
Kediaman keluarga Shahab
Pagi ini semua berkumpul di ruang makan. Menikmati sarapan bersama untuk menambah energi. Mama Yasmin atau kita tahu mamanya Delia menyiapkan beberapa barang milik suaminya. Karena tuan Shahab akan berangkat ke Bandung bersama Oka, putra ketiganya.
"Mas, ini aku sudah siapin barang. Sekarang aku mau bangunin Delia." Panggil Yasmin sambil meninggalkan kamarnya.
"Biarin saja dia istirahat. Tidak usah dibangunkan." Sahut tuan Shahab.
Yasmin menghela nafas berat. Dia membangunkan Delia buat mengajari anaknya untuk belajar disiplin. Apalagi usia Delia sudah 25 tahun. Tadi malam Delia baru pulang dari kumpul bersama temannya. Itu yang membuat yasmin mau mendidik Delia supaya tidak keterusan dugem.
Sejak pulang dari London, Delia kerap keluar malam. Yasmin khawatir anaknya terpengaruh dengan kehidupan di London. Tuan Shahab biasanya suka mengirimkan bodyguard untuk anaknya. Kini sudah melonggarkan aturan itu.
"Papa tahu, tadi malam Delia pulang jam berapa? Jam satu pagi! masa anak perempuan seperti itu! Bikin malu saja. Selama ini mama mendiamkan keinginan Delia karena papa terus melarang. Sekarang mama mau didik Delia jadi perempuan seperti Delia yang dulu."
"Biarin saja. Delia itu lagi patah hati gara-gara Arjuna. Biarkan dia menumpahkan perasaanya. Mama jangan ganggu dia dulu."
"Enggak. Ini nggak bisa dibiarkan, ingat Delia itu sudah matang. Jangan terlalu dimanjakan. Gara-gara papa dia jadi seperti ini. Pokoknya mama mau didik dia jadi anak baik." Yasmin meninggalkan suaminya di kamar.
Yasmin sudah berdiri di kamar anaknya. Tentu saja membangunkan sang putri yang masih asyik terlelap. Matanya melirik arloji yang menandakan sudah pukul 07. 25.
Yasmin menarik selimut yang menutupi tubuh Delia. Tapi Delia dengan cepat menarik selimutnya kembali. Tarik menarik selimut antara ibu dan anak berlangsung dramatis.
"Mama!" Sahut Delia dengan nada tinggi.
"Bangun, Del. Kamu itu perempuan nggak bagus tidur terus."
Yasmin menarik kasar selimut Delia. Terlihat putrinya masih memakai baju dugemnya. Baju yang hanya sebatas diatas pusar. Yasmin membulatkan matanya menutup tubuh anaknya dengan handuk.
"Sekarang kamu mandi. Mama tunggu kamu di ruang tengah." Yasmin meninggalkan putrinya dari kamar.
Langkah Yasmin terhenti sejenak. Dia mulai memperhatikan postur tubuh anaknya. Bukan apa-apa, Yasmin memperhatikan postur tubuh Delia bukan seperti gadis biasa. Banyak bagian tubuh anaknya yang mengendur. Seperti tubuh orang yang sudah melahirkan. Tubuhnya di daratkan ke sofa ruang tengah.
__ADS_1
"Apa mungkin yang dibilang dokter ada benarnya?
Ya Allah apa yang sebenarnya pernah putriku alami. Kenapa kami sepertinya tidak peka dengan hal ini." Yasmin merasa cemas dengan pikiran tentang putrinya.
Jangan sampai apa yang aku alami dulu juga terjadi pada dirinya.
Yasmin teringat penyebab dia harus menjadi madu untuk tuan Shahab karena dirinya terlanjur berbadan dua. Tentu saja saat dia menyatakan kehamilannya Tuan Abdullah Shahab langsung mau bertanggungjawab. Meskipun dia pun harus beradaptasi dengan istri pertama suaminya. Yasmin bukan dari anak orang kaya, melainkan dari keluarga biasa. Kalau di bilang miskin juga tidak, kaya pun juga tidak.
Dia juga terpaksa menyerahkan tubuhnya dengan tuan Shahab karena hutang orangtuanya. Saat itu usia Yasmin masih 16 tahun. Namun siapa bilang dia bahagia, suaminya kerap main tangan kalau keinginan tak di turuti. Hingga saat dia sedang hamil besar, kekasaran Abdullah membuat Yasmin di rujuk ke rumah sakit. Nyawanya hampir melayang, sejak itulah suaminya berubah menjadi sayang padanya.
