarang berbalik penasaran. Kenapa dia tidak begitu peka dengan hal ini? Kenapa dia baru tahu kalau Tina dan mertuanya mempunyai hubungan keluarga.
Feri mengacak rambutnya. Seakan ada beban yang sebentar lagi menghimpitnya. Tangannya memunggungi leher belakangnya.
__ADS_1
"Bukankah Glen itu memang banyak musuh? apalagi dengan kebiasaan judinya. Jadi kenapa harus di usut lagi. Sudah pasti perusahaan itu bangkrut karena kelalaian lelaki itu. Orang kayak Glen juga tidak akan bisa memanjemen keuangannya."
"Yang aku dengar kak Feri, Glen di penjara karena sudah menghancurkan perusahaannya. Kan lucu, kak."
"Aku minta kamu tidak usah mengurusi hal itu. Kamu fokus dengan rencana pernikahan dengan Dira. Itu biarlah jadi urusan mereka." ucap Feri.
Feri sudah sampai dirumah mencoba beristirahat setelah bertemu dengan Arjuna. Apa yang di bicarakan Arjuna sungguh membuatnya kalut. Jika memang Tina akan menuntut dirinya karena menumbangkan perusahaan keluarganya. Maka tamat lah riwayatnya. Bukan hanya dia yang akan kena imbasnya. Perusahaan, dan keluarga besarnya juga akan ikut terseret. Dia pikir kejadian beberapa tahun yang lalu sudah selesai. Ternyata salah. Feri pun beranjak dari tangga pintu masuk rumah.
"Kamu dari mana Feri?" tanya mama Dewi.
"Jalan-jalan cari angin." jawab Feri singkat.
"Oh, ya. Disaat seperti ini kamu masih memikirkan cari angin."
"Maksud mama?"
"Tadi, ada salah satu staf kita yang mengabari kalau dalam tiga hari ini ada pihak polisi yang memeriksa perusahaan kita. Sampai Alif adik ipar kamu, beberapa kali mendatangi kantor. Apa yang sudah kamu lakukan, nak? apa kamu menyalahi jabatan kamu sampai harus ada yang turun tangan."
"Tidak ada, ma. Mungkin Alif ada perlu sama aku." jawab Feri.
"Semoga saja, nak. Mama tidak ingin perusahaan yang baru saja bangkit tiba-tiba bermasalah karena keteledoran kamu."
"Feri, ke kamar dulu." Feri meninggalkan mamanya yang masih sibuk di ruang tamu.
Beberapa saat tubuhnya direbahkan ke ranjang kamarnya. Ucapan mamanya, ucapan Arjuna terus menari-nari di pikirannya. Dia memang pernah terlibat dalam penumbangan perusahaan milik orangtua Tina. Tapi saat itu yang dia tahu perusahaan itu milik keluarga Glen, bukan punya Tina. Jadi dalam hal ini bukan salah dia kalau ternyata lawannya hanya bertukar nama.
"Aku tidak menyangka kalau papanya Meyra masih satu keluarga dengan Tina. Dunia ini sepertinya sempit." Feri menyandarkan punggungnya di dashboard tempat tidurnya.
Kasus yang sudah lama di buka kembali oleh keluarga mendiang istrinya. Sesekali Feri mengacak rambutnya.
__ADS_1
Aaaaaarrrgh!