Kasih sayang suaminya pun berlimpah pada putrinya. Saking sayangnya, suaminya jadi overprotektif pada Delia. Membatasi pergaulan anaknya, termasuk mengatur jodoh Delia. Semua itu di mata Yasmin sebagai bentuk kasih sayang seorang ayah pada anaknya.
Yasmin melihat Delia sudah berdiri tak jauh darinya. Dia bingung bagaimana memulai untuk rasa penasarannya. Wanita usia 40 tahun tersebut menuntun anaknya untuk duduk di sebelahnya. "Mama mau ngomong, boleh?"
Delia hanya mengangguk mempersilahkan mamanya bicara. Yasmin pun memulai interogasi pada putrinya.
"Mama mau nanya? Apa ada yang kamu rahasiakan dari kami?"
"Ya, sudah kalau kamu tidak mau cerita tidak apa-apa. Mama bisa cari tahu sendiri. Mama punya beberapa kontak temanmu di London, eh siapa temanmu yang bule itu, Alex. Iya namanya Alex, mama masih punya kontaknya."
"Mama mau kontak dia seratus kali juga nggak akan nyahut. Alex itu sudah hilang kabar sebelum aku bermasalah di kampus dulu."
Yasmin ingat penyebab Delia di keluarkan dari kampus karena di fitnah. Apalagi pihak kampus katanya tidak mau mendengar alasan Delia. Entah benar atau tidak yang pasti Yasmin yakin ada di sembunyikan putrinya.
"Okelah kalau begitu. Siang ini mama mau ke restoran, kamu tahu teman arisan mama yang namanya Arumi." Delia menggeleng, manalah dia hapal dengan teman arisan mamanya.
"Memangnya kenapa, ma?"
"Dia mau pakai restoran kita buat reuni akbar angkatan SMA nya. Jadi kita harus mengintruksikan semua pegawai disana untuk mempersiapkan tempat. Kamu sudah mandi, kan. Sekarang ganti baju kamu, kita ke Resto."
Delia membulatkan matanya "Sekarang! mama aku masih capek, nih. Mama saja yang kesana."
__ADS_1
"Mama butuh teman berbagi pendapat. Kamu kan sarjana, gunakan ilmu kamu untuk bisnis. Sejak kamu pulang tiga bulan ini. Kamu kerjanya keluyuran terus. Pokoknya mama nggak mau tahu! kamu ikut sama mama ke restoran."
Delia hanya diam saja. Tampak dia malas melawan mamanya, mau tidak mau harus menuruti perintah. Delia pun pergi ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Yasmin hanya menggelengkan kepalanya melihat sifat anaknya.
"Kamu persis seperti papamu. keras kepala sekali, susah di kasih tahu."
Delia menatap dirinya didepan cermin. Senyumnya mengembang seakan ada membuatnya bahagia. Helaian rambutnya yang hitam di gerai saja. Setelah itu dia mengambil tas nya dan memasuki dompet serta handphone.
"Sebentar! Aku cuma mau ke resto mama jadi ngapain pake bawa dompet segala. Eh tapi bawa aja deh...buat jaga-jaga."
Yasmin dan Abdullah sudah duduk di meja makan. Mereka pun akhirnya sarapan bersama. Delia memandang mama dan papa dengan penuh bahagia. Keharmonisan keduanya menjadi sebuah momen berharga.
Akhirnya mereka sampai di restoran keluarga, setelah menembus macet apalagi hari ini adalah weekend. Yasmin dan Delia pun langsung turun dari mobil, serta langsung memasuki restoran.
Tak jauh dari mereka mobil milik Arumi pun berhenti di depan restoran. Mereka saling bersalaman saat bertemu di depan. Sebugai tuan rumah Yasmin pun menawari teman arisannya untuk masuk.
"Andre, kamu langsung pulang saja. Suami saya pasti menunggu." Perintah Arumi.
"Mama .. itu bukannya om Andre papanya Dira." Pekik Delia.
Wah, berita penting nih.
Klik
"Jadi kamu mau menerima perjodohan ini." Ucap Burhan saat Juna menghubunginya.
Burhan senang kalau akhir bisa menyatukan Juna dan cucunya. Sehingga dia mempercayakan Dira pada lelaki yang tepat.
"Oke, minggu depan kalian dipertemukan dan langsung tunangan. Bagaimana?"
"Tu...nangan ... Tapi kami saja baru bertemu bagaimana bisa langsung tunangan."
__ADS_1